Olahraga Atletik yang Aman Untuk Penderita Asma

Jangan jadikan asma sebagai alasan untuk tidak melakukan olahraga atletik. Ada berbagai macam olahraga atletik yang tetap bisa dijalani penderita asma, tapi Anda harus mengetahui cara mengakalinya.

Asma merupakan kondisi jangka panjang di mana penderitanya merasa sesak napas, sesak dada, sulit bernapas, dan batuk. Asma disebabkan oleh pembengkakan dinding saluran udara (bronkus) yang membawa udara masuk dan keluar dari paru-paru. Pemicunya bisa berbagai macam, mulai dari debu, bulu binatang, asap rokok, serbuk sari bunga, infeksi virus, hingga olahraga. Dengan kata lain, menderita asma berarti paru-paru Anda lebih sensitif terhadap banyak hal tersebut.

Olahraga Atletik yang Aman Untuk Penderita Asma - alodokter

Asma dan Olahraga

Kenapa olahraga bisa memicu serangan asma? Ketika bernapas normal, udara yang masuk dihangatkan dan dilembapkan oleh saluran hidung. Tapi ketika olahraga, orang-orang cenderung bernapas melalui mulut. Udara dingin dan kering yang dihirup pun tidak dihangatkan. Nah, otot di sekitar saluran udara menjadi sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan tersebut. Akibatnya, otot-otot di saluran napas berkontraksi dan jalan napas jadi sempit.

Meskipun Anda menderita asma, tidak dianjurkan meninggalkan kegiatan olah fisik. Menurut penelitan terhadap 700 orang, olahraga justru memberikan efek positif bagi penderita asma. Tidak ada efek negatif seperti meningkatnya gejala asma atau frekuensi serangan asma bagi mereka yang mempraktikkan beberapa olahraga tertentu. Dengan berolahraga, gejala asma menjadi berkurang, kualitas hidup penderita asma pun semakin meningkat.

Serangan asma ketika berolahraga terjadi jika aktivitas fisik yang dilakukan terlalu berat atau asma tidak terkontrol. Risiko hal ini terjadi cenderung lebih rendah jika penderitanya sudah siap secara fisik dan mental, serta menggunakan obat asma yang sesuai.

Olahraga Apa yang Cocok?

Jika Anda menderita asma, disarankan untuk memilih jenis olahraga atletik yang tidak terlalu menyulitkan Anda, contohnya:
  • Jalan kaki. Satu penelitian menunjukkan bahwa jalan kaki tiga kali seminggu selama 12 minggu mampu mengendalikan asma dan meningkatkan kebugaran tubuh tanpa menyulut gejala asma. Cobalah berjalan kaki selama 30 menit diiringi oleh pemanasan dan pendinginan masing-masing selama lima menit.
  • Satu studi menemukan, melakukan yoga Hatha 2,5 jam per minggu selama 10 minggu mampu menurunkan konsumsi obat asma pada penderita penyakit ini.
  • Bersepeda santai tidak akan memicu asma Anda. Lain ceritanya jika Anda mengayuh sepeda dengan kecepatan 30 km/jam atau bersepeda di pegunungan.
  • Olahraga ini membangun otot-otot yang digunakan untuk bernapas serta membuat paru-paru mendapatkan banyak udara hangat dan lembap.
  • Olahraga yang menggunakan raket. Olahraga jenis ini memungkinkan Anda untuk beristirahat secara teratur. Anda bisa mengendalikan kecepatan permainan serta istirahat dan minum air kapan saja. Intensitas olahraga juga bisa berkurang jika Anda bermain berpasangan.
  • Olahraga atletik lari jarak pendek tidak akan memicu serangan, tapi jangan coba-coba melakukan lari marathon jika tidak ingin menjadi sesak napas.
  • Bola voli. Olahraga ini tidak memerlukan terlalu banyak berlari-lari dan ada pemain lain yang turut membantu permainan. Bahkan gerakan memukul bola dalam voli tidak melibatkan terlalu banyak gerakan.
Beberapa olahraga atletik memang ada yang cenderung memicu gejala asma seperti sepak bola, bola basket, atau lari jarak jauh. Kualitas hidup penderita asma bisa membaik jika teratur berolahraga, mengonsumsi obat-obatan sesuai resep, dan memantau gejala serta fungsi paru-paru.

Jangan berhenti melakukan aktivitas fisik yang aman hanya karena Anda menderita asma. Namun, ada baiknya konsultasikan dahulu dengan dokter guna menentukan jenis olahraga atletik mana yang cocok untuk Anda dan kondisi yang dihadapi.