Kenali Tanda Penyakit Bayi Berbahaya dan Cara Menanganinya

Bayi yang belum bisa bicara dan sering menangis kerap membuat orang tuanya bingung untuk mendeteksi, apakah dia hanya sedang lapar, mengantuk, atau benar-benar sedang sakit. Kenali tanda-tanda penyakit bayi yang serius lebih awal.

Penyakit bayi yang berbahaya akan lebih mudah ditangani jika segera mendapat pertolongan. Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting untuk dapat mengenali gejala-gejala awal yang tidak biasa pada bayi.

Penyakit Serius Bayi-Alodokter

 

Mengenali dan Mengantisipasi Gejala Umum

Agar dapat mengenali gejala-gejala penyakit serius pada bayi lebih awal, maka langkah pertama adalah tidak panik dalam mengamati gerak-gerik bayi Anda. Cermati perubahan-perubahan umum di bawah ini dengan saksama.

  • Tangisannya terdengar tidak biasa dan terjadi terus menerus. Bisa kencang dengan nada yang sangat tinggi atau sebaliknya yang terdengar adalah tangisan lemah.
  • Tubuh bayi terkulai saat diangkat atau bayi tampak lebih sering mengantuk dari biasanya.
  • Wajah bayi tampak pucat, berbintik-bintik, atau pun berjerawat.
  • Muntah dalam jumlah banyak, apalagi jika muntahnya berwarna hijau.
  • Tidak mau menyusu atau makan seperti biasanya.
  • Lebih sedikit urine pada popoknya atau terdapat darah pada tinjanya.
  • Suhu tubuhnya di atas 38 derajat Celcius terutama pada bayi di bawah usia 3 bulan, atau sebaliknya, di bawah 36 derajat.
  • Suhu tubuh tinggi, tapi kaki dan tangan terasa dingin.
  • Suhu tubuh tidak kunjung turun setelah bayi diberi obat penurun panas.
  • Susah bernapas, napasnya pendek, atau pun terdengar bunyi tidak biasa saat bernapas.
  • Muncul ruam berwarna ungu kemerahan yang tidak hilang setelah digulirkan gelas di atasnya.
  • Bayi mengalami kejang untuk pertama kalinya.
Beberapa bayi baru lahir dengan kondisi tertentu lebih berisiko mengalami penyakit serius dibanding yang lain. Beri perhatian ekstra pada bayi jika ibu atau bayi mengalami kondisi-kondisi di bawah ini:
  • Bayi lahir sebelum 37 minggu dalam kandungan.
  • Sang ibu mengidap penyakit streptokokus grup B.
  • Pernah memiliki bayi yang mengidap streptokokus grup B.
  • Sang ibu mengalami infeksi atau demam 24 jam sebelum atau setelah melahirkan.
  • Ketuban ibu pecah lebih dari 18 jam sebelum bayi lahir, terutama jika bayi lahir 37 minggu kehamilan.
  • Ibu menerima antibiotik yang diberikan melalui infus ke pembuluh darah.
Selain itu, waspadai jika bayi berusia kurang dari 3 bulan yang mengalami demam >38C. Sebaiknya, segera periksakan ia ke dokter atau dibawa ke UGD.

Jenis-jenis Penyakit Bayi dan Cara Penanganan

Terdapat beberapa jenis penyakit serius yang berisiko terjadi pada bayi. Ikuti firasat Anda dan kenali penyakit berikut gejala-gejala berikut ini yang dapat membahayakan bayi, serta cara menanganinya.

  • Diare adalah kondisi saat bayi buang air dalam bentuk cair dan terlalu sering akibat infeksi virus, bakteri, atau alergi. Jika tidak segera ditangani, diare dapat menyebabkan dehidrasi yang membahayakan nyawa bayi.

Gejala: memang agak sulit membedakan gejala diare dengan buang air biasa pada bayi yang disusui. Cermati jika tinjanya lebih cair dan lebih sering dari biasanya. Popok yang kering, mulut dan mata kering, serta tubuh lemas dapat menjadi tanda bayi mengalami dehidrasi akibat diare.

