Panu, Penyakit Kulit Menular atau Bukan?

Panu merupakan salah satu jenis penyakit kulit yang dikenal luas oleh masyarakat. Beberapa orang menganggap panu adalah penyakit kulit menular, tapi nyatanya tidak seperti itu.

Penyakit kulit yang kerap disebut tinea versicolor atau pityriasis versicolor ini dapat menyebabkan bercak-bercak kecil pada kulit. Bercak-bercak tersebut mungkin mengeluarkan warna yang lebih terang atau gelap dari warna kulit normal yang diiringi rasa gatal.

panu penyakit kulit menular atau bukan - alodokter

Panu disebabkan oleh Malassezia, salah satu jenis jamur yang dapat ditemui pada kulit, termasuk pada permukaan kulit yang sehat. Namun jamur tersebut dapat berkembang secara berlebihan sehingga terbentuklah panu. Beberapa faktor yang mungkin bisa memicu perkembangan jamur ini yaitu kulit berminyak, cuaca panas dan lembap, keringat yang berlebih, perubahan hormonal dan sistem imun yang melemah.

Karena setiap manusia memiliki jamur Malassezia pada tubuhnya, bisa dipastikan panu bukanlah penyakit kulit menular. Jadi jangan menyalahkan orang lain ketika Anda memiliki panu seperti berkata, “Saya terkena panu karena pernah memakai baju milik pengidap panu.”

Cara Mengatasi Panu ala Rumahan dan Medis

Jika Anda memiliki panu yang belum begitu parah, Anda bisa coba memakai krim, salep, atau sabun yang mengandung clotrimazole, selenium sulfide (kadar 1 persen), miconazole, terbinafine, dan zinc pyrithione. Obat panu ini dijual bebas di toko obat atau supermarket.

Sebelum memakai obat panu dalam bentuk krim atau salep, cuci bersih area kulit yang terdapat panu, lalu keringkan. Setelahnya oleskan tipis-tipis krim atau salep sebanyak 1 - 2 kali sehari selama 14 hari.

Jika Anda memakai sabun, diamkan selama 5 -10 menit sebelum dibilas.

Setelah menjalani pengobatan di rumah namun panu belum juga membaik atau bahkan bertambah penyebarannya, ini saatnya Anda bergegas ke dokter kulit agar mendapat perawatan yang lebih intensif.

Sebelum memberikan resep, dokter mungkin akan mengerok sedikit kulit Anda lalu menelitinya lebih dalam dengan mikroskop atau memeriksa kulit Anda menggunakan sinar ultraviolet.

Dokter akan meresepkan obat panu dengan zat aktif yang lebih kuat seperti:

  • Fluconazole.
  • Ciclopirox.
  • Itracanazole.
  • Selenium sulfide (kadar 2.5 persen).
  • Ketocanazole.

Setelah kulit sembuh dari infeksi jamur, Anda jangan kaget ketika masih melihat bercak-bercak panu di kulit. Kembalinya warna kulit ke warna semua mungkin memakan waktu hingga beberapa bulan.

Tidak jarang panu yang telah sembuh bisa muncul kembali. Itu normal terjadi karena jamur tersebut memang ada di kulit Anda. Namun hal ini bisa dicegah dengan memakai obat panu 1 – 2 kali dalam sebulan, terutama jika Anda tinggal di area bercuaca panas dan lembap.

Selain itu, cegah penyakit kulit ini dengan cara memakai pakaian dengan bahan berserat alami (seperti katun), hindari pakaian yang terlalu ketat, hindari produk yang bisa membuat kulit berminyak, kurangi terpapar sinar matahari, dan terakhir jangan lupa gunakan tabir surya dengan kadar SPF minimal 30 sebelum keluar ruangan.