Penyakit Beri-beri

Pengertian Penyakit Beri-beri

Penyakit beri-beri adalah kondisi yang diakibatkan oleh kurangnya vitamin B1 atau tiamin pirofosfat dalam tubuh. Tiamin pirofosfat atau tiamin berfungsi sebagai koenzim pembentukan glukosa dan digunakan dalam jalur metabolisme lainnya. Secara singkat, vitamin B1 atau tiamin adalah nutrisi yang membantu tubuh mengubah makanan menjadi sumber energi dan menjaga fungsi jaringan tubuh.

Penyakit beri-beri - alodokter

Vitamin ini dapat larut dalam air dan tidak stabil dalam kondisi yang panas. Oleh karena itu, tiamin hanya dapat berdiam di dalam tubuh selama 9-18 hari sebelum dibuang melalui ginjal. Kemampuan usus kecil menyerap tiamin hanya 5 mg dan jaringan juga organ tubuh sebesar 30 mg. Jika nutrisi tersebut tidak cepat diganti melalui konsumsi makanan kaya vitamin B1 atau suplemen multivitamin, seseorang akan mengalami defisiensi tiamin dan berpotensi memengaruhi fungsi organ tubuh penting, seperti saraf, jantung, dan otak.

Kondisi ini kerap terjadi di negara bagian Asia termasuk Indonesia, berpotensi menyerang bayi berusia 1-4 bulan hingga dewasa. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di negara lainnya, khususnya bagi yang sering mengonsumsi beras giling, atau mengonsumsi alkohol secara berlebih.

Penyebab Penyakit Beri-beri

Penyebab utama penyakit beri-beri adalah defisiensi vitamin B1 atau tiamin dalam tubuh. Penyakit ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
  • Beri-beri kering

Beri-beri kering umumnya terjadi pada penderita dengan konsumsi kalori rendah dan minim olahraga, yang mengakibatkan sistem saraf seperti gerakan motorik, sensorik, dan refleks terganggu, khususnya pada otot bagian bawah tubuh.

Dalam kondisi yang parah, sindrom Wernicke – Korsakoff dapat terjadi, dengan gejala seperti muntah, nistagmus horizontal atau tremor kecil pada mata, penurunan fungsi penglihatan, demam, ataksia atau penyakit yang mengganggu saraf motorik, dan kerusakan mental secara progresif. Hanya sebagian dari penderita dapat sembuh dari penyakit ini, khususnya jika sudah mencapai tahap kritis.

 
  • Beri-beri basah

Beri-beri basah umumnya menyerang organ jantung. Intensitas penyakit ini dibagi menjadi 3 tahap yang saling berkaitan, mulai dari potensi edema, cedera otot jantung, hingga penyakit beri-beri kardiovaskular akut (Shoshin beri-beri).

Secara umum, peningkatan aktivitas jantung akan mengakibatkan retensi garam dan air pada ginjal. Jika didiamkan, kondisi ini berpotensi mengakibatkan retensi cairan di seluruh tubuh (edema).

Edema yang tidak ditangani dapat mengakibatkan jantung bekerja ekstra keras untuk memasok cairan dan oksigen untuk memenuhi kebutuhan organ lainnya. Hal ini berpotensi mengakibatkan otot jantung cedera dan memicu gejala seperti takikardia (gangguan denyut jantung), hipertensi, serta nyeri dada.

Cedera otot jantung yang tidak ditangani secara dini dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih jauh. Kondisi yang disebut Shoshin beri-beri ini mengakibatkan jantung tidak mampu memasok keperluan organ lainnya dengan baik karena luka yang dialami. Hal ini memicu terjadinya sianosis atau perubahan warna kulit pada kaki dan tangan, takikardia, pembengkakan pembuluh darah di leher, dan berpotensi mengakibatkan gagal jantung. Ini merupakan tahap darurat dan perlu ditangani secara cepat untuk menghindari kematian dalam hitungan jam hingga hari.

Risiko seseorang menderita penyakit beri-beri terkait dengan kebiasaan mengonsumsi beras giling (tanpa kulit) , mengonsumsi alkohol secara berlebihan, dan jarang mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin B1. Adapun beberapa faktor lain yang juga dapat memicu seseorang terserang penyakit ini adalah:
  • Kelainan genetik (jarang terjadi).
  • Hipertiroidisme (kelenjar tiroid overaktif).
  • Menjalani cuci darah (hemodialisis).
  • Mengidap AIDS.
  • Baru melakukan bedah bariatrik atau penurunan berat badan bagi penderita obesitas.
  • Mengonsumsi obat diuretik secara jangka panjang.
  • Mual dan muntah berlebih saat hamil.
  • Ibu menyusui.
  • Bayi yang mengonsumsi susu dengan kadar tiamin rendah.

