Perhatikan Bahaya Aborsi Sebelum Melakukannya

Menggugurkan kandungan atau aborsi memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan. Bahaya aborsi semakin meningkat jika dilakukan tanpa pengetahuan medis yang dilakukan oleh ahli.

Aborsi merupakan prosedur tindakan mengakhiri kehamilan. Aborsi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan yang diminum atau melalui tindakan operasi. Umumnya, aborsi dilakukan untuk usia kehamilan di bawah 24 minggu.

perhatikan bahaya aborsi sebelum melakukannya - alodokter

Risiko Komplikasi

Bahaya aborsi perlu diketahui karena adanya risiko komplikasi. Infeksi merupakan salah satu yang paling sering dihadapi saat aborsi. Selain infeksi, ada pula risiko mengalami kerusakan pada leher rahim. Salah satu kerusakan yang bisa terjadi adalah adanya lubang di leher rahim. Risiko ini semakin meningkat seiring dengan semakin besarnya usia kehamilan. Demikian juga risiko perdarahan yang serius.

Aborsi kehamilan di bawah 13 minggu memiliki risiko lebih kecil dibandingkan kehamilan usia di atas 20 minggu. Jika terjadi perdarahan serius, perlu segera dilakukan transfusi darah.

Meski kemungkinannya kecil, ada juga bahaya aborsi berupa kerusakan pada rahim. Terutama jika aborsi dilakukan pada usia 12 hingga 24 minggu, baik aborsi melalui obat-obatan atau secara operasi.

Selain itu, ada pula beberapa efek samping yang sering dikeluhkan setelah aborsi antara lain sakit atau kram perut, mual, muntah, diare, atau perdarahan ringan yang dapat bertahan hingga 2-4 minggu setelah aborsi. Efek samping aborsi dapat berbeda-beda pada setiap wanita.

Setelah 4 hingga 6 minggu pasca-aborsi, maka haid akan kembali seperti biasa. Meskipun begitu, awasi tanda-tanda komplikasi seperti nyeri hebat yang tidak bisa dikontrol dengan obat antinyeri yang tersedia bebas di pasaran, demam tinggi, dan keluarnya cairan berbau dari vagina.

Kemungkinan Kembali Hamil

Belum terbukti bahwa aborsi akan memengaruhi kemampuan wanita untuk hamil kembali, yang didukung oleh beragam penelitian. Sebagian wanita, dapat segera hamil lagi setelah aborsi.

Meski untuk sebagian wanita, aborsi tidak akan memengaruhi kemampuan untuk kembali hamil, namun ada risiko gangguan kesuburan. Terutama jika terjadi infeksi saat aborsi yang tidak ditangani dengan tepat. Infeksi tersebut dapat menyebar hingga saluran telur dan indung telur, sehingga memicu risiko kehamilan ektopik hingga gangguan kesuburan.

Selain itu, ada bukti penelitian yang menunjukkan, wanita yang pernah melakukan aborsi melalui operasi berisiko lebih tinggi mengalami persalinan prematur. Risiko persalinan di bawah usia kehamilan 37 minggu ini juga semakin meningkat pada para wanita yang pernah melakukan beberapa kali aborsi. Ditambah lagi dengan risiko berat badan bayi rendah, perdarahan saat kehamilan dan gangguan pada plasenta.

Konsultasikan dengan dokter mengenai bahaya aborsi beserta risiko komplikasinya lebih lanjut. Selain itu, perhatikan pula aturan hukum mengenai aborsi yang diperbolehkan, sebab jika menyalahi aturan, praktik ini dapat dikenakan sanksi hukum yang tidak ringan.