Memahami Malnutrisi Energi-Protein dan Risikonya

Pernahkah Anda mendengar penyakit malnutrisi energi-protein? Kendati asing di telinga Anda, penyakit ini cukup sering dijumpai. Penyakit malnutrisi energi-protein atau MEP didefinisikan sebagai asupan energi dan protein yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tubuh Anda. Jangan anggap sepele penyakit ini, karena pasalnya, malnutrisi energi-protein dapat dialami oleh bayi, anak-anak, dan juga orang dewasa.

Malnutrisi atau kekurangan gizi adalah masalah gizi yang umum ditemukan di seluruh dunia. WHO atau badan kesehatan dunia memperkirakan sekitar 181,9 juta atau 32 persen anak yang tinggal di negara berkembang mengalami malnutrisi atau busung lapar, dan sekitar 5 juta kasus kematian anak di bawah usia 5 tahun di daerah tersebut disebabkan oleh malnutrisi.

Energy and protein malnutrition

Makanan menyediakan energi dan nutrisi yang Anda butuhkan untuk membuat Anda menjadi sehat. Jika Anda tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, Anda akan menderita kekurangan gizi, salah satunya yakni malnutrisi energi-protein.

Penyebab dan Jenis Malnutrisi Energi-Protein

Tubuh Anda membutuhkan kalori, protein, dan keseluruhan nutrisi umum untuk berfungsi dengan baik. Tanpa nutrisi tersebut, otot Anda akan terbuang, tulang menjadi rapuh, dan pikiran Anda pun menjadi tidak fokus.

Malnutrisi adalah kondisi serius yang terjadi bila pola makan seseorang tidak mengandung nutrisi dalam jumlah yang tepat. Penyebab terjadinya malnutrisi meliputi kurangnya nutrisi tertentu di dalam makanan Anda, bahkan kekurangan satu vitamin pun bisa menyebabkan terjadinya malnutrisi. Selain itu, menu makanan yang tidak seimbang dan masalah medis tertentu, seperti kanker dan sindrom malabsorpsi, juga dapat menyebabkan Anda terkena malnutrisi.

Malnutrisi energi-protein dapat menyebabkan gangguan metabolisme. Tubuh Anda sangat membutuhkan energi dan protein untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh dan juga untuk membentuk jaringan tubuh. Setiap sel dalam tubuh Anda mengandung protein. Anda membutuhkan protein dalam makanan agar tubuh dapat memperbaiki dan membentuk sel baru. Tubuh manusia yang sehat mampu meregenerasi sel secara terus-menerus. Tanpa protein yang cukup, luka atau kerusakan lain pada jaringan tubuh tidak dapat sembuh dengan mudah. Selain itu, protein juga sangat penting untuk pertumbuhan selama masa kanak-kanak dan kehamilan. Jika kekurangan protein, pertumbuhan dan fungsi tubuh secara normal akan terhambat.

Malnutrisi energi-protein dibagi menjadi dua jenis, yakni marasmus dan kwashiorkor, berikut penjelasannya:

  • Marasmus
    Marasmus adalah bentuk malnutrisi yang parah. Penyakit ini bisa terjadi pada siapa saja yang memiliki gizi buruk, namun biasanya lebih sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini umumnya terjadi di negara-negara berkembang atau daerah konflik di mana angka kemiskinan dan kelaparan masih cukup tinggi. Penyebab penyakit ini di antaranya anak-anak kekurangan asupan kalori dalam bentuk protein, karbohidrat dan lemak, serta nutrisi penting lainnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kemiskinan dan kelangkaan makanan. Gejala utama penyakit ini adalah berbadan kurus, anak-anak dengan kondisi ini telah kehilangan banyak massa otot dan lemak subkutan (lapisan lemak yang berada di bawah kulit). Selain itu, seseorang yang mengalami penyakit ini akan memiliki kulit yang kering dan rambut yang rapuh. Malnutrisi energi-protein marasmus dapat mengancam nyawa seseorang. Anak-anak yang mengalami kondisi ini juga akan bisa menderita diare kronis, dehidrasi, infeksi pernapasan, hambatan intelektual, dan pertumbuhan kerdil (stunted). Biasanya, mereka mungkin akan terlihat lebih tua dan tidak memiliki energi atau antusiasme untuk apa pun. Selain itu, penyakit ini dapat menyebabkan penderitanya menjadi lebih mudah marah dan tersinggung.
  • Kwashiorkor
    Kwashiorkor adalah bentuk malnutrisi lain yang dapat mengancam jiwa dan melemahkan tubuh. Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan protein dalam makanan. Kwashiorkor juga dikenal sebagai edematous malnutrition, karena malnutrisi jenis ini ada hubungannya dengan edema (retensi cairan), dan merupakan gangguan gizi yang kerap terjadi di daerah yang mengalami kelaparan. Orang yang mengalami kwashiorkor biasanya memiliki penampilan yang sangat kurus di semua bagian, kecuali pergelangan kaki, bagian kaki, dan perut yang membengkak dengan cairan. Kebanyakan orang yang mengalami penyakit ini dapat sembuh total jika mereka dirawat lebih awal. Pengobatannya melibatkan penambahan ekstra kalori dan protein ke dalam makanan. Anak-anak yang mengalami malnutrisi jenis ini bisa tidak tumbuh atau berkembang dengan baik, dan ada kemungkinan tetap terhambat perkembangannya sepanjang sisa hidup mereka. Jika tidak diobati, malnutrisi ini juga dapat mengancam nyawa penderitanya, karena dapat menyebabkan kegagalan organ-organ utama dan akhirnya menyebabkan koma, dehidrasi berat, hingga kematian. Beberapa gejala yang ditimbulkan oleh malnutrisi energi-protein jenis kwashiorkor meliputi perubahan warna kulit dan rambut serta teksturnya (rambut berwarna kecokelatan dan rapuh seperti rambut jagung), kulit kering, merasa kelelahan, diare, kehilangan massa otot, kegagalan bertambahnya berat badan atau pertumbuhan, dan gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan infeksi terjadi lebih sering dan parah.

