Polimialgia Reumatik, Penyebab Nyeri Otot di Pagi Hari

Polimialgia reumatik adalah penyakit inflamasi yang menyebabkan nyeri dan kekakuan pada otot dan sendi. Penyakit ini membuat otot-otot di sekitar bahu, leher, dan panggul menjadi kaku, nyeri, dan meradang. Kondisi ini sering terdiagnosis sebagai rheumatoid arthritis atau penyakit lain karena gejalanya yang mirip.

Penyakit ini biasanya menyerang orang lanjut usia (terutama wanita) yang sudah berusia di atas 65 tahun, dan jarang menimpa mereka yang berumur di bawah 50 tahun. Oleh karena itulah, para ahli berpendapat jika polimialgia reumatik mungkin dipicu oleh faktor usia, selain faktor genetik dan lingkungan. Penyebab penyakit ini belum diketahui dengan jelas, namun diduga berpengaruh terhadap proses peradangan dan kemungkinan infeksi.

Polimialgia Reumatik Penyebab Nyeri Otot di Pagi Hari - alodokter

Penyakit ini juga sering terjadi pada penyakit arthritis temporalis (giant cell arteritis). Sekitar 10–15% penderita polimialgia reumatik mengalami kondisi arteritis temporalis, gejalanya bisa berupa nyeri kepala, nyeri rahang, gangguan penglihatan, dan nyeri tekan pada kulit kepala. Jika tidak segera diobati, kondisi ini dapat menyebabkan stroke atau kebutaan.

Gejala Polimialgia Reumatik

Polimialgia reumatik bisa dikenali dari ciri-ciri uniknya, yaitu otot terasa kaku di pagi hari dan bertahan hingga 45 menit, atau membaik seiring berjalannya hari. Gejala pada penyakit ini dapat muncul secara mendadak. Penderita polimialgia reumatik juga akan merasakan sakit atau nyeri di bahu, leher, lengan atas, bokong, panggul, dan paha. Tak ketinggalan demam ringan, lelah, tidak enak badan, hilang nafsu makan, berat badan turun, susah bergerak, anemia, hingga depresi juga bisa menjadi gejala terjadinya polimialgia reumatik.

Gejala polimialgia reumatik tersebut biasanya berkembang dengan cepat. Ada yang muncul bertahap selama beberapa hari, tapi ada pula yang muncul dalam satu malam. Bagi sebagian penderitanya, gejala polimialgia reumatik bisa bertambah parah jika mereka tidak cukup bergerak dan bertahan dalam satu posisi dalam jangka waktu yang lama.

Jika parah sekali, rasa sakit, nyeri, dan kaku karena polimialgia reumatik bahkan bisa membuat penderitanya sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berdiri dari kursi, berpakaian, atau masuk ke mobil. Terkadang, gejala polimialgia reumatik bahkan bisa membuat mereka susah tidur.

Untuk menentukan diagnosis, dokter perlu menelusuri riwayat penyakit dan melakukan pemeriksaan fisik. Tidak ada pemeriksaan khusus yang dapat mendiagnosis secara pasti penyakit ini. Tapi dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap, laju endap darah (LED), atau C-Reactive Protein (CRP), Rontgen atau USG pada sendi atau tulang yang mengalami keluhan. Karena gejalanya yang mirip dengan rheumatoid arthritis atau lupus, kadang mungkin diperlukan pemeriksaan khusus, yaitu tes antibodi faktor rheumatoid. Jika hasil pemeriksaan ini positif kemungkinan gejala disebabkan oleh rheumatoid arthritis. Selain itu, jika terdapat tanda gejala yang mengarah pada arteritis temporalis, dokter mungkin akan menganjurkan pemeriksaan biopsi pembuluh darah di kepala (arteri temporalis).

Pengobatan Polimialgia Reumatik

Hingga saat ini, polimialgia reumatik belum ada obatnya. Pengobatan yang tersedia ditujukan untuk meredakan gejala sakit, nyeri, dan kaku. Biasanya dokter akan menyarankan untuk mengonsumsi obat kortikosteroid dosis rendah, seperti prednison, untuk membantu mengurangi radang. Ditambah suplemen kalsium dan vitamin D untuk membantu mencegah kekeroposan tulang akibat pengobatan kortikosteroid tersebut.

Penderita polimialgia reumatik juga perlu melanjutkan pengobatan kortikosteroid setidaknya selama satu tahun, bahkan ada juga yang menyarankan selama 18 bulan hingga 2 tahun. Selama pengobatan, diperlukan pemeriksaan rutin. Hal ini dilakukan untuk memantau kerja obat dan memeriksa apakah ada efek samping yang diderita selama meminum obat tersebut. Pengobatan kortikosteroid akan memerlukan dosis yang lebih tinggi pada gejala yang disertai tanda-tanda arteritis temporalis.

Penggunaan kortikosteroid dosis tinggi atau dalam jangka panjang berisiko menimbulkan beberapa efek samping, seperti meningkatkan tekanan darah dan gula darah, hipokalemia, pembengkakan pada wajah atau kaki, nyeri kepala, glaukoma, katarak, luka sulit sembuh, tukak lambung, gangguan menstruasi, sindrom Cushing yang bercirikan wajah sembab, penumpukan lemak di perut dan tengkuk, stretch mark pada perut, paha, lengan, dan payudara, serta kulit yang menipis. Jika terdapat gejala-gejala tersebut setelah pengobatan kortikosteroid, Anda perlu segera memeriksakan diri kembali ke dokter.

Nah, untuk membatasi efek samping obat kortikosteroid, pasien polimialgia reumatik disarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

  • Mengonsumsi makanan sehat (buah-buahan, sayur-sayuran, gandum utuh, daging rendah lemak, dan produk olahan susu) dan membatasi asupan garam guna mencegah tekanan darah tinggi dan penumpukan cairan.
  • Rajin berolahraga. Tentunya, jenis olahraga yang dilakukan harus didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter dan harus bisa menjaga kekuatan otot dan tulang.
  • Gunakan alat bantu untuk mempermudah aktivitas sehari-hari dan hindari pemakaian sepatu hak tinggi.

Jika obat kortikosteroid tidak memberikan efek yang diharapkan, atau gejala muncul kembali setelah dosis obat dikurangi, maka dapat digunakan obat methotrexate. Biasanya obat ini digunakan untuk mengobati kanker. Terapi agen biologis seperti anti-interleukin 6 juga dapat digunakan untuk mengobati gejala yang tidak mereda dengan kortikosteroid. Tetapi efektivitas dan keamanan terapi dengan agen biologis untuk mengobati polimialgia reumatik masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Yang perlu diingat, jika Anda atau keluarga menderita polimialgia reumatik dan mengalami migrain, rahang sakit saat mengunyah, tiba-tiba kehilangan penglihatan, lelah, mati rasa, atau tuli, segera pergi ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan yang cepat.