Memahami Atonia Uteri pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Kevin Adrian

Atonia uteri adalah kondisi pada wanita di mana rahim gagal berkontraksi setelah persalinan bayi. Kondisi ini dapat mengakibatkan pendarahan pascapersalinan yang dapat membahayakan nyawa.

Setelah persalinan, untuk mencegah pendarahan, umumnya terjadi kontraksi untuk membantu menekan pembuluh darah yang menempel pada plasenta. Otot-otot rahim juga akan berkontraksi dan menegang untuk mengeluarkan plasenta. Jika otot rahim tidak cukup kuat melakukan kontraksi, maka akan terjadi perdarahan. Situasi ini memerlukan penanganan darurat untuk menghentikan pendarahan dan mengganti darah yang hilang.

atonia uterine-alodokter

Mengenal Atonia Uteri dan Risikonya 

Atonia uteri atau kegagalan rahim untuk berkontraksi adalah penyebab utama pendarahan pascapersalinan.  Sedangkan perdarahan pascapersalinan merupakan salah satu faktor utama penyebab kematian ibu. Atonia uteri dapat memicu pendarahan pascabersalin dengan ciri-ciri meningkatnya detak jantung, menurunnya tekanan darah, pendarahan yang banyak, serta nyeri pada punggung.

Kasus pendarahan pascapersalinan ini masih tinggi di negara-negara berkembang dengan penyebab yang belum dapat diketahui secara pasti. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang diduga mengganggu kemampuan otot rahim untuk berkontraksi, yaitu:

  • Persalinan yang sangat cepat atau sebaliknya persalinan yang sangat lama.
  • Persalinan dengan induksi.
  • Penggunaan obat bius umum, oksitosin, atau pun obat lain dalam persalinan.
  • Rahim yang terlalu teregang karena besarnya kehamilan.

Meski dapat dialami siapapun, tetapi beberapa wanita lebih berisiko mengalami atonia uteri, terutama mereka yang hamil di atas usia 35 tahun, melahirkan bayi kembar, memiliki bayi berukuran lebih besar dari rata-rata (makrosomia), mengalami obesitas, telah mengalami beberapa kali persalinan, riwayat persalinan macet, serta memiliki cairan ketuban terlalu banyak.

Selain kelelahan, anemia, dan hipotensi ortostatik, atonia uteri juga dapat menimbulkan komplikasi syok karena kurangnya volume darah, yang dapat mengancam nyawa.

Langkah Antisipasi dan Penanganan Atonia Uteri

Atonia uteri lebih sulit diprediksi dibanding penyebab pendarahan lain seperti kelainan pada plasenta, dan baru dapat terdeteksi segera setelah persalinan. Atonia uteri adalah keadaan serius yang perlu mendapatkan penanganan dan evaluasi ketat di rumah sakit.

Untuk mengupayakan persalinan yang aman, ibu hamil perlu mendapat pemeriksaan kehamilan rutin berkala dan melahirkan dengan bantuan tenaga medis yang ahli. Saat bersalin, dokter atau bidan akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah masih ada plasenta tertinggal dalam rahim dan mengevaluasi ada tidaknya penyebab pendarahan lain yang perlu diantisipasi.

Langkah penanganan atonia uteri yang dapat dilakukan meliputi:

  • Pemasangan infus dan transfusi darah sesegera mungkin untuk menghentikan pendarahan dan menggantikan darah yang hilang, serta observasi ketat oleh petugas medis.
  • Pemberian obat perangsang kontraksi rahim seperti oksitosin, prostaglandin, dan methylergonovine saat persalinan memasuki fase pengeluaran plasenta. Pemberian obat perangsang kontraksi rahim bisa diikuti dengan pemijatan rahim.
  • Jika langkah lain tidak membuahkan hasil, dokter dapat melakukan embolisasi pembuluh darah rahim dengan menyuntikkan zat tertentu untuk memblokir aliran darah ke rahim, atau melakukan operasi untuk mengikat pembuluh darah rahim.
  • Apabila seluruh upaya telah dilakukan namun masih belum dapat mengatasi perdarahan akibat atonia uteri, maka perlu dilakukan operasi pengangkatan rahim.

Atonia uteri tidak dapat selalu dicegah. Jika Anda mengalami satu atau beberapa faktor risiko di atas, maka Anda perlu segera mengonsultasikan kehamilan Anda kepada dokter. Mengonsumsi suplemen kehamilan secara teratur juga dapat membantu mencegah anemia dan komplikasi dari atonia uteri, yaitu pendarahan pascapersalinan.

Referensi