Memahami Fungsi Hormon Estrogen pada Tubuh Wanita

Banyak fungsi estrogen untuk tubuh wanita. Sebagian wanita dengan beberapa kondisi tertentu, kemungkinan membutuhkan tambahan hormon estrogen.

Organ tubuh yang memproduksi hormon estrogen adalah ovarium. Selain itu, kelenjar adrenal juga memproduksi hormon ini dalam jumlah kecil. Pada masa kehamilan, hormon estrogen juga diproduksi di plasenta. Meski identik dengan wanita, hormon estrogen pun diproduksi pada tubuh pria dalam jumlah terbatas, yaitu di kelenjar adrenal dan testikel.

fungsi hormon estrogen - alodokter

Jenis-Jenis Estrogen

Fungsi hormon estrogen adalah mengatur perkembangan seksual pada wanita. Hormon khusus wanita ini diproduksi oleh tubuh dan memberi kontribusi pada siklus menstruasi, pertumbuhan dan perkembangan payudara, serta berhubungan dengan kehamilan.

Ada tiga jenis hormon estrogen dengan fungsi yang berbeda-beda, tapi masih saling berhubungan.

Pada kondisi normal, hormon estrogen jenis estradiol paling umum ditemukan. Sepanjang siklus haid, estradiol dalam darah seorang wanita kadarnya berbeda-beda. Kadar estradiol menjadi rendah tetapi konstan setelah seorang wanita menopause.

Jenis hormon estrogen yang kedua yaitu estriol. Hormon estrogen ini diproduksi oleh plasenta pada masa kehamilan. Meskipun diproduksi dalam jumlah besar, estriol baru dapat ditemukan pada usia kehamilan sembilan minggu. Hormon ini akan terus meningkat, hingga persalinan.

Terakhir, hormon estrogen jenis estron. Hormon estrogen jenis ini dapat menjadi penanda tingkat estrogen pada wanita yang telah memasuki masa menopause. Estron juga digunakan untuk mengukur estrogen pada wanita yang mengalami kanker ovarium dan pada pria yang mengalami kanker testikel. Kanker kelenjar adrenal juga dapat dideteksi menggunakan hormon estrogen tipe ini.

Jumlah normal estrogen akan berbeda pada tiap kondisi. Berikut adalah petunjuk kisaran normal estrogen:

  • Pada wanita sebelum menopause: 60-400 picogram per militer (pg/mL)
  • Pada wanita setelah menopause: kurang dari 130 pg/mL
  • Pada pria: 10-130 pg/mL
  • Anak-anak: kurang dari 25 pg/mL

Berkurangnya Estrogen pada Masa Menopause

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, menjelang masa menopause, produksi estrogen oleh ovarium akan berkurang. Jika diperlukan, dokter akan memberikan resep berupa hormon estrogen. Pemberian estrogen akan membantu mengurangi tanda-tanda menopause, seperti pusing, menggigil, keringat yang tidak biasa, rasa panas (hot flashes) bahkan pingsan.

Dengan kata lain, gejala menopause dapat dikurangi dengan terapi estrogen, dengan atau tanpa pemberian progesteron. Data dari beberapa penelitian membuktikan terapi estrogen dapat mengurangi gejala rasa panas sebesar 65-90%.

Penelitian-penelitian tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan hasil dari penggunaan jenis estrogen yang berbeda.

Kondisi Lain yang Membutuhkan Tambahan Estrogen

Mengingat pentingnya fungsi hormon estrogen pada tubuh, kekurangan hormon tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Selain untuk mengurangi gejala menopause, ada beberapa kondisi lain yang membutuhkan terapi atau tambahan hormon estrogen, seperti:
  • Jumlah estrogen yang diproduksi tubuh tidak cukup.
  • Terlambatnya masa pubertas pada wanita, terutama perkembangan organ seksualnya.
  • Terjadinya radang vagina (atrophic vaginitis).
  • Adanya kelainan pada kulit kelamin (vulvar atrophy).
  • Adanya masalah ovarium seperti hipogonadisme atau kegagalan serta pengangkatan indung telur.
  • Membantu mencegah terjadinya pengeroposan tulang (osteoporosis) ketika wanita memasuki masa menopause.
  • Ketika masa pengobatan kanker payudara baik pada wanita maupun pria
  • Ketika masa pengobatan kanker prostat pada pria.
Konsultasikan pada dokter mengenai perlu atau tidaknya melakukan pemeriksaan estrogen. Jika diperlukan, dokter akan meminta pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan tindakan yang tepat.