Malnutrisi energi-protein juga dapat terjadi pada beberapa kondisi seperti trauma atau infeksi berat, cedera saraf tulang belakang, infeksi kronis, diabetes, gagal ginjal, penyakit Crohn, gangguan menelan, gangguan makan seperti bulimia, anoreksia, efek samping pengobatan seperti kemoterapi,  depresi berat, lansia dengan perawatan atau kesehatan yang buruk, dan infeksi HIV.

Untuk mendiagnosis dan menentukan permasalahan medis yang terdapat pada penderita, dokter akan melakukan pemeriksaan status gizi dengan menghitung indeks massa tubuh (Body Mass Index/BMI) dan pemeriksaan fisik secara umum. WHO menganjurkan juga pemeriksaan: gula darah, pemeriksaan feses, darah lengkap, analisis dan kultur urine, kadar albumin, elektrolit, serta VCT dan pemeriksaan HIV. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan penyebab malnutrisi dan kemungkinan penyakit penyerta lain yang dapat semakin parah karena masalah gizi.

Malnutrisi energi-protein, baik jenis marasmus maupun kwashiorkor, dapat diobati dengan meningkatkan asupan kalori secara perlahan dan melalui pemberian makanan dalam porsi kecil tapi sering. Dokter mungkin akan menambahkan protein cair jika penderitanya mengalami masalah dalam mencerna makanan. Dokter juga akan merekomendasikan suplemen multivitamin dan meresepkan obat untuk meningkatkan nafsu makan. Jika gejala yang dialami pasien terlampau parah, maka rawat inap mungkin diperlukan untuk memberi cairan dan mengobati penyakit komplikasi lain akibat malnutrisi seperti infeksi dan dehidrasi. Pada orang dengan gangguan menelan atau kondisi medis lain, pemasangan pipa nasogastrik juga bisa dilakukan guna memberi cairan dan makanan ke dalam lambung untuk memberi nutrisi. Beberapa jenis nutrisi, seperti albumin, dapat diberikan melalui infus.

Pemberian asupan kalori dan nutrisi pada masalah gizi ini perlu dilakukan secara bertahap dan sesuai kemampuan tubuh dalam mencerna dan mengolahnya. Pemberian gizi yang terlalu tinggi atau cepat dan tidak sesuai dengan kemampuan tubuh penderita untuk mengolah gizi, akan memperparah kondisi penderita. Keadaan ini disebut refeeding syndrome, dan merupakan kondisi berat yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Kondisi ini juga bisa terjadi pada penderita anoreksia dengan penanganan pola makan yang kurang tepat. Pemberian makanan dan obat-obatan akan dijadwalkan oleh dokter dan ahli gizi untuk memperbaiki kondisi umum dan status gizi penderitanya secara bertahap.

Cara terbaik untuk mencegah diri Anda dan juga keluarga dari penyakit malnutrisi energi-protein adalah dengan mengonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang dan juga sehat. Anda perlu memakan banyak buah dan sayuran, roti, nasi, kentang, dan makanan bertepung lainnya. Selain itu, beberapa susu dan produk olahan susu, daging, ikan, telur, kacang-kacangan, dan sumber protein non-susu juga dapat mencegah Anda terkena penyakit ini.

Jika Anda, anak, atau keluarga Anda mengalami beberapa gejala malnutrisi energi-protein di atas, segera konsultasikan pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pada anak-anak masalah gizi bukanlah masalah yang sepele, karena dapat memengaruhi masa depan dan kehidupannya.