Mengenal Tirotoksikosis dan Pengobatannya

Berusaha memahami kondisi tirotoksikosis berarti perlu juga memahami suatu kondisi yang bernama hipertiroidisme. Tirotoksikosis merupakan kondisi yang perlu segera mendapat pemeriksaan dan penanganan yang tepat guna mencegah komplikasi.

Tirotoksikosis adalah sekumpulan gejala akibat aktivitas hormon tiroid yang berlebihan secara abnormal pada tubuh, dan biasanya  disebabkan oleh hipertiroidisme. Sedangkan hipertiroidisme adalah definisi medis untuk menggambarkan kondisi dimana kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Tirotoksikosis, yaitu berlebihnya jumlah hormon tiroid yang beredar di dalam tubuh, memang berhubungan erat dengan hipertiroidisme. Namun demikian, tirotoksikosis juga bisa terjadi karena sebab lain, di mana fungsi kelenjar tiroid dan produksinya tidak mengalami gangguan, misalnya karena pelepasan hormon tiroid dari kelenjar tiroid yang mengalami peradangan.

thyrotoxicosis - alodokter

Hipertiroidisme dan tirotoksikosis pada dasarnya berbeda. Pada penderita hipertiroidisme dapat ditemukan tirotoksikosis yang menyebabkan peningkatan metabolisme tubuh yang berlebihan. Selain detak jantung cepat dan tidak beraturan, berada dalam tingkat metabolisme hormon tiroid yang terlalu tinggi ini bisa membuat Anda mengalami beberapa gejala berikut:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Tremor pada tangan (tangan bergetar).
  • Kegelisahan.
  • Keringat berlebihan.
  • Tidak tahan terhadap suhu panas.
  • Hiperaktif.
  • Kelemahan otot.
  • Penurunan berat badan walau nafsu makan normal atau tinggi.

Beberapa penyebab tirotoksikosis yang paling umum adalah penyakit Grave, toxic multinodular goiter, toxic adenoma, dan tiroiditis. Penyakit Grave sering ditemukan pada kelompok usia dekade kedua dan keempat, dan goiter nodular/multiodular toxic sering ditemukan pada daerah dengan kekurangan asupan yodium. Tirotoksikosis juga bisa disebabkan oleh efek samping obat seperti litium, interferon alfa, dan amiodarone.

Penyakit Grave umumnya menimbulkan gejala tirotoksikosis yang lebih kentara dibanding gejala tirotoksikosis yang disebabkan oleh kondisi hipertiroidisme lainnya. Gejala pada kelainan ini terutama berkaitan dengan tingginya kadar hormon tiroid atau tirotoksikosis, yaitu detak jantung tidak beraturan, gemetaran, rasa cemas, dada berdebar, berat badan susah bertambah, hingga gangguan menstruasi pada wanita. Gejala khas pada penyakit Grave yang tidak terlihat pada penyakit hipertiroidisme lain adalah gangguan pada mata berupa exophthalmos (mata tampak seperti melotot), diplopia (pandangan ganda), dan terdapat pembengkakan di sekitar mata.

Untuk mendiagnosis penyakit ini, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan berbagai pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan fungsi tiroid, atau tes autoantibodi. Pemeriksaan fisik secara umum dan tentunya pemeriksaan terhadap kelenjar tiroid penting untuk menemukan adanya pembesaran pada kelenjar dan mengevaluasinya. Evaluasi yang dilakukan adalah untuk menentukan tipe pembesaran kelenjar (tunggal atau multiple), menilai konsistensi kelenjar, kelenjar nyeri atau tidak, dan apakah pembesaran kelenjar tiroid berpotensi menghambat saluran napas atau tidak.

Pemeriksaan fungsi tiroid meliputi hormon TSH, tri-iodothyronine (T3), tiroksin (T4), dan T4 bebas (FT4) penting dilakukan untuk memantau fungsi dan aktivitas hormon tiroid. Untuk menentukan penyebab kelainan tiroid juga dapat dilakuan pemeriksaan autoantibodi seperti anti-thyroid peroxidase (anti-TPO) dan Thyroid Stimulating Antibody (TSab). Peningkatan kadar anti-TPO yang signifikan diikuti peningkatan TSab menandakan terdapatnya penyakit Grave. Sebaliknya jika kadar anti-TPO dan TSab rendah atau justru tidak terdeteksi, hal ini menandakan toxic multinodular goiter atau toxic adenoma.

Kadang juga akan diperlukan pemeriksaan pemindaian khusus seperti CT scan tiroid untuk menentukan tipe nodul yang sulit dievaluasi dari pemeriksaan fisik. Pemeriksaan thyroid scan menggunakan zat radioaktif iodine untuk mengevaluasi bentuk, fungsi, dan kemungkinan terdapat kanker tiroid. Meskipun terdengar berbahaya, namun dosis radioaktif yang digunakan untuk pemeriksaan ini sangatlah kecil sehingga aman untuk dilakukan.

