Menanti Vaksin Pencegah Demam Berdarah Dengue

Indonesia merupakan negara ke dua di dunia dengan jumlah kasus demam berdarah tertinggi. Tak heran, kehadiran vaksin demam berdarah dengue (DBD) diperlukan untuk mencegah dan mengendalikan jumlah kasus yang terjadi.

Setelah diperkenalkan pada beberapa tahun silam, vaksin DBD akhirnya sudah bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia. Sejak September 2016, BPOM sudah meresmikan penggunaan vaksin DBD untuk pencegahan dan pengendalian penyakit demam berdarah.

Menanti Vaksin Pencegah Demam Berdarah Dengue-Alodokter

Endemi Demam Berdarah

DBD disebabkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi oleh salah satu dari empat tipe virus dengue. Penyakit ini ditandai demam tinggi yang muncul pada tiga hari hingga dua pekan setelah gigitan. Sekitar 75 persen penduduk dunia yang paling berisiko mengidap penyakit ini bermukim di negara-negara Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

Pada 2013, Angka Kesakitan atau Incidence Rate (IR) DBD di Indonesia mencapai 41,25 per 100.000 penduduk. Pada kondisi yang lebih parah, DBD membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada tahun 2013, Laju Kematian atau Case Fatality Rate (CFR) DBD di Indonesia adalah 0,7 persen dari total penderita.

Perkembangan Vaksin DBD

Vaksin dengue telah mulai dikembangkan sejak era 1940-an dan baru mengalami perkembangan pesat pada satu dekade terakhir.

Umumnya sebuah vaksin baru dapat resmi digunakan setelah bertahun-tahun diuji melalui empat tahap: satu tahap praklinis dan tiga tahap uji klinis untuk membuktikan keefektifan dan keamanannya. Vaksin baru dinyatakan lulus uji dan diberi sertifikasi setelah terbukti cukup efektif mencegah DBD dan tidak mendatangkan risiko yang membahayakan pasien.

Salah satu jenis vaksin dengue yang paling umum adalah dalam bentuk virus dengue yang telah dilemahkan. Vaksin berisi virus yang sudah dilemahkan ini bermanfaat membangkitkan kekebalan tubuh manusia tanpa menyebabkan penyakit.

Perlu diketahui, DBD dapat disebabkan oleh empat jenis virus berbeda (DEN1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4), maka dibutuhkan vaksin yang dapat secara efektif mencegah infeksi keempat tipe tersebut, atau disebut vaksin tetravalen. Vaksin DBD yang kini beredar di Indonesia sudah memasuki tahap uji klinis ke tiga dan diketahui dapat memberikan kekebalan terhadap empat jenis virus tersebut.

Berdasarkan penelitian terakhir, vaksin demam berdarah ini dapat menurunkan risiko perawatan rumah sakit dan mengurangi risiko menderita demam berdarah yang berat secara signifikan, terutama pada pada anak dengan usia lebih dari 9 tahun.  Untuk tingkat keamanan, vaksin demam berdarah ini terbukti memiliki keamanan yang baik dan tidak ditemukan efek samping yang berat terhadap pengguna vaksin.

Meski kini vaksin demam berdarah sudah tersedia, bukan berarti vaksin DBD menjadi satu-satunya cara untuk mencegah seseorang terjangkit penyakit demam berdarah. Sebaiknya tetap lakukan langkah pencegahan DBD, seperti menghindarkan dari dari gigitan nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.