Serangan Panik

Pengertian Serangan Panik

Serangan panik atau panic attack adalah timbulnya rasa takut berintensitas tinggi yang datang secara tiba-tiba tanpa penyebab yang nyata. Merasa mengalami serangan jantung hingga mengira dirinya sedang sekarat adalah hal-hal yang penderita alami saat terjadi serangan panik. Ketakutan akan hilang control atau nyeri dada juga dapat dialami oleh penderita. Walau demikian, serangan panik itu sendiri tidak berbahaya.

Panic Attack - alodokter

Serangan panik dapat hilang dan bisa dialami hanya 1-2 kali sepanjang hidup seseorang, namun dapat juga terjadi secara berulang kali. Serangan ini lebih banyak dialami oleh wanita berusia remaja hingga dewasa dibanding laki-laki, anak-anak, dan lansia.

Pada kondisi serangan panik yang terjadi secara berulang-ulang dan disertai perasaan takut terus-menerus terhadap terjadinya serangan lanjutan menandakan sebuah kondisi yang bernama gangguan panik (panic disorder).

Penyebab Serangan Panik

Sebagian besar kasus serangan panik menyerang tanpa peringatan dan tanpa kenal waktu, misalnya saat sedang menyetir kendaraan atau tengah tertidur. Namun seiring waktu berjalan, kemunculan serangan panik bisa diantisipasi sebagai akibat situasi tertentu.

Sebagian peneliti menduga bahwa serangan panik merupakan bagian dari respons pertahanan alami tubuh ketika berada di dalam situasi yang mengancam karena memiliki bentuk reaksi yang sama. Namun sejauh ini belum ada penelitian yang bisa memastikan mengenai penyebab serangan panik, khususnya ketika tidak ada penyebab nyata yang memicu serangan tersebut.

Beberapa faktor berikut juga diduga berperan dalam terjadinya serangan panik yang umumnya dialami oleh usia akhir remaja atau dewasa awal, yaitu:

  • Faktor genetik atau yang memiliki sejarah serangan panik di dalam keluarga.
  • Memiliki sejarah pelecehan fisik atau seksual semasa kanak-kanak.
  • Temperamen yang rentan terpengaruh oleh stres atau emosi negatif.
  • Stres berlebihan, misalnya akibat kehilangan seseorang yang sangat berarti.
  • Peristiwa traumatis, seperti kekerasan seksual atau kecelakaan berat.
  • Mengalami perubahan besar di dalam hidup, seperti memiliki anak lagi tanpa direncanakan atau dampak perceraian.
  • Perubahan atau ketidakseimbangan zat yang berdampak kepada fungsi otak.
  • Merokok atau mengonsumsi minuman berkafein secara berlebihan.

Gejala Serangan Panik

Serangan panik dapat muncul sesekali saja atau lebih sering. Gejala biasanya muncul secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya hanya dalam hitungan menit. Umumnya sebuah serangan panik dapat berlangsung selama 5-20 menit, bahkan satu jam. Penderita cenderung merasa kelelahan setelah serangan ini mereda. Berikut adalah beberapa gejala yang umumnya menyertai serangan panik:
  • Berkeringat secara berlebihan
  • Merasakan adanya bahaya atau malapetaka akan datang
  • Merasa takut kehilangan kendali atau takut mati
  • Gemetaran
  • Merasa sesak di tenggorokan dan sulit bernapas
  • Detak jantung yang cepat dan terasa keras
  • Merasakan kilatan hawa dingin atau panas yang menyerupai demam
  • Kram perut
  • Sakit dada
  • Pusing atau pingsan
  • Mual
  • Mati rasa (kebal) atau geli.
  • Merasa terlepas dari tubuh dan merasa mengalami situasi yang tidak nyata
Segera cari bantuan medis jika serangan panik terjadi karena kondisi ini memerlukan bantuan pihak lain dalam penanganannya. Serangan panik juga memiliki gejala yang serupa dengan penyakit lain yang tergolong serius, seperti serangan jantung. Disarankan bagi seseorang yang mengalami gejala menyerupai serangan jantung untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit untuk memastikan penyebabnya.

Diagnosis Serangan Panik

Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan membedakan gejala serangan panik dengan gejala-gejala penyakit lain, dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan berikut.
  • Pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
  • Tes darah untuk memeriksa tiroid dan risiko terhadap kondisi lain.
  • Tes elektrokardiogram atau EKG/ECG untuk memeriksa kondisi jantung.
  • Evaluasi psikologis untuk memahami tingkatan gejala, stres, ketakutan, hubungan, dan gangguan lain yang dapat berdampak kepada aspek-aspek kehidupan penderita, termasuk konsumsi zat alkohol atau zat-zat
Seseorang yang mengidap gangguan panik umumnya mengalami serangkaian serangan panik secara berulang, meski tidak semua pengidap serangan panik memiliki gangguan panik. Maka dari itu, dokter juga akan mengecek keberadaan kriteria-kriteria berikut untuk mengetahui apakah penderita mengidap gangguan panik.
  • Serangan panik tidak dipicu oleh penggunaan obat-obatan atau zat lain, kondisi medis, atau kesehatan mental lain, seperti fobia sosial atau gangguan obsesif kompulsif (OCD - obsessive compulsive disorder).
  • Pengidap mengalami serangan panik yang lebih sering dan tidak terduga.
  • Mengalami serangan panik yang diikuti oleh perasaan khawatir yang berlangsung hingga satu bulan terhadap terjadinya serangan lain serta konsekuensi dari serangan itu, seperti kehilangan kendali atau serangan jantung.

Pengobatan Serangan Panik

Serangan panik yang tidak diobati dapat berujung kepada berkembangnya gangguan panik dan kondisi lain, seperti berbagai jenis fobia. Mengobati serangan panik dapat mengurangi frekuensi dan intensitas serangan panik, serta meningkatkan kualitas hidup penderitanya.

Terdapat dua jenis pengobatan serangan panik yang diutamakan, yaitu melalui obat-obatan dan psikoterapi. Jenis pengobatan yang dipilih akan disesuaikan berdasarkan kondisi penderita, riwayat penyakit, serta ada atau tidak adanya layanan dari seorang terapis berpengalaman.

Obat-obatan

Berikut adalah beberapa obat-obatan yang efektif dalam mengurangi gejala serangan panik dan depresi. Obat-obatan ini dapat diganti atau dikombinasikan dengan obat lain untuk meningkatkan efektivitas.

Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)

Obat-obatan golongan antidepresan yang menjadi pilihan pertama untuk pengobatan serangan panik dan gangguan panik, antara lain fluoxetine dan sertraline. Obat ini berfungsi untuk mengurangi depresi dan memiliki risiko efek samping yang kecil.

Serotonin & norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs)

Obat-obatan golongan antidepresan lain yang juga bisa digunakan untuk mengobati serangan panik, seperti venlafaxine hydrochloride.

Benzodiazepines

Golongan obat penenang untuk menurunkan fungsi dan aktivitas saraf pusat yang digunakan dalam jangka pendek, antara lain alprazolam dan clonazepam. Obat ini tidak boleh digunakan dalam jangka panjang, terutama dengan dosis tinggi, karena dapat menyebabkan kecanduan dan ketergantungan fisik atau mental.

Butuh waktu beberapa minggu hingga obat-obatan menunjukkan perubahan pada gejala yang sebelumnya dirasakan. Namun perlu diperhatikan bahwa penggunaan obat-obatan tersebut memiliki efek samping, terutama jika disertai obat lain atau diberikan kepada wanita hamil. Inositol, sebuah suplemen oral, dapat mengurangi frekuensi serangan dengan mengatur serotonin. Walau demikian, obat ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan khasiatnya.

Psikoterapi

Psikoterapi adalah terapi yang dianggap efektif untuk mengatasi serangan panik dan gangguan panik yang dikenal dengan nama terapi wicara. Bentuk psikoterapi yang diterapkan meliputi terapi perilaku, kognitif, atau kombinasi keduanya. Bentuk penerapan ini dapat membantu penderita memahami bahwa gejala serangan panik tidaklah berbahaya.

Seorang terapis profesional dan berpengalaman akan melakukan reka ulang gejala serangan panik secara berkelanjutan di dalam suasana yang aman bagi penderita untuk mengurangi rasa takut. Jika dilakukan secara teratur, gejala dapat berkurang dalam beberapa minggu hingga sepenuhnya hilang dalam beberapa bulan.

Penderita dapat tetap mempertahankan jadwal psikoterapi agar kondisi tetap terjaga atau ketika serangan panik kembali menyerang.

Membuat atau memiliki langkah perawatan diri sendiri bisa membantu penderita mengenali dan mengendalikan gejala-gejala kepada serangan panik. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Mengikuti jadwal dan program pengobatan yang telah ditentukan.
  • Berlatih mengelola stres dan metode relaksasi, seperti teknik pernapasan, relaksasi otot, atau yoga.
  • Tetap aktif secara fisik untuk menjaga mood.
  • Bergabung dengan sebuah kelompok konsultasi serangan panik.
  • Jagalah agar waktu tidur tetap ideal sehingga tidak mengantuk di siang hari.
  • Hindari merokok, minuman keras, minuman berkafein, dan obat-obatan keras yang tidak diresepkan dokter.
  • Jika terjadi serangan panik saat sedang beraktivitas, misalnya menyetir, maka menepilah. Fokuskan diri kepada teknik pernapasan dan relaksasi yang direkomendasikan terapis dan jangan berusaha melawan serangan tersebut.

Komplikasi Serangan Panik

Rasa takut adalah bagian terburuk dari serangan panik atau gangguan panik karena pada dasarnya dapat berdampak kepada semua aspek kehidupan penderita. Penderita berisiko untuk terus menjalani kehidupannya di dalam rasa takut akan terjadinya serangan lanjutan sehingga cenderung menghindari situasi-situasi yang dapat memicu serangan. Jika tidak ditangani, serangan panik dapat berujung kepada:
  • Berkembangnya berbagai jenis fobia, seperti fobia menyetir atau meninggalkan rumah. Fobia lainnya termasuk agoraphobia, yaitu menghindari tempat atau situasi yang menyebabkan penderita cemas karena takut tidak bisa keluar dari situasi tersebut jika mengalami serangan panik.
  • Menjadi bergantung kepada orang lain dan harus ditemani tiap hendak keluar rumah.
  • Menghindar dari kegiatan bersosial
  • Menjadi sering memeriksakan kesehatan diri dan kondisi medis lain yang dialami.
  • Memiliki masalah di kantor atau sekolah.
  • Kecanduan minuman keras atau zat psikotropika.
  • Terjerumus masalah keuangan.
  • Mengidap depresi, serangan cemas, dan gangguan psikiatri lainnya.
  • Memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.

Pencegahan Serangan Panik

Tidak ada langkah pencegahan secara khusus terhadap serangan panik maupun gangguan panik selain kesadaran untuk segera mengatasinya sebelum bertambah buruk atau bertambah sering. Penderita sangat disarankan untuk mengikuti rangkaian perawatan yang direkomendasikan dokter dan tetap menjaga tubuh tetap aktif.