Potensi Enzim Ptialin dalam Mendiagnosis Stres dan Kanker

Enzim memegang peranan penting dalam sistem pencernaan manusia. Salah satunya adalah enzim ptialin yang merupakan bentuk dari enzim pada air liur. Selain berperan dalam memfasilitasi proses pencernaan di mulut, kondisi enzim ptialin dipercaya mampu dijadikan sebagai indikasi stres kronis dan kanker.

Enzim ptialin termasuk enzim amilase yang bertugas memecah pati menjadi produk akhir karbohidrat sederhana yang disebut monosakarida. Proses pemecahan ini terjadi melalui proses hidrolisis yang menghasilkan oligosakarida dan maltosa. Kisaran persentase enzim amilase pada kelenjar air liur adalah 55-60 persen dan sisanya dihasilkan oleh pankreas.

ptyalin enzym_compress

Peran Saliva, Salah Satunya sebagai Rumah Enzim Ptialin

Kelancaran sistem pencernaan sangat bergantung kepada produksi dan kualitas air liur atau saliva. Saliva merupakan cairan tidak berwarna yang dibentuk dari sejumlah kelenjar di dalam mulut. Saliva menghasilkan senyawa penting yang dibutuhkan tubuh dalam mencerna makanan. Selain itu, saliva berperan:

Salah satu komponen yang paling banyak ditemui di dalam air liur adalah enzim alfa amilase atau dikenal dengan enzim ptialin (salivary amylase). Air liur diibaratkan sebagai rumah bagi ptialin yang di dalamnya terkandung protein sekitar 10-20 persen yang bertugas memperlancar pencernaan. Air liur berperan mencerna pati sejak awal dengan bantuan kehadiran enzim ptialin. Ketidakhadiran enzim ptialin yang disebabkan oleh berbagai macam kondisi dapat mengakibatkan malabsorpsi. Malabsorpsi diartikan sebagai tidak diserapnya nutrisi oleh usus akibat makanan yang tidak tercerna.

Kaitan enzim ptialin dengan fenomena stres kronis

Sebuah penelitian berhasil mengemukakan tentang kegunaan enzim salivary alfa amilase atau enzim ptialin sebagai indikator objektif pada fenomena masalah stres kronis.

Studi tersebut melibatkan 100 orang yang dibagi ke dalam dua kelompok yang mana kelompok pertama terdiri atas orang-orang dengan stres kronis dan kelompok kedua terdiri atas individu-individu yang tidak memiliki masalah stres.

Penelitian diawali dengan mengisi kuesioner psikometris kemudian dilanjutkan dengan mempelajari riwayat dan mengumpulkan sekitar satu mililiter air liur dari tiap individu. Selanjutnya dilakukan pembandingan tingkat enzim ptialin antar kedua grup tersebut dan diperoleh hasil yang signifikan.

Hasil penelitian menyimpulkan adanya kaitan antara produksi enzim ptialin dipicu oleh kondisi stres. Hal ini ditandai dengan meningkatnya aktivitas enzim ptialin secara signifikan pada kelompok yang mengalami stres psikososial kronis yang kemudian bisa dijadikan acuan pada kondisi pemicunya, yaitu stres kronis.

Enzim ptialin sebagai indikator kanker?

Dapatkah enzim ptialin mengindikasikan penyakit kanker? Sebuah penelitian mengumpulkan sampel dari 90 orang yang kemudian dibagi ke dalam dua kelompok, orang sehat dan pasien dengan kanker. Kelompok dengan penyakit kanker dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu: kelompok pasien kanker yang belum menjalani pengobatan apa pun dan kelompok pasien kanker yang masih menjalani pengobatan.

Hasil akhir dari penelitian merangkum dua hal, yaitu:

  • Adanya penurunan signifikan pada tingkat enzim ptialin pada kelompok pasien kanker yang masih menjalani pengobatan dibandingkan kelompok lain.
  • Terjadi penurunan signifikan pada tingkat derajat keasaman (pH) dari dua kelompok pasien kanker yang belum dan sedang menjalani pengobatan dibandingkan dengan kelompok yang sehat.

Hasil penelitian menyimpulkan air liur berpotensi menjadi alat bantu diagnostik pilihan pertama berkat kemajuan teknologi pendeteksi dengan relevansi klinis. Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien-pasien kanker yang tidak menjalani pengobatan cenderung memiliki kadar pH air liur yang rendah.

Walau demikian, hasil penelitian ini masih dapat dikembangkan lebih lanjut. Dengan menggunakan sampel lebih besar untuk membuktikan keterkaitan antara enzim ptialin sebagai indikator penyakit kanker.