Gejala penyakit tiroid bervariasi pada masing-masing penderitanya, sehingga seringkali hal ini menimbulkan kesulitan dalam penegakan diagnosis. Segera temui dokter jika Anda mengalami gejala-gejala di atas untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang sesuai sedini mungkin.

Mengobati Tirotoksikosis

Setelah memperoleh diagnosis yang akurat, tirotoksikosis biasanya akan diobati dengan mengurangi gejalanya maupun mengobati kondisi penyebab hipertiroidisme itu sendiri.

Beberapa jenis pengobatan yang mungkin direkomendasikan, termasuk pemberian:

  • Obat antitiroid seperti methimazole dan propylthiouracil (PTU) untuk menghentikan produksi hormone tiroid. Masing-masing obat memiliki ciri khas tersendiri, PTU dapat mengurangi gejala tirotoksikosis dengan cepat dengan cara mengurangi kadar T3, obat ini biasanya diminum 2-3 kali sehari terutama pada kondisi darurat tiroid seperti thyroid storm. PTU juga boleh diberikan pada Ibu hamil dengan hipertiroidisme. Methimazole adalah antitiroid pilihan utama untuk penyakit Grave. Obat ini cukup poten, relatif lebih jarang menimbulkan efek samping, dan cukup diminum sekali sehari. Tetapi kekurangannya obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil terutama di trimester pertama karena berisiko menimbulkan kecacatan pada janin. Efek samping yang perlu diwaspadai pada pengobatan antitiroid antara lain: gangguan fungsi hati yang terlihat dari kulit atau mata menguning, nyeri perut, nafsu makan berkurang, agranulositosis, anemia aplastik, vaskulitis, demam, nyeri sendi, ruam, dan gatal-gatal. Pemantauan fungsi hati perlu dilakukan semenjak mulai pengobatan antitiroid hingga waktu 6 bulan.
  • Operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid (tiroidektomi). Pada penderita tirotoksikosis yang tidak bisa ditangani dengan obat, maka prosedur ini umumnya akan direkomendasikan. Prosedur bedah ini diindikasikan terutama pada hipertiroidisme berat pada anak, wanita hamil yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan, penderita gondok dengan ukuran kelenjar yang besar, terdapat kelainan mata berat, atau pada wanita yang ingin hamil sehingga pilihan obat antitiroid dihindari. Namun operasi ini berisiko menimbulkan kegawatan penyakit tiroid yaitu thyroid storm. Kondisi ini terjadi karena peningkatan hormon tiroid yang berlebihan secara tiba-tiba pada saat pengangkatan kelenjar tiroid. Angka kematian akibat komplikasi tiroidektomi ini mencapai 50%. Efek samping lain yang juga dapat terjadi adalah gangguan persarafan laring, hipoparatiroidisme, infeksi, dan pendarahan.
  • Yodium radioaktif (radioiodine) untuk menghancurkan sel penghasil hormon. Terapi ini merupakan salah satu metode pilihan terapi utama dalam pengobatan penyakit Grave. Menurut penelitian, terapi ini memiliki tingkat kesembuhan yang lebih tinggi dibanding obat antitiroid. Namun efek sampingnya menyebabkan risiko lebih tinggi untuk terjadi gangguan mata dan hipotiroidisme. Untuk mencegah komplikasi pada mata, dan untuk mengatasi nyeri serta peradangan pada tiroid pasca pengobatan dengan radioiodine, dapat diberikan obat-obatan kortikosteroid. Obat ini juga dapat digunakan untuk mengurangi aktivitas hormon tiroid apabila terjadi thyroid storm. Terapi yodium radioaktif tidak dapat dilakukan pada anak-anak dan wanita hamil atau menyusui karena dapat menyebabkan hipotiroidisme pada janin.
  • Penghambat beta (Beta Blockers). Obat ini merupakan obat pilihan untuk meredakan gejala yang ditimbulkan oleh tirotoksikosis terlebih pada lansia dengan penyakit jantung. Dibanding radioiodine, obat ini lebih disarankan diberikan pada penderita tirotoksikosis yang sedang hamil dan dengan dosis yang sekecil mungkin. Obat ini tidak boleh diberikan pada kondisi dehidrasi, tekanan darah rendah, atau pada penderita¬†asma.

Selain cara-cara yang sudah disebutkan di atas, Anda juga dapat meredakan gejala tirotoksikosis dengan memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung kalsium, sodium, dan vitamin D. Diskusikan dengan dokter tentang menu makanan, suplemen, dan olahraga apa yang sesuai untuk kondisi Anda.

Pengobatan tirotoksikosis memerlukan pemantauan dan evaluasi yang ketat. Obat-obatan antitiroid dan metode terapi yang digunakan untuk mengobati penyakit ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setelah menjalani pengobatan, penting untuk melakukan pemeriksaan berkala (kontrol) untuk mengevaluasi kondisi kesehatan umum dan fungsi tiroid. Oleh karena itu, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat serta pemantauan berkala untuk menilai keamanan dan keberhasilan terapi.