Susu Tinggi Protein dalam Sufor Bisa Menjadi Penyebab Alergi

Produk susu tinggi protein yang bisa didapat di pasaran adalah susu konsentrat protein atau milk protein concentrate (MPC). Susu jenis ini memiliki kandungan protein antara 40-90 persen.

Yang pertama-tama dilakukan untuk membuat susu tinggi protein melalui MPC adalah memisahkan susu menjadi krim dan susu skim. Selanjutnya, susu skim dipisahkan menggunakan ultrafiltrasi guna membentuk konsentrat skim dengan kandungan laktosa yang kian sedikit. Filterisasi ini memakai teknik penyesuaian ukuran molekul senyawa dalam susu.

susu tinggi protein dalam sufor bisa menjadi penyebab alergi - alodokter

Karena molekul kasein dan whey protein memiliki molekul lebih besar, maka kedua senyawa tersebut akan tertinggal. Senyawa yang tertinggal ini kemudian dikeringkan sehingga membentuk bubuk. Proses susu tinggi protein selanjutnya adalah pemanasan tingkat rendah guna mempertahankan nilai gizi.

Selain dengan proses ultrafiltrasi, produk susu tinggi protein juga bisa diproduksi dengan cara mengendapkan protein dari susu. Bisa juga dengan melalui proses pencampuran protein susu dengan komponen susu lainnya. Meski tinggi protein, bukan berarti susu jenis ini meninggalkan senyawa lainnya. Beberapa mineral berharga yang tetap terkandung di dalamnya adalah magnesium, fosfor, dan kalsium.

Sebagian Bayi Berisiko Alergi terhadap Susu Tinggi Protein

Salah satu produk yang menggunakan susu tinggi protein atau MPC sebagai bahan bakunya adalah susu formula bayi. Hal ini patut diwaspadai karena sebagian bayi berkemungkinan untuk alergi terhadap kandungan protein dalam susu formula yang mereka konsumsi.

Alasan bayi mengalami alergi terhadap susu tinggi protein adalah karena sistem kekebalan tubuh mereka menganggap protein dalam susu sebagai sesuatu yang membahayakan tubuh sehingga harus dilawan. Ketika reaksi alergi ini terjadi, maka Si Kecil akan mudah rewel dan mudah marah. Mereka kemungkinan juga akan merasakan sakit perut atau gejala lainnya.

Hingga kini para ahli belum mengetahui dengan pasti kenapa ada bayi yang alergi terhadap protein susu dan ada yang tidak. Hanya saja, banyak yang meyakini bahwa hal ini terkait dengan faktor genetik. Yang patut diperhatikan juga adalah risiko alergi protein susu ternyata lebih rendah pada bayi yang sebelumnya mendapatkan ASI.

Alergi terhadap susu tinggi protein berbeda dengan intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa merujuk kepada kondisi pencernaan bayi yang tidak mampu mencerna laktosa. Kondisi intoleransi laktosa sendiri jarang ditemukan pada bayi, namun lebih umum ditemukan pada orang-orang usia remaja atau dewasa. Untuk alergi protein pada susu sendiri biasanya akan hilang dengan sendirinya saat mereka berusia 3-5 tahun.

Fungsi Lain Susu Tinggi Protein

Selain sebagai bahan susu formula bayi, susu tinggi protein atau MPC juga biasa dipakai di dalam industri makanan. Industri minuman, makanan, dan produk nutrisi lainnya banyak yang memakai produk MPC. Contoh produk-produk yang memanfaatkan susu jenis ini, antara lain:

  • Camilan berprotein (protein bar)
  • Yoghurt
  • Produk keju
  • Roti
  • Bahan tambahan pada permen
  • Makanan penutup yang dibekukan
Selain industri makanan, pemakaian susu tinggi protein juga bisa ditemukan di dalam produk perawatan kecantikan.

Khusus bagi pelaku industri keju, keberadaan susu tinggi protein sangat menguntungkan secara ekonomis. Dengan produk ini, keju yang dihasilkan akan memiliki kandungan protein lebih tinggi, belum lagi keju yang dihasilkan menjadi lebih banyak. Padahal, modal yang dibutuhkan untuk memproduksinya sama dengan menggunakan produksi keju biasa.