Selain Klorin, Ini Fakta Pembalut Berbahaya yang Perlu Anda Ketahui

Selama ini masyarakat mengenal klorin sebagai salah satu zat yang harus dicermati pada produk kewanitaan. Selain itu, sebenarnya ada beberapa kandungan lain yang seharusnya diwaspadai dalam pembalut berbahaya.

Pembalut umumnya digunakan wanita untuk menampung darah dari vagina saat menstruasi atau haid. Selain itu, pembalut juga dapat digunakan setelah melahirkan, keguguran, operasi pada vagina, ataupun situasi lainnya yang menyebabkan keluarnya darah dari vagina.

Selain Klorin Ini Fakta Pembalut Berbahaya yang Perlu Anda Ketahui - alodokter

Umumnya pembalut terbuat dari rayon  dicampur dengan kapas dan dilapisi plastik di bagian belakang. Rayon terbuat dari bubur kayu (wood pulp) yang sudah melalui proses pemutihan (bleaching). Pada beberapa jenis juga dapat dilengkapi antibakteri, serta bubuk polimer sebagai gel penyerap dan pengharum.

Ada sejenis bahan yang dianggap berbahaya jika terdapat pada pembalut yang berisiko memicu gangguan kesehatan, yaitu dioxin.

Dioxin adalah zat kimia berbahaya yang dihasilkan oleh proses industri, salah satunya bleaching atau pemutihan terutama dengan bahan klorin. Pada pembuatan pembalut masih didapatkan penggunaan klorin sebagai pemutih.

Kandungan dioxin sebenarnya tergantung pada proses pemutihan rayon yang merupakan bahan pembalut. Di Amerika Serikat sekarang sudah digunakan proses ECF (elemental chlorine-free), sehingga dioxin dapat ditekan hingga sangat rendah. Standar tingkat dioxin dari Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat yaitu 0,1-1 bagian per triliun. Dioxin yang berada pada standar tersebut dianggap sangat kecil, sehingga risiko memicu gangguan kesehatan sangat minim.

Sementara itu, produk dengan proses pemutihan Totally Chlorine-Free (TCF) benar-benar bebas dioxin, karena menggunakan hidrogen peroksida.Dioxin dianggap sangat beracun dan dapat memicu gangguan perkembangan dan reproduksi serta sistem imunitas. Zat ini juga disebut dapat menyebabkan gangguan hormon, bahkan kanker.

Menggunakan Pembalut dengan Aman

Di Indonesia, keamanan pembalut wanita harus memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) agar dapat diberikan izin edar dari Kementrian Kesehatan. Klasifikasi keamanan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang yang sama dengan yang dikeluarkan FDA di Amerika Serikat.

Meski sudah dianggap aman, penting untuk mempraktikkan cara yang dapat meminimalisir risiko gangguan kesehatan saat menggunakan pembalut, antara lain:

  • Jaga kebersihan organ intim, terutama pada saat menstruasi.  Hindari pembalut dengan pengharum dan segera ganti pembalut  sebelum seluruh permukaan dipenuhi darah haid.
  • Pilih pembalut dengan daya serap yang sesuai dengan banyaknya darah yang keluar, penggunaan pembalut dengan daya serap ekstra saat perdarahan anda sedikit dapat menyebabkan terjadinya infeksi.
  • Kini tersedia pula pembalut dari kain katun yang dapat dicuci, sebagai alternatif pembalut atau tampon yang biasa ditemukan di pasaran. Pembalut jenis ini diyakini lebih aman bagi penggunanya dan lebih ramah lingkungan.

Untuk menghindari pembalut berbahaya, pilih produk yang sudah memiliki izin edar dari Kementrian Kesehatan. Praktikkan cara aman menggunakan pembalut untuk menekan risiko kesehatan.