Pertimbangkan Lagi, Penggunaan Empeng pada Bayi Bisa Berisiko

Selama bertahun-tahun, dot bayi atau empeng digunakan untuk ‘menyumpal’ mulut Si Kecil supaya anteng alias tenang. Apakah Bunda termasuk yang mempraktikkan hal ini? Ada baiknya Bunda memerhatikan terlebih dahulu risiko yang mengintai bayi bila menggunakan empeng.

Secara alamiah, mengisap memang sudah merupakan naluri bayi, termasuk mengisap jempol atau jari, maupun empeng.

Sebagai sisi positif, empeng dapat membantu menenangkan bayi selama prosedur medis umum, misalnya saat suntik vaksinasi atau saat tes darah. Kemudian untuk bayi yang lebih besar, empeng bisa menjadi mainan yang membuatnya merasa nyaman. Penggunaan empeng saat tidur disebut-sebut dapat menurunkan risiko sindrom kematian mendadak pada bayi (sudden infant death syndrome).

Namun, bila Bunda ingin memberikan empeng untuk bayi, pertimbangkan juga risiko yang dapat terjadi, meskipun jauh lebih sedikit dibandingkan manfaatnya, terutama seiring bertambahnya usia anak.

Simak beberapa efek negatif penggunaan empeng berikut.

  • Menghambat proses menyusui Hal ini disebabkan mengisap puting payudara berbeda dengan mengisap empeng maupun dot. Pada sebagian bayi, perbedaan puting dan empeng ini bisa membuat bingung, kondisi ini sering dikenal sebagai bingung puting. Selain itu, memberikan empeng terlalu dini dapat membuat bayi kesulitan untuk belajar menyusu langsung dari payudara. Agar bayimu tidak lebih memilih empeng atau dot dibandingkan puting payudaramu sendiri, hindari memberikannya empeng atau dot pada minggu-minggu awal setelah lahir, hingga Air Susu Ibu (ASI) bisa keluar dengan lancar dan bayi terampil menyusu dari payudara langsung.
  • Menimbulkan masalah pada gigi Bila terus menggunakan empeng, gigi anak bisa menjadi tidak sejajar atau tidak tumbuh dengan normal. Tanda-tanda masalahnya mungkin baru akan terlihat setelah anak berusia dua tahun. Gigi depannya mungkin tumbuh secara miring atau cenderung maju ke depan, dan masalah ini bisa semakin buruk seiring berjalannya waktu.Sebenarnya sebelum anak berusia dua tahun, masalah pertumbuhan gigi dapat membaik dengan sendirinya dalam enam bulan berhenti menggunakan empeng. Namun, bila Si Kecil terus melanjutkan penggunaan empeng, bahkan setelah usia empat tahun yang mana gigi tetap sudah mulai tumbuh, masalah gigi ini bisa jadi menetap dan memiliki efek jangka panjang, bahkan hingga ia dewasa.
  • Berisiko mengandung kuman Bukan hanya berisiko membuat masalah pada susunan gigi, empeng memiliki risiko terpapar kuman, sehingga meningkatkan risiko infeksi pada rongga mulut termasuk gigi. Hal ini secara umum juga menyebabkan Si Kecil rentan sakit, terutama jika Bunda tidak rajin mencuci empengnya dengan benar.
  • Rentan terkena infeksi telinga Menurut sebuah penelitian, anak-anak yang menggunakan empeng menjadi lebih mungkin mengalami infeksi telinga berulang, dibanding anak yang tidak menggunakan empeng. Dengan membatasi pemakaian empeng hanya hingga anak tertidur, diketahui sudah dapat mengurangi risiko terkena infeksi telinga pada anak pengguna empeng.Meski belum ditemukan secara jelas kaitannya, namun diperkirakan karena orang tua cenderung menggunakan empeng untuk menenangkan anak, maka kadang menjadi lalai untuk mencari tau apa yang sebenarnya menyebabkan anak rewel.
  • Ketergantungan pada empeng Bila Si Kecil terbiasa menggunakan empeng saat tidur malam, ia akan menangis di tengah malam ketika empengnya terlepas, dan hanya akan tenang bila sudah mendapatkan empeng. Hal ini tentunya akan menyulitkan, dan juga kurang baik untuk tumbuh kembang Si Kecil.
Jika anak Bunda termasuk pengguna empeng, Bunda dapat membantu menghentikan kebiasaan ini dengan memberikan alternatif empeng untuk menenangkannya. Misalnya, untuk bayi baru lahir, jangan jadikan empeng sebagai pertolongan pertama ketika Si Kecil rewel, Bunda bisa mencoba berbagai cara lain seperti membedongnya, menggoyangkannya secara lembut, menyanyikan lagu, atau menyetel musik lembut agar Si Kecil tenang. Cara ini bisa efektif menggantikan peran empeng.

Sementara untuk anak yang lebih besar, Bunda bisa mengalihkan perhatiannya pada empeng dengan memberikan mainan, atau benda-benda menarik, serta mengajaknya bermain. Bila Bunda kesulitan, jangan sungkan untuk berkonsultasi pada dokter anak.