Strongiloidiasis: Infeksi Parasit yang Membahayakan

Strongiloidiasis adalah infeksi kronis yang disebabkan oleh nematoda, atau cacing gelang yang disebut Strongyloides stercoralis. Penderita Strongiloidiasis akan mengalami berbagai gangguan pencernaan. Penyakit ini berpotensi mematikan terhadap beberapa orang dengan kondisi medis tertentu. Yuk, waspadai penularannya dengan mengetahui penyebab, pengobatan, serta pencegahannya!

Strongyloides stercoralis, penyebab infeksi strongiloidiasis merupakan sejenis parasit berupa cacing yang banyak ditemukan di daerah beriklim hangat, seperti di negara tropis dan subtropis. Namun kadang-kadang parasit ini dapat ditemukan pula di daerah beriklim sedang.

Cacing ini menginfeksi manusia melalui kontak langsung dengan tanah yang terkontaminasi, seperti di kawasan pertanian hingga kawasan rekreasi. Salah satu risiko utamanya adalah berjalan tanpa alas kaki di area yang berisiko. Cacing gelang akan masuk menembus kulit (umumnya telapak kaki) dan masuk ke aliran darah. Lalu, cacing bergerak melewati jantung dan paru-paru menuju ke perut serta usus kecil Anda. Cacing gelang akan bertelur dan tumbuh menjadi larva di dalam usus. Jika tidak segera ditangani, penderita strongiloidiasis akan tetap terinfeksi sepanjang hidup mereka. Larva parasit ini berukuran kecil dengan ukuran terpanjang sekitar 1,5 mm. Di tanah, larva parasit ini terlihat mirip dengan pasir.

Gejala Infeksi Strongiloidiasis yang Perlu Anda Waspadai

Lazimnya, strongiloidiasis ini tidak menimbulkan gejala yang signifikan. Namun, kebanyakan penderitanya akan mengalami beberapa gangguan pencernaan seperti:

  • Sakit dan sensasi perih pada perut bagian atas.
  • Diare dan konstipasi.
  • Batuk, bronkitis kronis.
  • Ruam merah pada kulit, biduran.
  • Gatal pada kulit atau sekitar anus.
  • Muntah.
  • Penurunan berat badan.

Pada orang dengan kondisi kekebalan tubuh yang lemah, gejala akibat infeksi cacing ini dapat menjadi lebih berat. Pada kasus yang lebih parah, gejalanya meliputi:

  • Anoreksia.
  • Perut kembung.
  • Sindrom malabsorpsi.
  • Ileus paralitik.
  • Gangguan pada saluran pencernaan atau pada usus kecil/duodenum.
  • Pendarahan gastrointestinal.
  • Gejala gangguan paru-paru parah, seperti dispnea atau sesak napas, nyeri pleura, efusi pleura, dan batuk darah.

Kendati strongiloidiasis tidak menyebabkan perubahan atau kemunculan gejala yang berat, namun infeksi bisa juga menjadi berbahaya dan mengancam jiwa pada orang dengan kondisi medis tertentu, yakni:

  • Penderita penurunan sistem kekebalan tubuh, misalnya penyakit hematologi seperti leukemia dan limfoma, serta orang yang sedang menjalani terapi imunosupresif, di mana terjadi penekanan sistem kekebalan tubuh.
  • Penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
  • Penderita lupus.
  • Asam urat atau pada orang yang mengonsumsi obat kortikosteroid untuk menekan sistem imun atau meredakan rasa sakit.
  • Terinfeksi virus HTLV-1.
  • Penerima organ donor atau transplantasi.
  • Penderita pneumonia eosinofilik.

Faktor RisikoTerkena Strongiloidiasis

Resiko Anda terinfeksi cacing ini akan meningkat, jika:

  • Tinggal atau bepergian ke daerah pedesaan, pertanian atau peternakan, serta daerah dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Dan daerah dengan kebersihan lingkungan atau sanitasi yang buruk.
  • Bepergian ke daerah tropis, subtropis, atau yang beriklim sedang.
  • Tidak menerapkan kebersihan yang baik dalam keseharian Anda.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Penanganan dan Pencegahan Terhadap Infeksi Strongiloidiasis yang Perlu Anda Ketahui

Untuk mendiagnosis infeksi strongiloidiasis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang berupa pemeriksaan spesimen tinja.  Pemeriksaan feses untuk mendeteksi apakah terdapat cacing seringkali menunjukkan hasil negatif, meskipun penderita diduga kuat terinfeksi cacing. Larva cacing ini baru dapat terdeteksi pada pemeriksaan feses setelah 3-4 minggu terinfeksi. Oleh karena itu, beberapa laboratorium dapat mendiagnosis strongiloidiasis dengan pemeriksaan darah. Pemeriksaan penunjang lain yang mungkin diperlukan yakni pemeriksaan darah lengkap dan pencitraan dengan Rontgen atau CT-scan jika diperlukan.

Pengobatan dilakukan dengan cara mengonsumsi satu dosis obat anti-parasit, ivermectin. Obat ini bekerja dengan membunuh cacing di usus kecil Anda. Obat lain yang biasanya diresepkan dokter adalah albendazole, dua kali sehari selama dua atau tiga hari, juga merupakan pengobatan yang efektif. Kendati terdapat sedikit efek samping, ivermectin tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Efek samping yang dapat muncul setelah mengonsumsi obat ivermectin yakni berkurangnya nafsu makan, mengantuk, dan menggigil.

Jika tidak diobati, penyakit infeksi cacing ini berpotensi menimbulkan sejumlah komplikasi seperti sindroma hiperinfeksi strongiloidiasis, strongiloidiasis diseminata, pneumonia eosinofilik, dan malnutrisi karena gangguan penyerapan zat gizi pada saluran cerna.

Ada pepatah mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Nah, langkah terbaik yang bisa Anda lakukan untuk menghindari infeksi strongiloidiasis antara lain dengan mengenakan alas kaki saat berjalan-jalan di atas tanah. Menghindari kontak langsung dengan tinja maupun saluran pembuangan kotoran, serta menerapkan sistem pembuangan limbah dan tinja yang benar. Terapkan gaya hidup bersih ketika bepergian atau tinggal di daerah tropis dan subtropis. Rajin berolahraga membantu menjaga sistem kekebalan tubuh dan menghindari faktor risiko terinfeksi strongiloidiasis.  Bersihkan lingkungan di sekitar rumah, terapkan juga kebiasaan hidup bersih dan sehat dengan rajin mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun.