Memahami Perilaku Menyimpang pada Anak

Tidak sedikit orang tua yang menyadari perubahan perilaku pada anak ketika mereka berada pada rentang usia tertentu, atau ketika beranjak dewasa. Anak menjadi lebih sering membantah orang tua atau bahkan berbohong. Jika tidak segera dikenali penyebabnya, perilaku menyimpang pada anak bisa berujung pada kenakalan remaja atau tindak kejahatan di masa dewasanya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang adalah tanggapan, perbuatan, atau tingkah laku seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan hukum dan norma-norma yang ada di dalam masyarakat. Perilaku menyimpang dikenal juga dengan penyimpangan sosial dan pelakunya disebut dengan deviant. Contoh-contoh perilaku menyimpang pada anak antara lain berbohong, menyontek, dan mencuri.

Behavior disorderdeviant in children - alodokter

Sebuah penelitian menemukan bahwa perilaku menyimpang berkembang semenjak anak masih berusia sangat muda, dan berhubungan erat dengan kedekatan anak dengan orang tua. Besaran perbandingan ini lebih besar dibanding perilaku menyimpang yang berkembang di usia dewasa. Selain usia dan faktor orang tua, terdapat juga faktor lain yang menyebabkan anak memiliki perilaku menyimpang, yaitu lingkungan sosial.

Para peneliti juga menemukan hubungan antara kecerdasan anak dan orang tua, serta pengetahuan orang tua sangat berpengaruh pada impulsivitas kognitif dan perkembangan perilaku menyimpang pada anak-anak. Penelitian lain menyebutkan gaya pengasuhan dan hubungan baik antara orang tua dan anak berdampak positif pada anak yang gemar mengonsumsi minuman beralkohol, ganja, dan melakukan kejahatan. Lalu seperti apa perilaku anak yang dianjurkan untuk diwaspadai sejak dini dan bagaimana orang tua menanganinya?

Perilaku Menyimpang pada Anak dan Cara Mengatasinya

Anda mungkin sudah menyadari dan terganggu dengan perubahan perilaku anak yang sepertinya telah menjadi kebiasaan barunya. Misalnya mengganggu orang lain atau tidak memperhatikan ketika Anda sedang berbicara dengan orang lain. Walau mungkin membuat “gemas”, kesal dan lelah, namun Anda tidak boleh menyerah atau menghiraukan perilaku yang satu ini. Jika dibiarkan terus menerus, anak tidak akan belajar untuk peka, tenggang rasa, dan perhatian terhadap orang lain. Anak juga akan merasa perlu mendapatkan perhatian terus-menerus dan tidak memiliki kemampuan untuk mentolerir frustrasi.

Yang perlu Anda lakukan adalah mengajarkannya untuk diam atau tidak mengganggu ketika Anda sedang berbicara, lalu memintanya untuk bermain dengan mainan yang telah Anda siapkan untuknya. Jika ia memegangi lengan Anda selama Anda berbicara, tunjuklah sebuah kursi atau anak tangga dan mintalah ia untuk menunggu dengan tenang hingga Anda selesai berbicara. Setelah itu, beri tahu ia kalau ia tidak akan mendapatkan permintaannya karena telah mengganggu Anda berbicara.

Membiarkan anak tidak mendengarkan ketika Anda memintanya untuk melakukan sesuatu juga dapat membuatnya menjadi anak yang suka menantang dan mengendalikan segala sesuatu. Cara menghentikan perilaku ini menjadi kebiasaan adalah dengan menghampirinya, menyebut namanya, menatapnya langsung, hingga ia membalas tatapan Anda lalu menyampaikan bahwa ia harus melakukan yang Anda minta dan menunggunya hingga ia menjawab. Jika anak masih tidak mendengarkan juga, maka Anda bisa menerapkan konsekuensi. Misalnya ia akan kehilangan jadwal menonton filmnya untuk hari itu.

Jika Anak mulai memukul atau bermain terlalu kasar dengan temannya, atau bahkan tindakan agresif yang lebih halus seperti mencubit atau mendorong saudaranya, segera ikut campur. Perilaku ini dapat berkembang menjadi kebiasaan yang mengakar pada usia 8 tahun. Tarik anak ke samping dan katakan padanya kalau hal itu menyakitkan dan tidak diperbolehkan, lalu tanya bagaimana perasaannya jika itu terjadi padanya.

Bantulah ia menyampaikan perasaannya dan latihlah apa yang bisa ia katakan jika ia merasa marah atau menginginkan giliran bermain. Ingatkan dia sebelum acara bermain selanjutnya dan akhiri permainan jika ia melakukannya lagi.

Anak yang memiliki gangguan perilaku di sekolah biasanya memiliki perasaan yang kuat dan butuh bantuan untuk menyalurkan perasaan itu. Bisa juga ada sesuatu di sekolah yang mengganggunya, misalnya ada teman yang merundungnya atau mengejeknya. Anak-anak memang lebih sensitif dari dugaan Anda, dan dia terus menerus mencari cara untuk mengeluarkan apa yang ia rasakan. Dia bisa mudah marah hanya karena hal sederhana, misalnya Anda tidak menggunakan telur untuk makan siangnya.

Yang bisa Anda lakukan adalah mencoba bertanya atau membiarkannya menangis, karena hanya cara itulah yang mereka tahu untuk meluapkan perasaan yang mungkin tidak berhubungan dengan menu makan siangnya. Luangkan juga waktu bersama anak, misalnya berpelukan atau bermain di tempat tidur sebelum ia bersiap-siap untuk sekolah. Mendengarkan anak dan gunakan serta manfaatkan waktu ini untuk mencari tahu hal apa yang meresahkannya, atau menanyakan bagaimana hari-harinya secara keseluruhan.

Umumnya perilaku menyimpang pada anak merupakan cerminan dari pola asuh dan kondisi psikologis anak. Sebaik apa pun pola asuh anak dan hubungan dengan orang tua, banyak faktor yang dapat memicu anak untuk berperilaku menyimpang. Faktor ini terutama dipicu stres pada anak atau terdapat masalah lain yang ia rasakan. Orang tua perlu peka dan peduli terhadap anak dan perasaannya.

Sebagai orang tua, Anda juga bisa memperkaya diri dengan berbagai informasi pengasuhan anak yang bisa diterapkan di rumah. Ingatlah bahwa tumbuh kembang anak bermula di rumah dan peran aktif orang tua sangat besar dampaknya bagi masa depan anak dan orang-orang di sekelilingnya. Jika Anda menyadari ada perilaku menyimpang pada anak, jangan ragu untuk berkonsultasi pada ahli, yaitu psikiater atau psikolog anak.