Penanganan: jika tak kunjung membaik, bawa ke dokter, terutama jika ia juga mengalami demam, diare berdarah, muntah, dan sakit perut. Dokter mungkin akan merekomendasikan cairan elektrolit.

  • Respiratory syncytial virus (RSV) adalah virus penyebab infeksi saluran pernapasan yang sering menyerang bayi di bawah satu tahun. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada bayi prematur.

Gejala: demam rendah, batuk, pilek, dan napas bayi terdengar berbunyi.

Penanganan: bawa bayi ke luar ruangan selama beberapa saat untuk menghirup udara segar. Hindarkan polusi seperti asap rokok di sekitar bayi. Namun, segera bawa Si Kecil ke dokter jika gejala-gejala ini terlihat saat ia berusia di bawah 3 bulan.

  • Otitis media adalah infeksi telinga yang terjadi ketika kuman berkembang dalam tumpukan cairan pada telinga bagian tengah.

Gejala: bayi mungkin akan rewel, menangis saat makan atau disusui, tidak mau berbaring dan sering terbangun karena merasa sakit pada telinga.

Penanganan: tegakkan tubuhnya agar cairan dapat mengering. Bayi yang disusui juga terbukti lebih tidak berisiko mengalami infeksi telinga. Selain itu, hindarkan bayi dari polusi seperti asap rokok dan debu. Tetapi yang terpenting adalah memeriksakan Si Kecil ke dokter karena infeksi yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

  • Diabetes pada anak

Diabetes pada bayi dapat terjadi ketika ibu memiliki kadar gula tinggi saat hamil.

Gejala: bayi lahir dengan ukuran yang jauh lebih besar dari umumnya, bayi mengalami kuning, lemas, bahkan kejang, kulit kebiruan, detak jantung cepat, napas pendek, wajah bengkak, hingga tremor.

Penanganan: jika diketahui di awal, dokter dapat memberikan tindakan penanganan khusus. Setelah lahir, kadar gula darah bayi perlu diperiksa terus menerus. Segera menyusui bayi setelah lahir adalah salah satu langkah untuk mencegah kadar gula darah terlalu rendah.

  • Retinoblastoma adalah tumor bersifat ganas pada retina yang dapat terjadi sejak dalam kandungan, pada saat bayi baru lahir, hingga balita. Penyakit bayi ini paling sering terjadi pada usia 12–18 bulan.

Gejala: pupil mata bayi tampak putih, terkadang baru tampak saat difoto. Dapat juga terjadi pupil tampak kemerahan atau lebih besar dari normal, serta buruknya penglihatan.

Penanganan: segera bawa ke dokter spesialis mata untuk mendapatkan  penanganan yang tepat.

  • Meningitis adalah peradangan akibat infeksi virus maupun bakteri pada membran antara selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang.

Gejala: leher kaku, demam tinggi, sakit kepala yang sangat parah, muntah, sensitif terhadap cahaya, kebingungan, ruam kemerahan, mengantuk, tidak mau makan dan minum.

Penanganan: segera periksakan ke dokter jika terdapat tanda-tanda meningitis pada bayi.

Catat tanggal dan perubahan-perubahan yang terjadi untuk memudahkan diagnosis. Simpan dan bawa buku rekam medis anak setiap kali memeriksakan Si Kecil ke dokter.

Kapan Bayi Harus Dibawa ke UGD

Anda mungkin kesulitan dalam menentukan kapan harus membawa Si Kecil ke UGD. Berikut ini adalah beberapa situasi yang dapat menjadi panduan Anda mengambil keputusan. Hubungi ambulans atau segera antarkan bayi Anda ke IGD jika dia: keracunan, mengalami perdarahan yang tidak dapat dihentikan, kejang, sesak napas, pingsan, anggota badan terpotong, terbakar, hampir tenggelam, bibir atau kulit tampak pucat, jatuh atau terbentur dengan kondisi serius, merasakan sakit perut yang amat sangat.

Tetap tenang adalah kunci utama untuk menangani penyakit bayi yang serius. Untuk berjaga-jaga, selalu tempatkan nomor-nomor telepon dokter anak, rumah sakit terdekat, dan ambulans di tempat yang mudah ditemukan di rumah.