Pentingnya Vaksin PCV Mencegah Meningitis dan Penyakit Berbahaya Lain

Sesuai namanya, vaksin PCV atau vaksin pneumokokus melindungi tubuh dari infeksi bakteri pneumokokus. Infeksi yang disebabkan bakteri Streptococcus pneumoniae ini dapat mengakibatkan meningitis, pneumonia, dan septikemia (infeksi berat). Kerusakan permanen pada otak, bahkan kematian dapat terjadi pada kasus-kasus tertentu yang sangat parah.

Bakteri Streptococcus pneumoniae tinggal pada dinding hidung dan bagian belakang tenggorokan, yang dalam jumlah banyak dapat menyebabkan infeksi saluran telinga tengah, saluran pernapasan, meningitis, serta infeksi rongga sinus. Tiga puluh persen bakteri tersebut resisten terhadap antibiotik dan dapat tersebar melalui kontak fisik, bersin, dan batuk. Saat ini para peneliti telah mengidentifikasi lebih dari 90 jenis bakteri pneumokokus, dan 8 hingga 10 diantaranya adalah bakteri pneumokokus yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia.

vaksin  pcv-alodokter

Walaupun infeksi pneumokokus dapat terjadi pada siapapun, tetapi bayi, lansia berusia 65 tahun atau lebih, dan penderita gangguan kesehatan kronis lebih berisiko mengalaminya. Penyakit berbahaya ini umumnya menyerang balita yang dapat menyebabkan infeksi darah, meningitis, dan infeksi telinga.

Infeksi bakteri pneumokokus ini tidak boleh dianggap enteng. Salah satu penyakit berat yang dapat terjadi karena infeksi bakteri ini adalah meningitis , yang memiliki tingkat kematian dan kecacatan yang cukup tinggi. Gejala meningitis bisa berupa nyeri kepala berat, demam tinggi mendadak, mual muntah, terdapat kekakuan leher, dan penurunan kesadaran. Pada bayi atau anak, juga dapat disertai dengan sulit atau tidak mau minum, lemas, hingga kejang. Jika Anda atau Anak mengalami gejala tersebut, Anda harus segera berobat ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Kasus infeksi berat ini diperkirakan lebih tinggi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Cakupan pemberian vaksin PCV di seluruh dunia masih terbilang rendah yaitu 42%. Oleh karena itu, untuk mencegah kematian dan kecacatan akibat infeksi pneumokokus, Departemen Kesehatan Indonesia dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan pemberian vaksin PCV.

Terdapat dua jenis vaksin yang dapat memberi perlindungan terhadap penyakit akibat infeksi pnemokokus yaitu: Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) dan Pneumococcal Polysaccharide Vaccine (PPV). Vaksin PCV yang dapat melindungi anak dari 13 jenis bakteri pneumokokus ini direkomendasikan untuk:

  • Bayi kurang dari 2 tahun perlu mendapat 4 dosis. Empat dosis yang masing-masing disarankan diberikan pada: bayi 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, serta booster antara 12–15 bulan.
  • Jika belum mendapat vaksin tepat waktu, mereka tetap harus mendapatkannya selama kurun usia tersebut. Konsultasikan ke dokter lebih dulu jika Anda terlambat atau melewatkan satu dosis vaksin PCV, terutama pada anak.
  • Anak sehat di usia 2-4 tahun yang belum mendapat vaksin PCV lengkap perlu mendapat satu dosis vaksin.

Selain itu, terdapat juga vaksin pneumokokus untuk dewasa yang disebut vaksin PPV yang melindungi dari 23 jenis bakteri pneumokokus. Baik vaksin PCV dan PPV adalah jenis vaksin mati dan tidak mengandung bakteri patogen hidup.

Lansia berusia lebih dari 65 tahun perlu satu vaksin PPV yang akan melindunginya seumur hidup. Sementara, penderita gangguan kesehatan kronis perlu mendapat vaksin PPV lima tahunan atau sekali saja, tergantung pada jenis gangguan yang dimiliki. Orang dewasa berusia 19 hingga 64 tahun yang perokok juga disarankan mendapatkan vaksin PPV. Orang dewasa yang akan menerima vaksin pneumokokus dianjurkan tidak sedang hamil dan menyusui. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk mendapatkan vaksin.

Seperti vaksin lain, vaksin PCV juga dapat menimbulkan efek samping sebagai berikut:

  • Mengalami ketidaknyamanan dan kemerahan pada bagian kulit yang disuntik.
  • Nyeri berat di daerah suntikan pasca pemberian vaksin, namun kasus ini sangat jarang.
  • Sebagian anak mengaku merasa mengantuk setelah disuntik.
  • Sekitar 30% anak mengalami bengkak pada bagian yang disuntik.
  • Satu dari tiga anak mengalami demam ringan, dan 5% anak mengalami demam tinggi.
  • Reaksi alergi parah dapat terjadi, tetapi hal ini sangat jarang terjadi.

Hal yang perlu diingat lagi adalah anak-anak yang mengalami reaksi alergi parah terhadap vaksin PCV sebelumnya disarankan tidak  mendapatkan vaksin ini kembali. Gejala alergi parah tersebut yaitu sesak nafas, suara serak, mengi, pucat, pusing, ruam pada kulit, nadi cepat, dan penurunan kesadaran. Meskipun sangat jarang terjadi, kondisi tersebut adalah kondisi kegawatan pasca imunisasi. Jika terdapat gejala-gejala di atas pasca pemberian vaksin, Anda harus segera membawa si Kecil ke UGD terdekat untuk mendapat penanganan yang tepat.

Selain itu, mereka yang mengalami demam atau sakit parah, seperti pneumonia, perlu menunda penerimaan vaksin hingga kesehatannya pulih. Di samping itu, jika anak Anda atau bahkan Anda sendiri sedang sakit parah, pemberian vaksin PCV dianjurkan ditunda hingga pulih.