Mitos dan Fakta Mengenai Manfaat Cuka Apel

Manfaat cuka apel sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu di daratan Eropa. Terlepas dari hingga kini masih banyak yang belum bisa dikonfirmasi secara ilmiah, pemakaian cuka apel sudah sangat populer di antara masyarakat.

Cuka apel sendiri dibuat dengan cara memeras apel segar untuk diambil airnya. Air apel tersebut kemudian akan difermentasi menjadi alkohol setelah dicampur dengan bakteri dan ragi. Bakteri yang dilibatkan untuk mengubah alkohol menjadi cuka adalah bakteri asam asetat. Ketika sudah siap digunakan, air apel akan berwarna kecokelatan dengan bau yang tajam.

mitos dan fakta mengenai manfaat cuka apel - alodokter

Anggapan Mengenai Manfaat Cuka Apel

Cuka apel dianggap memiliki efek positif bagi tubuh. Beberapa di antara manfaat tersebut, antara lain:

  • Menurunkan berat badan

Banyak pihak yang mengklaim bahwa cuka apel bermanfaat untuk menurunkan berat badan. Yang mendukung klaim ini menganggap cuka apel bisa meredam nafsu makan dan membakar lemak. Sayangnya, klaim terhadap hal ini masih sangat minim. Bisa dikatakan bahwa manfaat cuka apel untuk menurunkan berat badan adalah mitos belaka.

Fakta yang sebenarnya justru wajib diwaspadai adalah rasanya yang sangat asam dan berisiko memberikan masalah pencernaan bagi mereka yang belum terbiasa mengonsumsinya. Selain itu, cuka apel justru dapat mengiritasi tenggorokan, apalagi jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jumlah yang banyak.

  • Membuat kenyang

Sebuah uji klinis dilakukan terhadap 12 individu dan menyimpulkan bahwa cuka apel membuat mereka merasa lebih cepat kenyang. Para partisipan dalam uji klinis tersebut diminta untuk mengonsumsi roti dengan cuka apel dan hanya mengonsumsi roti. Hasilnya, 12 individu ini mengatakan bahwa mengonsumsi cuka apel dan roti membuat mereka lebih cepat kenyang dibandingkan saat hanya mengonsumsi roti.

Karena hanya diujikan kepada 12 orang, manfaat cuka apel untuk membuat seseorang lebih kenyang belum bisa dijadikan sebagai pegangan. Selanjutnya dibutuhkan pembuktian lebih lanjut dengan melibatkan partisipan yang lebih banyak untuk membuktikan hal ini.

  • Bermanfaat positif bagi gula darah dan diabetes

Cuka apel mungkin bermanfaat sebagai pengontrol tekanan darah dan diabetes. Bahkan, cuka apel dianggap memiliki dampak yang mirip dengan obat-obatan kedua gangguan kesehatan tersebut.

Cuka apel dinilai memiliki manfaat untuk memblokir beberapa jenis tepung di dalam pencernaan. Meski tidak bersifat sepenuhnya, namun setidaknya mampu mencegah beberapa jenis tepung untuk dicerna sehingga mencegah peningkatan kadar gula darah.

Meski manfaat ini dinilai sebagai fakta, namun lebih baik cuka apel jangan dijadikan pilihan utama. Siapa pun yang hendak mengontrol kadar gula darah, dianjurkan untuk berfokus pada diet makanan sehat daripada hanya mengandalkan cuka apel.

Cuka apel juga perlu diwaspadai bagi siapa pun yang menderita gastroparesis alias kelainan motilitas lambung yang membuat pengosongan lambung tertunda. Bahkan bagi yang tidak memiliki gangguan kesehatan selain diabetes, berkonsultasi kepada dokter merupakan langkah yang tepat untuk dilakukan bagi siapa pun yang ingin mengonsumsinya.

  • Menurunkan kadar kolesterol jahat

Kolesterol jahat bisa meningkatkan risiko seseorang terkena beberapa penyakit, seperti penyakit jantung dan hipertensi. Asam asetat di dalam cuka apel dianggap mampu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Sayangnya, penelitian ini masih sebatas menggunakan tikus dan belum ada penelitian terhadap manusia.

Meski dianggap menjanjikan, namun pemakaian untuk tujuan tersebut belum direkomendasikan. Penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk membuktikannya. Dengan demikian, manfaat cuka apel untuk menurunkan kadar kolesterol jahat masih dianggap mitos.

Makanan atau zat-zat tertentu sering kali dianggap berkhasiat baik terhadap kesehatan. Keberadaannya yang sudah lazim di tengah masyarakat turut menguatkan anggapan yang ada. Tidak ada salahnya untuk mencari informasi klinis yang valid atau tanyakan kepada dokter untuk mendapatkan kepastiannya.