Mengenali Induksi Alami yang Aman, Menghindari yang Berisiko

Menunggu hari-hari menjelang persalinan adalah saat yang sangat menegangkan. Tidak mengherankan, banyak ibu hamil yang berusaha melakukan induksi alami untuk mempercepat hari persalinan.

Kemungkinan untuk melahirkan bayi sehat menjadi lebih tinggi saat ibu hamil menjalani persalinan cukup umur, yaitu sekitar dua minggu sebelum atau sesudah hari perkiraan lahir (HPL). Hari perkiraan lahir yang ideal adalah 39 minggu.

Mengenali Induksi Alami yang Aman, Menghindari yang Berisiko

Memanfaatkan Induksi Alami yang Disarankan

Teknik induksi alami dapat dilakukan di rumah, sendiri atau dilakukan bersama pasangan. Selain itu, ada teknik induksi yang harus dilakukan oleh dokter atau ahli medis di rumah sakit. Berikut beberapa jenis induksi alami yang disarankan:

  • Berhubungan seks

Berhubungan dengan pasangan dapat dijadikan sebagai salah satu cara induksi alami. Selain itu, sperma juga mengandung prostaglandin yang akan membantu induksi alami. Hormon ini banyak digunakan di dalam induksi medis.

Hubungan seks sebagai induksi alami dinilai lebih bisa berhasil pada kehamilan yang sudah mengalami tanda-tanda persalinan. Misalnya, leher rahim yang mulai melunak dan mengalami penipisan. Namun, perlu diingat bahwa hubungan seks sebagai induksi tidak disarankan pada seorang wanita hamil yang mengalami  ketuban sudah pecah. Jika ragu, konsultasikan hal ini pada dokter ahli.

  • Stimulasi puting payudara

Stimulasi pada puting payudara dapat memicu pengeluaran hormon oksitosin. Stimulasi dapat dilakukan dengan tangan ataupun pompa ASI. Hormon oksitosin kemudian akan memicu kontraksi. Meski demikian, ahli kandungan menegaskan bahwa stimulasi puting payudara sebaiknya dilakukan dengan pengawasan pada kondisi bayi pada kandungan untuk menghindari stimulasi berlebihan

  • Melepaskan dinding ketuban dari leher rahim

Untuk induksi ini, dokter akan menyapukan jari di sekitar leher rahim sehingga selaput pada kantong ketuban terpisah. Tindakan ini diharapkan akan memicu pengeluaran hormon prostaglandin dan memicu persalinan. Satu penelitian menunjukkan, lebih banyak wanita yang masuk ke dalam proses persalinan pada kelompok yang selaput ketubannya dipisahkan dari leher rahim, jika dibandingkan dengan yang tidak menjalani tindakan tersebut.

  • Memecahkan kantung ketuban

Ketika kantong ketuban pecah, maka hormon prostaglandin meningkat sehingga memicu kontraksi. Untuk memecahkan kantong ketuban, dokter akan menggunakan kait plastik tipis yang steril. Kait tersebut disapukan di selaput dalam leher rahim hingga terasa kepala bayi turun ke leher rahim. Prosedur ini biasanya membuat kontraksi lebih kuat sehingga kantong ketuban pecah

Mewaspadai Induksi Alami yang Belum Terbukti

Ibu hamil perlu mewaspadai induksi alami yang hanya didasari mitos ataupun yang belum terbukti secara medis. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan.

  • Berjalan jauh

Berjalan atau olahraga lain dapat mendorong bayi turun ke panggul. Namun, hal ini seorang ahli menyatakan tidak setuju terhadap teori ini sebab berjalan jauh bisa menyebabkan ibu hamil kelelahan menjelang persalinan

  • Mengonsumsi makanan pedas

Mitos yang banyak beredar mengungkapkan bahwa makanan pedas dapat menstimulasi kontraksi pada rahim. Hal ini belum terbukti dan justru berisiko menyebabkan nyeri ulu hati pada ibu hamil. Selain itu, tidak ada hubungan langsung antara lambung dan saluran cerna.

  • Minum minyak jarak

Minyak jarak merupakan laksatif yang sangat kuat sehingga diharapkan dapat memicu kontraksi. Meski satu studi menunjukkan adanya pengaruh dari minyak tersebut, namun ada risiko dapat memicu gangguan pernapasan pada bayi. Selain itu, ada pula risiko ibu hamil mengalami diare yang sangat berbahaya jika sampai terjadi dehidrasi.

  • Mengonsumsi obat herba

Ada beragam jenis tanaman yang diyakini masyarakat dapat menjadi induksi alami. Meski begitu, sebaiknya untuk konsumsi obat herba ini harus selalu melalui konsultasi dengan dokter. Justru yang pernah terjadi adalah persalinan yang lebih lama atau gangguan lain

Tentu saja, sebelum mencoba teknik- teknik di atas, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter tentang keamanan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi. Meski beberapa teknik tadi popular di kalangan wanita hamil, tapi masih sedikit penelitian yang mendukungnya. Terlebih lagi pada wanita-wanita dengan kehamilan risiko tinggi, seperti diabetes gestasional, preeclampsia, diabetes gestasional atau kehamilan kembar.