Gejala Penyakit Beri-beri

Berikut adalah gejala penyakit beri-beri kering yang mungkin dialami:
  • Kesulitan berjalan.
  • Nyeri hingga kehilangan fungsi otot tubuh.
  • Merasakan sensasi geli di titik tertentu.
  • Kehilangan kemampuan rasa atau sensasi di tangan atau kaki.
  • Kelumpuhan tungkai bagian bawah.
  • Nistagmus atau tremor/kejang pada mata.
  • Kesulitan berbicara.
  • Linglung.
  • Mual.
Sedangkan gejala penyakit beri-beri basah yang mungkin dialami adalah:
  • Napas pendek saat melakukan aktivitas tertentu.
  • Kesulitan bernapas saat tidur.
  • Denyut jantung meningkat.
  • Pembengkakan di tungkai bagian bawah.
Dalam kasus tertentu, penyakit beri-beri dapat diasosiasikan dengan sindrom Wernicke – Korsakoff, yaitu kerusakan otak yang diakibatkan oleh defisiensi tiamin. Beberapa gejala yang dapat dialami meliputi:
  • Linglung.
  • Kehilangan kemampuan mengingat dan meresap memori yang baru.
  • Halusinasi.
  • Kehilangan koordinasi otot.
  • Masalah penglihatan, seperti penghlihatan ganda atau kejang mata.

Diagnosis Penyakit Beri-beri

Pemeriksaan yang umumnya dilakukan untuk menegakkan diagnosis beri-beri, yaitu:
  • Pemeriksaan fisik, seperti memeriksa denyut jantung pasien, pembengkakan pada kaki atau tangan, dan kemampuan bernapas.
  • Tes darah, untuk memeriksa kadar tiamin dalam darah, asam piruvat, laktat, alpha ketoglutarate, dan glikosilat.
  • Tes urine, untuk memeriksa kadar tiamin yang dikeluarkan tubuh.
  • Pemindaian (MRI, CT scan, EEG, atau ekokardiogram), untuk memeriksa kondisi organ dalam tubuh.
  • Pemeriksaan neurologi, seperti memeriksa koordinasi tubuh, kemampuan berjalan, refleks, kondisi mata, dan otak.

Pengobatan Penyakit Beri-beri

Penderita penyakit beri-beri umumnya memiliki kemampuan bekerja yang terbatas, dikarenakan pasokan tenaga di dalam tubuh tidak seimbang. Selain itu, tidak mudah bagi penderita untuk pulih dari penyakit ini jika telah memasuki tahap kritis. Kondisi seperti hilang ingatan permanen dan gagal jantung adalah sebagian dari risiko besar yang mungkin terjadi jika penyakit beri-beri tidak ditangani secara dini.

Penyakit beri-beri secara umum dapat disembuhkan menggunakan suplemen tiamin, baik yang diminum secara oral atau melalui suntikan untuk mengganti kandungan tiamin yang kurang dalam tubuh. Selain itu, dokter mungkin akan meresepkan vitamin atau obat-obatan lain sesuai kondisi yang dialami.

Selama pengobatan, pasien akan disarankan untuk melakukan tes darah secara rutin untuk memonitor efek pengobatan yang diberikan.

Komplikasi Penyakit Beri-beri

Penyakit beri-beri yang tidak ditangani secara tepat berpotensi merusak organ tubuh dan mengakibatkan komplikasi, seperti
  • Gangguan psikotik.
  • Anafilaktik atau reaksi alergi berat.
  • Gagal jantung kongestif.
  • Koma.
  • Kematian.

Pencegahan Penyakit Beri-beri

Untuk mencegah terserang penyakit beri-beri, terdapat serangkaian makanan dengan kandungan tiamin tinggi yang dapat dikonsumsi, di antaranya:
  • Daging.
  • Ikan.
  • Kacang-kacangan (khususnya kacang polong).
  • Biji-bijian.
  • Nasi.
  • Susu.
  • Sereal.
  • Asparagus.
  • Bayam.
  • Labu Acorn.
  • Taoge.
  • Bit hijau.
Hindari memproses atau memasak makanan tersebut untuk waktu yang lama karena akan menurunkan kadar tiamin yang terkandung di dalamnya. Usahakan untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan antitiamin, seperti teh, kopi, dan kacang pinang.

Selain itu, tubuh tidak mampu meresap tiamin dalam kondisi panas. Untuk itu, hindari konsumsi alkohol berlebih untuk menekan risiko terserang penyakit beri-beri. Konsumsi suplemen vitamin B1 secara rutin berdasarkan resep dokter bisa dilakukan untuk menggantikan kadar tiamin yang hilang.

Bagi ibu yang memiliki bayi, pastikan untuk memeriksa kandungan vitamin B1 di dalam susu formula sebelum membeli, agar kebutuhan zat tersebut pada sang bayi bisa terpenuhi.