Sudah Lewat Tanggal Prediksi, Tapi Bayi Belum Juga Lahir

Biasanya, bayi diperkirakan lahir saat kehamilan berusia sekitar 40 minggu atau sekitar 280 hari dari hari pertama haid terakhir (HPHT). Namun, ada beberapa wanita yang tidak kunjung melahirkan setelah tanggal prediksi. Dimohon untuk tidak khawatir berlebihan jika kamu mengalaminya.

Tanggal kelahiran yang ditentukan oleh dokter tidaklah mutlak. Jadi, jika bayimu belum lahir juga setelah melewati tanggal prediksi (sekitar seminggu atau dua minggu setelahnya), itu bukan berarti Si Kecil telat dilahirkan. Bisa jadi saat memprediksi tanggal terjadi kesalahan saat menentukan hari pertama haid terakhirmu.

Sudah Lewat Tanggal Prediksi, Tapi Bayi Belum Juga Lahir

Sebenarnya tidak ada yang tahu pasti mengapa kamu bisa menjalani kehamilan lebih lama. Hal ini juga tidak disebabkan oleh pola hidupmu yang dijalani selama berbadan dua. Meski begitu, kamu lebih mungkin mengalami keterlambatan persalinan apabila:

  • HPTP tidak diketahui dengan pasti.
  • Kamu belum pernah hamil.
  • Janinmu berjenis kelamin laki-laki.
  • Kamu obesitas.
  • Faktor keturunan.
  • Keadaan ini sudah pernah kamu alami sebelumnya.
  • Meski jarang terjadi, kondisi ini mungkin terjadi karena ada masalah pada plasenta atau janinmu.

Jika kamu hanya mengalami beberapa hari keterlambatan, kebanyakan dokter tidak akan langsung menawarkan prosedur induksi untuk mempercepat persalinan. Apabila sudah lewat dari seminggu, kondisimu akan terus dipantau oleh dokter untuk melihat apakah ada tanda-tanda komplikasi.

Kebanyakan wanita akan melahirkan dengan spontan saat usia kehamilan menginjak 42 minggu. Jika persalinan tidak kunjung terjadi setelah waktu tersebut, ada beberapa risiko yang dapat menimpa janinmu.

Beberapa kemungkinan yang dapat menimpa bayimu jika dilahirkan di atas 42 minggu antara lain:

  • Janin di dalam kandungan mungkin akan kekurangan oksigen karena kondisi plasenta mulai memburuk setelah usia kehamilan di atas 38 minggu.
  • Ukuran janin terlalu besar untuk melewati jalan lahir. Prosedur operasi caesar atau melahirkan normal dengan bantuan forceps mungkin dibutuhkan.
  • Pertumbuhan melambat atau bahkan berhenti karena sudah tidak ada ruang lagi di rahim.
  • Air ketuban menurun, padahal cairan inilah yang melindungi janin di dalam rahim. Menipisnya air ketuban juga dapat menyebabkan tali pusar janin terjepit karena pergerakan janin atau saat rahimmu berkontraksi.
  • Janinmu mengeluarkan tinja pertamanya (meconium) di air ketuban dan kemudian waktu persalinan menghirupnya. Hal ini bisa mengiritasi jaringan paru-parunya, saluran pernapasannya terhambat dan membuat paru-parunya tidak berkembang dengan baik.
  • Terjadi gawat janin seperti detak jantungnya melambat dan tanda-tanda janin mengalami marabahaya.
  • Janin meninggal di dalam kandungan atau meninggal sesaat setelah dilahirkan.

Untuk mencegah persalinan di atas usia 42 minggu, beberapa dokter akan melakukan induksi saat kehamilan berusia 41 minggu dan kondisi serviks telah siap, atau bahkan secepat mungkin jika terjadi komplikasi. Atau, ada juga dokter yang mungkin memilih untuk menunggu persalinan datang secara alami sambil memonitor keadaanmu dan janin.

Cobalah untuk tetap tenang ketika menghadapi situasi seperti ini, apalagi jika dokter mengatakan kondisi janinmu baik-baik saja. Jangan sampai kondisi ini menambah beban pikiranmu. Saran terbaik yang bisa kamu lakukan adalah menyibukkan diri agar kamu tidak terus-menerus memikirkan mengenai tanda-tanda persalinan.

Jaga pula kondisi fisikmu, karena pada masa ini kamu mungkin merasa lelah menjalani kehamilan seperti ini. Tubuhmu mungkin mengalami ketidaknyamanan secara menyeluruh seperti punggung terasa pegal-pegal, pergelangan kaki membengkak, sakit di ulu hati, wasir, atau susah tidur.

Yang terpenting adalah jangan sampai kamu lepas kontak dengan dokter kandunganmu. Periksakan kehamilan secara rutin hingga datang hari kelahiran Si Buah Hati tiba.