Penyakit Sapi Gila

Pengertian Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila (mad cow disease) adalah gangguan pada otak yang disebabkan oleh infeksi prion (protein abnormal pada hewan ternak). Prion banyak ditemukan di beberapa bagian tubuh hewan ternak, seperti di otak, mata, dan saraf tulang belakang. Jika sudah menyerang otak, prion akan berkembang dan merusak sistem saraf.

Dalam dunia kedokteran, penyakit sapi gila pada hewan ternak dikenal dengan nama bovine spongiform encephalopathy (BSE). Sedangkan pada manusia, penyakit ini dikenal dengan istilah penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD), dan banyak ditemukan di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

Penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD) merupakan gangguan otak parah yang bisa menyebabkan dampak fatal, bahkan sampai berujung pada kematian. Gejala penyakit ini umumnya mirip dengan gejala demensia, penyakit Alzheimer, dan gangguan otak lainnya, namun infeksi ini lebih agresif dan bertambah parah dalam waktu singkat.

Penyakit sapi gila relatif langka dan jarang ditemukan. Menurut penelitian, penyakit ini menyerang satu dari sejuta orang pertahun dan banyak ditemukan pada orang dewasa.

Secara umum ada empat jenis penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD), yaitu:

  • Sporadic CJD. Merupakan jenis penyakit sapi gila yang paling sering ditemukan. Gangguan muncul sebagai perubahan protein otak menjadi protein abnormal, yang disebut dengan prion. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan penyakit jenis ini terjadi pada orang dewasa berusia 45-75 tahun. Gejala-gejalanya mulai berkembang pada usia 60-65 tahun.
  • Variant CJD (vCJD). Diakibatkan oleh konsumsi daging ternak yang positif terinfeksi penyakit sapi gila dan mengandung prion. Masa inkubasi jenis penyakit sapi gila ini sangat lama, bisa lebih dari 10 tahun.
  • Familial CJD. Merupakan jenis penyakit sapi gila yang paling jarang ditemukan. Seseorang menderita kelainan ini karena diturunkan dalam keluarga. Jenis ini menyerang setiap satu dari sembilan juta orang di dunia.
  • Iatrogenic CJD. Ditularkan secara tidak sengaja melalui prosedur medis seperti pengobatan dan operasi. Sejumlah peralatan medis yang tidak disterilkan bisa menjadi media penularan penyakit sapi gila.

Gejala Penyakit Sapi Gila

Kebanyakan penderita penyakit sapi gila meninggal dunia dalam waktu setahun sejak gejala pertama muncul. Umumnya, penyakit sapi gila ditandai dengan kemunculan beberapa gejala di bawah ini:
  • Gangguan ingatan dan fungsi otak lain.
  • Perubahan kepribadian.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Bicara tidak jelas dan pengelihatan terganggu.
  • Mengalami gangguan psikologis seperti cemas depresi.
  • Beberapa bagian tubuh kesemutan dan sulit digerakkan.
  • Mengalami insomnsia, demensia, dan dapat berlanjut menjadi koma.
Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit sapi gila bisa menyebabkan komplikasi pada otak. Jika hal itu terjadi, seseorang akan mengalami kesulitan dalam berpikir, mengingat, mengasingkan diri dari teman serta keluarga, dan umumnya menjadi tidak peduli terhadap diri sendiri. Yang paling parah, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Penyebab Penyakit Sapi Gila

Sampai saat ini belum diketahui apa penyebab berubahnya protein normal menjadi protein prion, yang dapat terjadi di otak, usus kecil, atau saraf tulang belakang hewan ternak. Penyakit ini bisa menular dari satu hewan ke hewan lain atau bahkan ke manusia.

Penyakit sapi gila menular ketika hewan yang terinfeksi disembelih, kemudian bagian-bagian tubuh hewan yang terinfeksi itu digunakan untuk pakan ternak atau dikonsumsi manusia. Dengan kata lain, seseorang berisiko tertular penyakit sapi gila jika mereka memakan bagian otak dan tulang belakang dari hewan yang terinfeksi.

Meski tidak diketahui penyebab pastinya, faktor genetik dan usia diyakini bisa meningkatkan risiko penyakit sapi gila. Seseorang dengan familial CJD dapat menurunkan kondisi ini kepada keturunannya. Dari segi usia, orang dengan usia di atas 60 tahun lebih rentan mengalami sporadic CJD.

Diagnosis Penyakit Sapi Gila

Dugaan terhadap penyakit sapi gila ditentukan berdasarkan perkembangan gejala dan riwayat kesehatan pasien. Satu-satunya jalan untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami penyakit sapi gila adalah dengan biopsi otak melalui otopsi, yang dilakukan apabila penderita sudah meninggal dunia.

Namun demikian, terdapat berbagai prosedur diagnosis yang dapat membantu menegakkan diagnosa penyakit ini, antara lain:

  • Pemeriksaan neurologis. Pada tahap awal, dokter neurologi (spesialis saraf) akan memeriksa kemungkinan adanya penyakit lain yang memiliki gejala serupa, misalnya penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, atau tumor otak.
  • Electroencephalogram (EEG). Untuk merekam aktivitas otak dan membantu mendeteksi aktivitas elektrik yang tidak normal pada penderita sporadic CJD.
  • Pemindaian dengan MRI. Menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk mendapatkan gambaran detail tentang kondisi otak pasien.
  • Pungsi lumbal. Pengambilan sampel cairan otak dari area tulang belakang pasien untuk diteliti lebih lanjut.
  • Pemeriksaan genetik. Tes darah dilakukan untuk mendeteksi potensi terjadinya mutasi dalam gen dan memastikan adanya faktor keturunan.
  • Biopsi amandel. Pengambilan sampel jaringan amandel untuk melihat kemungkinan adanya prion di amandel penderita variant CJD.

Pengobatan Penyakit Sapi Gila

Tidak ada pengobatan khusus yang terbukti efektif untuk mengatasi penyakit sapi gila. Sejumlah obat-obatan sudah diteliti, namun tidak ada dampak nyata dalam penyembuhan penyakit ini. Pengobatan dengan antivirus dan antibiotik pun tak memberikan pengaruh positif pada kondisi pasien.

Penanganan yang dapat diberikan adalah obat-obatan atau tindakan medis untuk meredakan gejala yang muncul pada pasien. Contohnya, pemberian obat antidepresan untuk meredakan gangguan psikologis atau memberikan clonazepam dan natrium valproate untuk meredakan kram otot.

Pencegahan Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila seringkali terjadi secara spontan, sehingga sulit untuk dicegah. Sterilisasi untuk mencegah agar bakteri dan virus tidak menyebar ke seluruh tubuh juga tidak efektif. Meski begitu, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan penyakit sapi gila, di antaranya:
  • Memusnahkan sumber infeksi. Salah satu cara meminimalisasi penularan penyakit sapi gila adalah dengan memusnahkan bangkai daging yang berpotensi menularkan penyakit ini, baik ke manusia maupun hewan lainnya.
  • Transfusi darah dengan aman. Orang yang berisiko tertular penyakit sapi gila dilarang melakukan donor darah untuk mengurangi risiko penularan.
  • Membatasi daging impor. Terutama daging impor dari negara-negara yang rawan terhadap penyakit sapi gila, seperti Inggris, Skotlandia, dan Irlandia.
  • Pengawasan hewan ternak. Cara ini dilakukan mulai dari pengendalian pakan ternak, pengobatan hewan yang sakit, hingga pembatasan konsumsi hewan ternak yang berisiko mengalami dan menularkan penyakit sapi gila.