Pilihan Alat KB yang Tidak Bikin Gemuk

Bagi sebagian wanita, kenaikan berat badan menjadi momok menakutkan dalam menggunakan kontrasepsi atau KB. Namun Anda perlu tahu, terdapat beberapa jenis KB yang tidak bikin gemuk. Apa saja? Yuk, simak ulasan berikut ini!

Ada beragam pilihan jenis kontrasepsi untuk menunda kehamilan, seperti pil KB, suntik, koyo (patch), susuk KB, IUD, diafragma, hingga kondom, yang masing-masing memiliki manfaat serta efek samping yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya dianggap memiliki efek samping kenaikan berat badan. Disebutkan, jenis KB yang memiliki tingkat estrogen tinggi dapat meningkatkan nafsu makan dan meningkatkan retensi (penimbunan) cairan dalam tubuh, yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Oleh karena itu, banyak wanita yang ingin menghindari kegemukan lebih memilih untuk memakai kontrasepsi non-hormonal.

Beragam Jenis KB yang Tidak Bikin Gemuk

Sebenarnya, semua jenis KB tidak bikin gemuk, termasuk KB hormonal. Jenis-jenis KB hormonal yang dipakai saat ini tidak mengandung hormon dalam dosis tinggi, jadi efeknya terhadap naiknya berat badan tidak siginifikan. Kalaupun ada pertambahan berat badan, itu karena penimbunan cairan yang sifatnya sementara, dan akan kembali normal dalam waktu 2 sampai 3 bulan. Jadi, bukan karena bertambahnya lemak.

Tetapi apabila Anda memilih untuk tidak menggunakan KB hormonal, ada bermacam jenis KB lainnya yang tidak menggunakan hormon tetapi tetap efektif untuk mencegah kehamilan. Karena tidak memengaruhi hormon dalam tubuh, maka jenis kontrasepsi ini tidak mengganggu masa menyusui, dan juga tidak memiliki efek samping yang signifikan. Alat-alat kontrasespsi non-hormonal ini mencegah kehamilan dengan cara menghalangi atau mencegah sperma bertemu dengan sel telur, seperti IUD, kondom, diafragma, spermisida atau KB alami. Mari kita bahas beberapa di antaranya.

  • IUD non hormonal. IUD adalah alat berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di dalam rahim dan berguna untuk menghadang sperma agar tidak membuahi sel telur. Selain itu, IUD terbuat dari tembaga, yang bekerja sebagai spermisida (bersifat membunuh sperma). Jenis kontrasepsi ini dapat berfungsi selama 10 tahun.
  • Spermisida. Spermisida bisa berbentuk busa, jel, atau krim, yang berfungsi membunuh sel  sperma. Bahan ini dimasukkan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual. Beberapa jenis, perlu dimasukkan 30 menit sebelumnya.
  • Cervical cap. Cervical cap atau biasa dikenal dengan The Fem Cap berbentuk menyerupai diafragma namun lebih kecil, dan digunakan bersama dengan spermisida. Kontrasepsi jenis ini diletakkan pada mulut rahim sehingga menutup jalan menuju rahim. Pemasangan servical cap ini harus dilakukan oleh dokter.
  • Diafragma. Alat kontrasepsi yang satu ini menyerupai kubah yang diletakkan pada mulut rahim sebelum berhubungan seksual. Sama seperti cervical cap, alat ini juga digunakan bersama dengan spermisida.
  • Kondom. Terbuat dari lateks atau karet, dan berfungsi untuk mencegah sperma masuk ke dalam liang vagina dan rongga rahim. Kondom tersedia untuk pria dan untuk wanita. Berbeda dengan kondom pria yang baru dipasang pada saat akan berhubungan seksual, kondom wanita dapat dipasang sampai delapan jam sebelumnya.
Untuk memutuskan jenis KB mana yang paling cocok untuk Anda, ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, di antaranya usia, riwayat kesehatan, obat yang sedang Anda konsumsi, gaya hidup (misalnya merokok), dan kebutuhan. Anda dianjurkan untuk tetap berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan saran terbaik terkait metode kontrasepsi apa yang aman dan sesuai kondisi Anda.