Menguak Misteri Pengalaman Mati Suri

Mati suri dalam dunia medis sering disamakan dengan pengalaman mendekati kematian alias near death experience (NDE). Pengalaman ini sendiri sering dikategorikan ke dalam berbagai dimensi mulai dari psikologis, fisiologis, dan penjelasan transendental.

Sebagian ahli memprediksi bahwa peristiwa mati suri sebagai sebuah fenomena halusinasi yang disebabkan oleh berbagai faktor fisiologis dan psikologis. Sementara para peneliti lainnya menganggap hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kesadaran atau pikiran yang bukan berasal dari aktivitas otak. Namun hingga saat ini, fenomena mati suri belum dapat sepenuhnya dijelaskan.

menguak misteri pengalaman mati suri - alodokter

Bagaimana Seseorang Bisa Mengalami Mati Suri?

Beberapa hal di bawah ini bisa menjelaskan kenapa mati suri bisa terjadi pada seseorang.

  • Terkait dengan fase tidur

Salah satu kemungkinan penyebab terjadinya mati suri adalah fase tidur Rapid Eye Movement (REM) atau fase nyenyak, yaitu ketika seseorang mengalami mimpi. Fase ini melibatkan adanya kelumpuhan otot utama, sistem pernapasan yang berjalan lebih cepat, dan cepatnya gerakan mata.

Saat fase ini mengalami gangguan, maka seseorang mungkin mengalami kelumpuhan sementara saat bangun dari tidur. Hal lain yang mungkin terjadi adalah adanya halusinasi penglihatan atau pendengaran selama masa peralihan dari tidur menuju kondisi terjaga atau sebaliknya.

Pada kasus mati suri, otak kemungkinan mencampurkan kondisi tidur dan kondisi terjaga secara sekaligus. Normalnya, fase ini akan dibedakan secara mendetail sehingga jelas mana saat seseorang terjaga atau tidur.

Beberapa ciri utama yang dirasakan mereka yang mengalami mati suri juga mirip dengan adanya gangguan fase REM ini. Misalnya saja perasaan dikelilingi cahaya, merasa terpisah dari diri sendiri, dan tidak mampu bergerak meski merasa sadar.

  • Dihubungkan dengan gas karbondioksida

Pengalaman dekat dengan kematian atau mati suri juga dikaitkan dengan keberadaan gas karbondioksida di dalam tubuh seseorang. Penelitian yang mengaitkan hal ini menyatakan bahwa adanya gas CO2 kemungkinan memberikan pengaruh pada keseimbangan kimia tubuh seseorang.

Ketika keseimbangan kimia di otak seseorang mengalami gangguan, maka hal tersebut mungkin memengaruhi otak sehingga yang mengalaminya seperti melihat cahaya, terowongan, atau kematian seseorang. Pengalaman mati suri yang terkait dengan adanya gas CO2 sendiri didapatkan dari para pasien yang selamat dari serangan jantung. Orang yang mengalami serangan jantung memiliki konsentrasi CO2 berlebih dalam napas yang dihembuskan juga terkait level CO2 dan kalium dalam darah.

Pasien yang selamat dari serangan jantung dan mengalami mati suri memiliki beberapa kesamaan pengalaman. Mereka biasanya merasakan berada di dalam balutan cahaya, melihat dan mendengar peristiwa nyata dari sudut yang lain, serta bertemu dengan orang-orang yang dicintai yang sudah meninggal.

Kejadian mati suri yang dialami oleh orang-orang yang selamat dari serangan jantung diyakini terkait dengan terhentinya fungsi otak setelah 20-30 detik terhentinya jantung. Saat sadar, mereka ternyata mampu menjelaskan hal-hal terkait kejadian yang terjadi di sekitarnya dalam tiga menit setelah jantung berhenti.

Kedua penjelasan di atas masih belum menjawab sepenuhnya bagaimana fenomena mati suri bisa terjadi. Meski pada kesimpulan-kesimpulan di atas berusaha netral dari sisi spiritual seseorang, namun hal tersebut ternyata banyak mengubah cara pandang mereka setelah mengalami peristiwa mati suri.