Menilik Manfaat Temulawak

Temulawak sering ditemukan sebagai salah satu bahan dasar dalam obat-obatan herba untuk menangani gangguan kesehatan dan produk kecantikan.

Dalam bahasa latinnya, temulawak yang berasal dari Indonesia ini disebut Curcuma xanthorrhiza. Kadang-kadang bahan ini disebut juga Curcuma de Java, Curcuma Javanais, Cúrcuma Javanesa, Java Turmeric, Safran des Indes, Témoé-lawacq, Témoé-lawaq. Tanaman ini termasuk kelompok rempah jahe-jahean dari pulau Jawa. Pada umumnya tanaman ini tumbuh di Indonesia, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Di Sunda, temulawak dikenal dengan nama koneng gede, sementara di Madura disebut dengan temu labak.

Menilik Manfaat Temulawak

Rizoma atau tanaman yang akarnya menjalar di bawah permukaan tanah ini biasa tumbuh di tanah gembur di daerah beriklim tropis. Tanaman ini disebut sebagai tanaman kesehatan karena mengandung minyak ethereal yang dipercaya ada manfaatnya bagi kesehatan. Namun seiring kurangnya bukti ilmiah yang kuat, penggunaan minyak ini mulai menurun.

Apakah Temulawak Benar-benar Berkhasiat?

Umumnya bahan ini disebut-sebut dapat digunakan untuk menangani dispepsia, yaitu  gangguan pencernaan yang umumnya diiringi gejala-gejala seperti kembung, nyeri ulu hati, dan mual. Selain itu, temulawak dianggap bermanfaat untuk menangani sakit perut, mengatasi gas pada usus, dan perut yang terasa kembung.

Meski demikian, belum ada hasil ilmiah yang kuat yang membuktikan khasiat temulawak dalam menangani kondisi-kondisi seperti  irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus besar, gangguan pencernaan, perut kembung, dan masalah pada lambung. Diperlukan juga penelitian lebih menyeluruh untuk menentukan efektivitas temulawak yang diklaim yang menyebut bahwa bahan ini dapat meningkatkan nafsu makan.

Disarankan untuk tidak mengonsumsi obat herba ini melebihi 18 minggu. Selain itu, perlu diketahui bahwa penggunaan dalam jangka waktu panjang berpotensi menimbulkan mual dan iritasi pada perut.

Konsumsi temulawak juga sebaiknya dihindari kelompok tertentu, seperti wanita hamil dan menyusui, karena efek sampingnya pada kelompok ini belum diketahui secara pasti. Mereka yang mengidap gangguan hati dan kandung empedu disarankan untuk tidak mengonsumsi temulawak. Bahan ini disebut-sebut mengandung substansi yang dapat merangsang produksi cairan empedu, sehingga dapat memperburuk kondisi.

Dosis temulawak yang tepat tergantung pada banyak hal, seperti faktor kesehatan, usia, dan latar belakang kesehatan. Karena belum ada informasi ilmiah untuk menentukan dosis yang tepat untuk konsumsi temulawak, maka lebih baik untuk tidak mengonsumsi bahan ini dalam jangka panjang. Jika Anda mengonsumsinya dalam bentuk suplemen, sebaiknya konsultasikan lebih dulu kepada dokter dan patuhi aturan pemakaian. Pastikan produk temulawak yang Anda konsumsi terdaftar di BPOM.