PTSD

Pengertian PTSD

Gangguan stres pascatrauma atau PTSD (post-traumatic stress disorder) adalah kondisi kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami. Contoh peristiwa traumatis yang mungkin menjadi pemicu kondisi ini meliputi kecelakaan lalu lintas, bencana alam, tindak kejahatan seperti pemerkosaan atau perampokan, atau pengalaman di medan perang.

Kondisi ini termasuk kategori gangguan kecemasan yang membuat pengidapnya tidak bisa melupakan kejadian traumatis yang dialami. Tidak semua orang yang mengalami trauma otomatis akan mengidap PTSD. Gangguan mental ini diperkirakan berkembang pada 30-35 persen di antara orang-orang yang pernah mengalami kejadian traumatis.

alodokter-PTSD

Gejala-gejala PTSD

Gejala PTSD cenderung mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama dalam hubungan dengan orang lain serta lingkungan kerja. Gejala yang muncul pada tiap pengidap bisa berbeda-beda. Ada yang mengalaminya segera setelah kejadian dan ada juga yang muncul setelah beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian.

Secara umum, gejala PTSD bisa dikelompokkan ke dalam empat jenis. Berikut ini adalah penjelasan serta contohnya.

  • Ingatan yang mengganggu, contohnya selalu mengingat detail mengerikan dari kejadian tragis atau sering mimpi buruk tentang kejadian tersebut.
  • Kecenderungan untuk menghindari membicarakan atau memikirkan kejadian traumatis, menutup diri, serta menjauhi lokasi, orang, atau aktivitas yang mengingatkan pasien pada kejadian tersebut.
  • Pola pikir yang berubah negatif. Pengidap PTSD cenderung memiliki perasaan negatif terhadap diri sendiri atau orang lain, merasa terasing, serta merasa putus asa dalam menghadapi masa depan.
  • Perubahan emosi, misalnya uring-uringan, rasa bersalah atau malu yang ekstrem, selalu waspada, insomnia, serta mudah terkejut dan takut.
Sebagian besar gejala PTSD yang terjadi pada anak-anak serta orang dewasa adalah sejenis. Meski demikian, terdapat beberapa indikasi khusus pada anak-anak yang juga harus diwaspadai. Indikasi-indikasi tersebut meliputi sering melakukan reka ulang kejadian tragis melalui permainan, mengompol, serta sangat gelisah saat harus terpisah dari orang tua.

Merasa terguncang atau terpukul setelah kejadian tragis merupakan hal yang wajar, tetapi jika perasaan tersebut tidak kunjung berkurang atau bertambah parah setelah berlalu selama tiga minggu hingga satu bulan, segera periksakan diri atau anak ke dokter.

Penyebab dan Faktor Pemicu PTSD

Hingga saat ini, penyebab PTSD belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor yang diduga bisa melatarbelakangi kondisi ini. Faktor-faktor pemicu tersebut meliputi:
  • Pernah mengalami trauma lain, misalnya saat masih kecil.
  • Mengidap gangguan mental lain.
  • Mengalami trauma jangka panjang.
  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap PTSD atau gangguan mental lain.
  • Memiliki profesi yang berpotensi menyebabkan seseorang untuk mengalami kejadian traumatis, misalnya tentara.
  • Memiliki hormon pemicu stres yang abnormal, contohnya kadar adrenalin yang melebihi batas normal.
  • Keabnormalan pada anatomi otak.

Diagnosis dan Langkah Pengobatan PTSD

Untuk mendiagnosis PTSD, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami. Pasien juga akan diminta untuk menjalani pemeriksaan psikologis.

Tiap penderita umumnya akan menjalani langkah penanganan yang berbeda-beda berdasarkan kepada gejala, tingkat keparahan, serta waktu kemunculannya. Pengobatan yang tepat akan mengajarkan cara-cara mengatasi gejala serta meningkatkan kepercayaan diri.

Pasien dengan gejala PTSD yang ringan atau tidak lebih dari satu bulan, pada umumnya akan dianjurkan oleh dokter untuk menunggu sambil memantau perkembangan kondisi kejiwaan Anda untuk beberapa waktu. Jika gejala-gejala yang dialami berkurang dan membaik, maka kemungkinan besar tidak memerlukan penanganan khusus.

Tetapi lain halnya bagi pasien dengan gejala yang bertambah parah. Pasien-pasien tersebut membutuhkan langkah penanganan lebih lanjut, yaitu kombinasi terapi psikologis dan penggunaan obat-obatan.

Terapi psikologi yang diberikan meliputi terapi perilaku kognitif (CBT) atau desensitisasi gerakan mata dan pemrosesan ulang (eye movement desensitisation and reprocessing/EMDR). Terapi-terapi tersebut bisa digunakan untuk pasien anak-anak maupun dewasa.

Sementara obat-obatan yang umumnya dianjurkan adalah antidepresan, seperti mirtazapine atau paroxetine. Langkah ini hanya bisa dijalani oleh pasien dewasa atau setidaknya remaja yang berusia 18 tahun.