Pilih Kandungan Obat Batuk dengan Pseudoephedrine atau Phenylephrine

Meskipun obat flu dan batuk umumnya tergolong obat bebas, tetapi ternyata efek kandungan di dalamnya dapat disalahgunakan sebagai psikotropika (obat yang dapat memengaruhi pikiran, perilaku, dan emosi seseorang) yang dapat menyebabkan kecanduan dan membahayakan penggunanya. 

Pseudoephedrine dan phenylephrine (PE) adalah dua bahan yang umumnya terkandung di dalam obat bebas untuk menangani flu dan batuk. Keduanya adalah obat untuk meredakan hidung tersumbat serta meredakan tekanan pada sinus akibat demam, alergi, dan pilek.

bodrex-alodokter

Persamaan Pseudoephedrine dan Phenylephrine

Secara umum, karena keduanya adalah dekongestan atau pelega napas, maka pseudoephedrine dan PE sebaiknya tidak dikonsumsi secara bersamaan kecuali dianjurkan oleh dokter dengan cara tertentu. Jika digunakan bersama, keduanya dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah.

Meski obat yang mengandung pseudoephedrine ataupun PE masih tergolong obat bebas di Indonesia, tapi disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat-obatan tersebut jika Anda mengidap kondisi berikut:

Konsumsi obat yang mengandung pseudoephedrine juga sebaiknya dikonsultasikan lebih dulu ke dokter jika Anda mengidap glaukoma. Begitu juga jika Anda sedang hamil dan/atau menyusui, sangat disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter sebelum mengonsumsi obat yang mengandung pseudoephedrine ataupun PE. Keduanya dapat meningkatkan risiko cacat bawaan dan mengurangi tingkat produksi ASI. Obat-obatan ini juga dapat masuk ke dalam ASI, sehingga pemberiannya pada ibu menyusui harus disertai persetujuan dokter.

Konsumsi obat-obatan lain, seperti vitamin, obat herba, dan obat lain dapat membuat pseudoephedrine maupun PE tidak bekerja secara efektif, bahkan dapat menyebabkan reaksi yang berbahaya. Komunikasikan kepada dokter jika Anda sedang menjalani pengobatan lain atau mengonsumsi suplemen tertentu untuk mencegah interaksi yang tidak diinginkan, termasuk obat-obatan untuk menangani asma, menurunkan berat badan, dan meningkatkan nafsu makan.

Obat-obat antidepresan golongan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) serta antidepresan yang mengandung amitriptilline, doxepin, dan isocarboxazid adalah kelompok obat yang dapat berinteraksi dengan pseudoephedrine dan PE sehingga tidak boleh dikonsumsi bersamaan.

Konsumsi Pseudoephedrine Dibatasi

Pseudoephedrine bekerja dengan merelaksasi otot di sekitar saluran pernapasan agar lebih banyak udara masuk. Perlu diperhatikan bahwa meski dapat meredakan gejala, pseudoephedrine tidak mempercepat proses penyembuhan. Di samping itu, sayangnya pseudoephedrine ternyata kerap digunakan untuk pembuatan methamphetamine secara ilegal yang dapat menimbulkan kecanduan. Methamphetamine merupakan obat psikoaktif yang dapat memengaruhi emosi, perasaan, dan persepsi terhadap kenyataan penggunanya, atau biasa dikenal sebagai narkoba.

Efek stimulan menyebabkan obat yang mengandung pseudoephedrine tidak jarang disalahgunakan sebagai bahan psikotropika yang memberikan rasa gembira dan hiperaktif. Di masa lalu, obat ini juga pernah digunakan atlet sebagai doping untuk meningkatkan performa. Bahkan mengonsumsi terlalu banyak kafein dapat memperburuk efek samping pseudoephedrine.

Inilah mengapa di negara-negara tertentu, walau obat yang mengandung PE dikategorikan sebagai obat bebas, tetapi yang mengandung pseudoephedrine penggunaannya sudah sangat dibatasi di beberapa negara.

Penggunaan Pseudoephedrine secara Berlebihan

Di samping itu, seperti obat pada umumnya, pseudoephedrine juga mengandung efek samping. Efek samping pseudoephedrine yang umum dirasakan antara lain kemunculan rasa mual, muntah, lemas, sakit kepala, hingga insomnia, sakit perut, sesak napas, cemas, dan perubahan detak jantung. Selain itu, jika dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan lain, pseudoephedrine dapat menimbulkan tremor, kecemasan, halusinasi, kejang, sakit saat buang air kecil, sistem kardiovaskular yang terganggu.

PE bekerja dengan mengurangi pembengkakan pada telinga dan hidung sehingga dapat mengurangi ketidaknyamanan dan melegakan pernapasan. Namun seperti pseudoephedrine, obat ini sebaiknya tidak digunakan pada anak di bawah usia 6 tahun. Beberapa produk bentuk lain dari PE sebaiknya bahkan tidak dikonsumsi anak di bawah usia 12 tahun.

Gunakan obat ini sesuai petunjuk penggunaan dan konsumsi sesuai dosis yang dianjurkan. PE banyak digunakan sebagai bahan obat batuk yang tidak menyebabkan kantuk. Walau demikian, tetap konsultasikan penggunaan obat ini dengan dokter terkait penggunannya.

 

sponsored by: