Proses dan Risiko Transplantasi Jantung

Transplantasi jantung adalah usaha pamungkas jika semua pengobatan penyakit jantung yang dilakukan pasien tidak memberikan hasil. Proses ini adalah usaha terakhir dalam memperbaiki kesehatan pasien.

Prosedur ini termasuk langkah yang aman selama tetap menjalani pemeriksaan secara rutin. Maka dari itu, calon pasien harus mengetahui segala sesuatu yang akan dia hadapi.

proses dan risiko transplantasi jantung - alodokter

Seperti Apa Prosesnya?

Transplantasi jantung sendiri adalah proses mengganti jantung yang sudah tidak bekerja secara optimal dengan jantung yang lebih baik dari orang yang baru meninggal. Meski terdengar kompleks, operasi transplantasi jantung perlu dilakukan demi keselamatan dan peningkatan kualitas hidup pasien. Secara garis besar, berikut tahapan melakukan transplantasi jantung:
  • Menemukan donor yang tepat

Bukan perkara mudah menemukan donor yang tepat. Biasanya donor jantung berasal dari orang yang baru meninggal, namun kondisi jantungnya baik. misalnya karena kecelakaan lalu lintas, atau karena kerusakan otak dimana organ-organ lain masih prima. Perpindahan jantung dari donor kepada penerima tidak boleh lebih dari enam jam.

  • Mengangkat jantung pasien penerima donor

Setelah donor yang tepat diperoleh, maka saatnya mengangkat jantung penerima donor. Kesulitan melaksanakan proses ini sangat tergantung kepada riwayat kesehatan jantung yang akan diangkat.

Jantung yang sudah mengalami beberapa kali operasi akan lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama ditangani dibandingkan dengan jantung yang belum menjalani sama sekali.

  • Memasang jantung dari donor

Proses implantasi jantung dari donor ke penerima saat ini mungkin adalah prosedur termudah dibandingkan proses-proses sebelumnya. Bahkan secara umum hanya dibutuhkan lima jahitan saja agar jantung dari donor bisa berfungsi dengan baik pada tubuh barunya. Proses ini pada dasarnya bertujuan menyambungkan pembuluh-pembuluh besar di jantung ke pembuluh darah yang akan mengalirkan darah ke seluruh tubuh.

Syarat Bisa Melakukan Transplantasi Jantung

Sebelum melakukan operasi transplantasi jantung, yakinkan dahulu diri Anda apakah benar-benar ingin melakukannya. Jika Anda sudah melakukan pengobatan jantung yang lain namun tidak berhasil dan tanpa melakukan transplantasi terancam kehilangan nyawa maka transplantasi jantung adalah jawaban. Anda juga perlu mengubah gaya hidup sesudah melakukan transplantasi jantung, agar prosedur ini bisa benar-benar berhasil.

Secara umum, beberapa hal di bawah ini adalah kondisi-kondisi yang disarankan untuk tidak melakukan transplantasi jantung.

  • Memiliki riwayat penyakit kanker atau penyakit lain yang dapat memperpendek usia.
  • Usia pasien lebih dari 65 tahun.
  • Memiliki penyumbatan parah pada arteri lengan atau kaki.
  • Tidak bersedia mengubah pola hidup demi menjaga kesehatan jantung baru.
  • Memiliki penyakit lain, infeksi aktif yang parah, dan obesitas
Jika Anda tidak termasuk dalam deretan kondisi di atas, maka transplantasi jantung dianggap aman untuk dilakukan.

Apa Saja Risiko Transplantasi Jantung

Meski dewasa ini operasi transplantasi jantung kian canggih dan tingkat keberhasilannya makin tinggi, bukan berarti proses ini tidak berisiko. Berikut beberapa risiko yang bisa terjadi dari operasi.

  • Efek samping pengobatan

Pemakaian obat imunosupresan sebagai obat yang menekan sistem kekebalan tubuh seseorang memang bertujuan mempercepat jantung baru menyatu dengan tubuh tapi juga terdapat kemungkinan bisa menyebabkan efek samping seperti kerusakan ginjal.

  • Infeksi

Melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat pemakaian imunosupresan juga bisa menyebabkan  infeksi susah sembuh. Tidak heran jika para pasien yang melakukan prosedur ini akan dirawat di rumah sakit karena infeksi yang sulit sembuh di tahun pertama sesudah operasi.

  • Kanker

Potensi kanker akan meningkat karena sistem kekebalan menurun akibat konsumsi obat imunosupresan. Kanker kulit, bibir, dan kanker limfoma non-Hodgkin adalah yang paling berisiko berkembang saat menjalani pengobatan pascatransplantasi jantung.

  • Masalah pada pembuluh arteri

Pembuluh arteri menebal dan mengeras adalah salah satu risiko setelah melakukan transplantasi jantung. Ini bisa membuat sirkulasi darah di jantung tidak lancar dan  bisa memicu seseorang terkena serangan jantung, gagal jantung, atau gangguan ritme jantung.

  • Jantung baru ditolak tubuh

Risiko terbesar dari proses transplantasi jantung adalah penolakan tubuh terhadap transplantasi jantung. Meski sebelum dilakukan prosedur ini, berbagai metode akan dilakukan agar hal ini tidak terjadi, namun risiko penolakan tetap ada.

Beberapa gejala penolakan tubuh terhadap jantung barunya meliputi sesak napas, demam, berat badan naik karena penumpukan cairan, dan mudah lelah. Segera temui dokter jika hal tersebut terjadi.

Yang penting untuk juga dilakukan setelah menjalani proses transplantasi jantung adalah memperbaiki gaya hidup, pola makan yang sehat, olahraga, pandai mengelola stres serta teratur minum obat demi terjaganya kesehatan jantung baru Anda. Tanpa dijaga dengan baik, maka proses transplantasi jantung yang telah dilakukan akan sia-sia.