Tidak Selamanya Lari Jarak Jauh Bermanfaat untuk Kesehatan

Lari merupakan aktivitas berolahraga gratis yang bisa diandalkan untuk membakar kalori lebih banyak dan bisa dilakukan di mana saja. Kegiatan lari jarak jauh pun makin digemari kaum urban karena dipercaya dapat meningkatkan kepadatan tulang dan melindungi tubuh dari penyakit osteoporosis. Namun perlu diperhatikan juga bahwa berdasarkan penelitian, pelari jarak jauh rentan menderita cedera.

Olah raga lari memang telah lama dikaitkan dengan beragam manfaat untuk kesehatan,  namun lari jarak jauh seperti halnya lari maraton, tidak selamanya menguntungkan bagi kesehatan. Waktu persiapan yang panjang, disiplin tinggi, dan komitmen nyatanya dibutuhkan untuk mengikuti lari maraton, suatu faktor yang terkadang bisa berakhir tragis bagi seorang pelaku lari jarah jauh.

long distance running is not always beneficial_compress

Ada dua kendala yang dihadapkan oleh seorang pelari jarak jauh, yaitu:

Lari jarak jauh berisiko tinggi cedera dan serangan jantung

Fakta ini biasanya dialami oleh para pelari jarak jauh pemula. Pengaruh dari latihan ekstrem, khususnya lari maraton, bisa menjadikan tubuh lebih sehat dan tahan terhadap penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes. Namun di lain sisi, menjadikan pelari menjadi rentan mengalami cedera sakit lutut dan patah tulang kaki. Belum lagi, membuatnya berisiko tinggi mengalami serangan alergi dan asma.

Penelitian juga menemukan lima kasus kematian dan enam kasus resusitasi karena gagal jantung yang menyerang para pelari berpengalaman. Diperkirakan kurang dari sepertiga kasus penyakit gagal jantung ini menyerang pelari jarak jauh saat berada di garis finis dan sisanya terjadi pada jarak 10-42 kilometer.

Lari jarak jauh berisiko memperpendek usia?

Benarkah klaim mengenai jumlah jarak dan frekuensi lari yang lebih banyak berpotensi mengurangi masa hidup seorang pelari jarak jauh? Penelitian terbaru menyebutkan bahwa pelari jarak jauh cenderung memiliki rentang hidup lebih pendek daripada pelari jarak pendek atau menengah. Namun, penelitian ini belum bisa menjelaskan penyebabnya secara lebih mendetail.

Menanggapi hal ini, peneliti menganjurkan untuk menghindari latihan berat lebih dari satu jam nonstop. Upayakan juga untuk melakukan lari kecil (joging) dengan tempo lambat hingga menengah sekitar 2-3 jam per minggu.

Ikuti Saran Ini sebelum Melakukan Lari Jarak Jauh

Untuk menghindari cedera, awali dengan gerakan pemanasan sekitar lima menit, seperti jalan di tempat, jalan cepat, mengangkat tiap lutut secara bergantian, berjalan menyamping, atau naik-turun tangga tanpa terburu-buru. Setelah pemanasan selesai, istirahat sejenak dan lari jarak jauh siap untuk dilanjutkan. Namun meski fisik sudah siap dan pikiran sudah fokus, disarankan untuk mengawali lari jarak jauh dengan lari pelan diselingi jalan terlebih dahulu, sambil menambah kecepatan dan jarak tempuh secara berangsur-angsur.

Selain itu, Anda juga bisa melakukan latihan interval untuk meningkatkan kecepatan lari. Latihan interval memfokuskan pada latihan intensitas tinggi yang diselingi dengan latihan intensitas rendah. Dengan kata lain, lari cepat diselingi dengan lari pelan. Jangan memaksakan untuk lari jarak jauh apabila kondisi badan tidak memungkinkan. Jika hal ini terjadi, konsultasikan kepada dokter Anda sebelum mulai melakukan lari jarak jauh.