Sikap yang Benar dalam Menyikapi Onani

Banyak mitos aneh dan unik yang beredar tentang masturbasi atau onani. Kabarnya, beronani bisa memicu penyakit jiwa, kebutaan, menumbuhkan rambut, dan jerawat. Namun nyatanya, onani secara medis merupakan aktivitas berkembangnya hasrat seksual yang tidak membahayakan.

Sebagian orang menganggap onani atau masturbasi sebagai topik yang tabu untuk dibahas, padahal onani merupakan aktivitas seksual alami yang biasa dialami kaum pria dan wanita. Seksolog mengistilahkan onani sebagai tindakan diri yang dilakukan kepada alat kelamin untuk mencapai tingkat kepuasan, hasrat, atau gairah seksual. Dengan kata lain, onani dilakukan untuk mencapai orgasme.

Revealing the truth of maasturbation_compress

Tidak ada cara yang benar atau salah dalam melakukannya, namun biasanya onani dilakukan dengan cara menyentuh, menggosok, atau memijat penis atau klitoris. Pada pria, aktivitas ini diakhiri dengan keluarnya cairan dari kemaluan yang disebut dengan semen atau air mani sebagai cairan yang membawa sel-sel sperma. Hal ini juga dapat terjadi pada wanita tetapi frekuensinya sangat jarang jika dibandingkan dengan pria.

Saatnya Menguak Kebenaran tentang Onani

Lalu bagaimana dengan mitos-mitos yang beredar terkait efek onani yang cenderung negatif? Mari kita telusuri satu-persatu di bawah ini.

Apakah onani merupakan bagian tidak normal dari perkembangan seksual?

Penelitian telah menguji bahwa aktivitas onani menyehatkan untuk segala usia. Penelitian dilakukan terhadap 800 remaja pada kisaran usia 14-17 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa yaitu sebanyak 74 persen laki-laki dan setidaknya 48 persen perempuan melakukan masturbasi. Penelitian tersebut membuktikan bahwa manusia tidak dapat memungkiri perkembangan aktivitas seksualnya sejak lahir sampai tutup usia.

Apakah ada manfaat yang diperoleh dari onani?

Onani dianggap memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh, misalnya mengurangi stres, membuat tidur makin berkualitas, meredakan frekuensi sakit kepala, meningkatkan konsentrasi, dan memperbaiki kondisi kebugaran.

Apakah pria yang berpasangan tidak seharusnya melakukan onani?

Mitos ini tidak sepenuhnya benar karena aktivitas onani bisa dilakukan tanpa memandang status, apakah pria tersebut single atau telah memiliki pasangan. Tiap orang memiliki keinginan atau hasrat seksual yang berbeda-beda untuk melakukan onani saat tidak bersama pasangannya dan hal ini pun tidak bisa dijadikan tolok ukur bahwa seorang pria tidak puas dengan pasangannya. Dengan demikian, sangat penting untuk saling memahami dan menjaga komunikasi antarpasangan.

Apakah onani bisa menyebabkan kebutaan?

Sejumlah peneliti membantah bahwa onani dapat menyebabkan kebutaan, penyakit jiwa, tuberkulosis, telapak tangan berbulu, hingga kematian. Semua mitos ini tidak terbukti kebenarannya.

Apakah terlalu sering onani menyebabkan disfungsi ereksi?

Disfungsi ereksi (impotensi) atau ketidakmampuan pria untuk mencapai ereksi saat berhubungan intim tidak disebabkan oleh aktivitas onani. Adapun, terlalu sering melakukan onani dapat menyebabkan seorang pria menjadi lebih terbiasa akan sentuhan tertentu, baik dari alat bantu maupun tangan. Inilah yang membuat laki-laki jadi terbiasa pada sensasi masturbasi sehingga membuatnya makin sulit untuk mencapai orgasme bersama pasangan.

Menjalani aktivitas onani yang sehat sebaiknya disertai dengan kesadaran untuk tidak melakukannya secara berlebihan. Hindari aktivitas menyentuh, memijat, atau menggosok-gosok kemaluan terlalu keras dan penuh paksaan karena tindakan-tindakan semacam ini bisa menyebabkan sakit, nyeri, atau bengkak pada alat kelamin. Walau demikian, jika kebiasaan masturbasi sampai mengganggu aktivitas keseharian Anda, bicarakan hal ini dengan dokter.