Memahami Operasi Vagina dan Risiko yang Menyertainya

Ditinjau oleh: dr. Kevin Adrian

Operasi vagina adalah istilah umum untuk berbagai prosedur pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki penampilan, fungsi vulva, hingga demi mendapatkan kepuasan seksual.

Dalam dunia medis dan estetika, ada beragam prosedur operasi vagina yang ditawarkan para ahli bedah. Di antaranya adalah labiaplasty, vaginoplasty, hymenoplasty, perineoplasty, labia minora plasty, labia mayora plasty, penambahan labia mayora, operasi pengurangan klitoris, hingga penambahan G-spot.

Penting bagi Anda memahami perbedaan antara operasi vagina bedah rekonstruktif dan operasi kosmetik. Pembedahan rekonstruktif bertujuan untuk memperbaiki fungsi bagian tubuh, sementara operasi kosmetik mengubah estetika anatomi normal untuk tujuan memperbaiki penampilan.

Ragam Operasi Vagina yang Perlu Anda Ketahui

Adapun beragam prosedur operasi vagina meliputi:

  • Labiaplasty. Prosedur operasi vagina ini bertujuan untuk mengubah ukuran atau bentuk labia (bibir vagina) baik labia minora (bibir vagina bagian dalam) dan labia mayora (bibir vagina bagian luar). Tujuan operasi ini cenderung untuk mengecilkan ukuran bibir vagina bagian dalam agar tidak menonjol melebihi bibir vagina bagian luar, atau untuk memperbaiki bibir vagina yang berbeda secara signifikan baik dalam hal ukuran dan panjangnya. Umumnya, para wanita melakukan labiaplasty karena labia mengalami iritasi dan gatal, adapula yang melakukannya untuk alasan kenyamanan saat beraktivitas seperti bersepeda, atau karena alasan malu dengan bentuk labianya.
  • Vaginoplasty. Prosedur operasi vagina yang bertujuan untuk mengencangkan vagina yang kendur akibat persalinan ataupun penuaan. Beberapa ahli bedah mengklaim bahwa prosedur ini dapat meningkatkan kepekaan vagina. Vaginoplasty dilakukan dengan membuang jaringan berlebih pada lapisan vagina untuk mengencangkan daerah bagian dalam vagina, dan membuat lubang vagina lebih kecil.
  • Hymenoplasty. Prosedur operasi vagina ini adalah untuk merekonstruksi selaput dara, yaitu selaput tipis yang menutupi pintu masuk vagina ketika masih perawan. Tepi selaput dara yang robek dihubungkan kembali sehingga ketika terjadi hubungan seksual, selaput akan robek dan berdarah seperti saat masih perawan. Operasi vagina ini didominasi oleh alasan budaya, namun juga populer sebagai prosedur peremajaan vagina bagi perempuan yang ingin kembali seperti perawan.
  • Penambahan labia mayora. Prosedur operasi vagina yang bertujuan untuk mempercantik dan menebalkan bibir luar vagina dengan menyuntikan jaringan lemak yang diambil dari bagian tubuh lainnya. Prosedur ini juga bisa menggunakan asam hyaluronat untuk memperbaiki bentuk vagina.
  • Vulval lipoplasty. Prosedur operasi vagina yang dilakukan dengan menyedot lemak untuk menghilangkan timbunan lemak pada mons pubis (lapisan jaringan lemak yang ditutupi rambut kemaluan)
  • Penambahan G-spot. Prosedur operasi vagina untuk memperbesar ukuran G-spot wanita. Operasi yang bertujuan untuk meningkatkan rangsangan dan kepuasan seksual wanita ini dilakukan dengan menyuntikan zat kolagen atau lemak ke dalam G-spot. Seperti diketahui, G-spot merupakan titik rangsangan yang sangat sensitif pada wanita yang dapat membuat wanita bergairah dan cepat mencapai orgasme.
  • Clitoral unhooding atau Operasi Klitoris. Prosedur operasi vagina untuk mengurangi jaringan atau kelenjar di klitoris. Operasi ini bertujuan untuk memberi stimulasi lebih sehingga meningkatkan kepuasan seksual wanita.

Operasi vagina yang umumnya banyak dilakukan adalah labiaplasty. Dalam kaidah medis, operasi vagina yang memang perlu dilakukan mencakup operasi pemotongan dan perbaikan alat kelamin perempuan akibat pertumbuhan bibir vagina yang tidak sejajar karena kondisi bawaan, iritasi kronis, atau hormon androgenik yang berlebihan. Prosedur lain yang terkait peremajaan vagina dan penambahan G-spot hingga kini belum terbukti secara medis efektivitas dan keamanannya.

Selain manfaat, operasi vagina juga memiliki beberapa risiko termasuk risiko akibat tindakan anestesi (pembiusan), pendarahan, infeksi, dan timbulnya jaringan parut. Risiko lain dari operasi vagina meliputi:

  • Kerusakan saraf sekitar vagina dan hilangnya sensasi.
  • Perubahan warna vagina yang permanen.
  • Sakit saat berhubungan seksual.
  • Perubahan gairah seksual.
  • Kerusakan di area kelamin.
  • Bibir vagina menjadi tidak sejajar.
  • Penggumpalan darah.

Untuk itu, bagi wanita yang ingin melakukan operasi vagina disarankan untuk mempertimbangkan kembali keinginan serta tujuan melakukan operasi. Konsultasikan secara jelas kepada dokter terkait keinginan Anda tersebut dan risikonya, serta konsultasikan pula pilihan lain yang bisa dilakukan selain operasi vagina. Misalnya, masalah vagina yang kendur bisa diatasi dengan cara senam Kegel.

Jika keputusan Anda sudah bulat untuk melakukan operasi vagina, maka pastikan dilakukan oleh dokter bedah profesional dan berpengalaman, setelah Anda menyadari sepenuhnya risiko dan manfaat yang telah dijelaskan oleh dokter mengenai prosedur operasi vagina.

Referensi