Tes IQ Bukan Satu-satunya Penentu Kecerdasan

Sejak bertahun-tahun lamanya, hasil tes IQ menjadi patokan untuk mengukur kecerdasan seseorang. Tapi, hal tersebut dapat berubah.

Istilah IQ atau intelligence quotient pertama kali diciptakan oleh psikolog asal Jerman, William Stern. Singkatan IQ tersebut digunakan Stern untuk menilai tes kecerdasan yang ia anjurkan dalam bukunya pada tahun 1912. Tes IQ pun menjadi uji standar yang dirancang untuk menilai kecerdasan seseorang, apakah rata-rata atau superior. Menentukan penempatan kelas di sekolah, evaluasi pelamar kerja, atau penilaian cacat intelektual sering kali menggunakan tes IQ sebagai salah satu pertimbangan.

Tes IQ Bukan Satu-satunya Penentu Kecerdasan - alodokter

Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin mendapatkan skor atau nilai tinggi dalam tes IQ kelak. Banyak cara yang dilakukan agar otak dan kecardasan dapat dirangsang sejak dini, salah satunya dengan mendengarkan musik klasik. Namun, sebenarnya apa saja yang dapat mempengaruhi kecerdasan seseorang?

  • Penelitian menunjukkan bahwa gen memainkan peran besar dalam kecerdasan seseorang. Namun, hal ini masih membutuhkan penelitian dan bukti labih lanjut.
  • Rajin-tidaknya masuk sekolah atau melanjutkan pendidikan di sekolah. IQ anak yang tetap bersekolah setidaknya akan bertambah dan berada di atas anak yang tidak bersekolah atau drop out.
  • Anak-anak yang menyusu ASI dipercaya memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak. Namun ada juga yang berpendapat jika ASI hanya memberikan sedikit manfaat terhadap kecerdasan dan pertumbuhan kognitif seseorang.
  • Ukuran kepala. Hubungan antara IQ dan ukuran kepala seseorang adalah subjek yang selalu diperdebatkan di antara para ilmuwan. Namun teknik gambaran saraf (neuroimaging) terbaru menunjukkan bahwa volume tenggorak seseorang berhubungan dengan tingkat IQ yang dimilikinya, walaupun hubungannya kecil.

Tes IQ bisa menjadi langkah pertama dalam mendiagnosis masalah intelektual. Oleh sebab itu, apabila seorang anak memiliki nilai sangat rendah dalam tes IQ, dokter bisa merekomendasikan tes darah, USG otak, pemeriksaan keterampilan adaptif, dan pemeriksaaan kesehatan jiwa penuh.

Pemeriksaan prenatal (sebelum kelahiran atau ketika bayi berada dalam kandungan) dapat membantu mendeteksi potensi cacat intelektual sebelum bayi lahir. Hal ini terutama berguna untuk ibu berusia 35 tahun atau lebih, atau menggunakan obat-obatan dan/atau minuman beralkohol selama kehamilan. Jika potensi masalah telah terdeteksi sejak dini, dokter anak kemungkinan akan melakukan tes IQ pada anak sejak usianya masih dini.

Namun tes IQ untuk mementukan kecerdasan seseorang telah mendapat banyak kritikan selama bertahun-tahun. Tes IQ dinilai tidak adil kepada mereka yang kurang beruntung dan meminimalkan pentingnya kreativitas, karakter, kebaikan, kecerdasan praktis, dan moralitas seseorang.

Bahkan menurut sebuah studi terhadap lebih dari 100.000 peserta menunjukkan bahwa kecerdasan setidaknya memiliki tiga komponen yang berbeda. Jadi, tes IQ tidak bisa dijadikan patokan satu-satunya dalam menentukan tingkat kecerdasan seseorang. Peneliti menjelaskan bahwa kompleksitas otak manusia telah berkembang. Oleh karena itu, gagasan tentang IQ juga harus disesuaikan atau berubah.

Selain itu, sudah berkembang pula teori kecerdasan majemuk guna mengukur nilai kecerdasan seseorang. Kecerdasan tidak hanya diukur secara logis-matematis, tetapi juga dalam bidang verbal-linguistik, spasial-visual, musikal, intrapersonal, naturalis, interpersonal, dan eksistensialis.

Tes IQ memang sampai saat ini selalu dijadikan tolak ukur dalam memantau kecerdasan, tapi hal tersebut masih mungkin bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu.