Pantangan Ibu Menyusui yang Penting Diketahui

Tak hanya pada masa kehamilan yang memiliki pantangan, ternyata ada pula pantangan ibu menyusui yang perlu diperhatikan. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah kemungkinan efek terhadap air susu ibu (ASI) yang diberikan pada bayi.

Pantangan ibu menyusui perlu dilakukan karena dapat menimbulkan risiko bayi merasa tidak nyaman. Sebagian makanan dan minuman yang dikonsumsi ibu menyusui dapat memicu gejala kolik pada perut bayi. Meski demikian, tiap bayi dan ibu menyusui memiliki kondisi yang berbeda.

Pantangan Ibu Menyusui yang Penting Diketahui - alodokter

Berikut beberapa pantangan ibu menyusui yang seharusnya dihindari:

  • Merokok

Ibu menyusui tidak boleh merokok karena dapat menyebabkan bayi terpapar nikotin. Tak hanya dari asap yang dikeluarkan, nikotin juga kemungkinan dapat masuk ke dalam kandungan ASI. Jika perlu, konsultasi ke dokter untuk untuk berhenti merokok dengan bantuan terapi pengganti nikotin.

  • Minuman beralkohol

Sebagaimana ibu hamil berisiko mengonsumsi minuman beralkohol, demikian juga ibu menyusui. Alkohol bisa masuk ke dalam ASI yang diberikan pada bayi. Aroma dan rasa dari ASI akan berubah. Ini akan memengaruhi pola konsumsi ASI oleh bayi Anda sekaligus memengaruhi pola tidur bayi. Selain itu, sebuah studi membuktikan, bir dapat mengurangi produksi ASI, karena bir menghambat refleks untuk mengeluarkan ASI (milk ejection reflex) saat bayi menghisap puting.

Sepuluh hingga dua puluh mililiter atau 8 gram alkohol yang terkandung dalam minuman per minggu, dianggap jumlah yang masih dapat ditoleransi. Tunggu sekitar dua jam setelah konsumsi minuman beralkohol sebelum menyusui. Meski begitu, akan lebih aman jika ibu menyusui benar-benar menghindari konsumsi minuman beralkohol.

  • Ikan dengan kandungan merkuri yang tinggi

Meski kandungan nutrisi ikan tergolong tinggi, namun hampir semua ikan mengandung merkuri.  Polutan ini sangat  berbahaya karena merupakan  racun bagi saraf-saraf tubuh (neurotoksin). Ikan yang berada di rantai makanan atas di ekosistem laut akan memangsa sesama hewan laut, termasuk ikan-ikan kecil yang juga mengandung merkuri. Jadi umumnya  mengandung merkuri lebih tinggi, diantaranya ikan makarel, ikan todak (swordfish) dan hiu.

Untuk konsumsi ikan salmon, tuna, udang, atau jenis ikan lain yang tergolong rendah kandungan merkuri, sebaiknya konsumsi hanya sekitar dua kali per minggu.

  • Buah dan sayur tertentu

Beberapa jenis buah dan sayur diduga dapat memicu alergi dan membuat bayi rewel. Misalnya susu sapi, kacang, kedelai, telur, gandum, jagung, bawang, dan kubis. Selain itu, sebagian ibu menyusui kerap mengeluhkan efek dari buah seperti lemon, jeruk nipis, stroberi, kiwi, dan nanas. Juga sayur-sayuran seperti brokoli, timun, lada, bawang putih, dan bumbu kayu manis.

Jika bayi menunjukkan gejala alergi seperti diare, eksim, gangguan pernapasan ataupun rewel, ada kemungkinan sebagai reaksi makanan yang dikonsumsi ibu menyusui.

Untuk mengetahui secara pasti, buatlah catatan harian minuman dan makanan  ibu menyusui. Jika bayi menunjukkan reaksi, hindari selama beberapa waktu. Namun, tidak perlu merancang diet khusus. Yang penting, pilihlah makanan dan minuman yang dapat menyehatkan sang ibu dan sang bayi.

  • Kafein yang terlalu banyak

Kafein tidak hanya berasal dari kopi, namun juga teh dan minuman kola. Sebagaimana kafein pada ibu hamil, maka kafein yang diminum ibu menyusui akan masuk ke dalam ASI, sehingga ada kemungkinan dapat memengaruhi bayi untuk tetap terjaga.

Walaupun tidak ada bukti yang pasti bahwa kafein pasti menimbulkan masalah, tapi sebagian ibu mengaitkan antara konsumsi kafein dan gejala kolik, atau sulit tidur pada bayi setelah mengonsumsi minuman berkaifein.

  • Obat-obatan herbal

Obat-obatan yang dikonsumsi ibu menyusui, disarankan dikonsumsi setelah berkonsultasi dengan dokter, termasuk obat herbal. Hingga saat ini, sebagian obat herbal masih belum bisa dipastikan keamanannya dan kemungkinan efek sampingnya.

Pantangan ibu menyusui sebaiknya diperhatikan dengan cermat. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk informasi yang lebih sesuai dan akurat.