Tidak Tertutup Kemungkinan Anda Mengalami Resistensi Insulin

Apa tanda-tanda seseorang mengalami resistensi insulin? Sayangnya tidak ada gejala khusus yang selalu dapat dijadikan sebagai patokan. Seseorang dapat mengidap kondisi ini selama bertahun-tahun tanpa pernah menyadarinya.

Tubuh memproses karbohidrat dan melepaskan glukosa ke dalam darah. Sel-sel tubuh akan menyerap glukosa dibantu oleh hormon insulin yang dihasilkan organ pankreas. Selanjutnya, glukosa yang terserap akan diubah menjadi energi.

resistensi insulin-alodokter

Saat seseorang mengalami resistensi insulin, pankreas tetap memproduksi insulin, tapi sel-sel tubuh tidak menyerap glukosa sebagaimana mestinya. Kondisi ini menyebabkan penumpukan glukosa di dalam darah sehingga membuat kadar glukosa tubuh lebih tinggi dari ukuran normal. Pada tingkatan yang lebih parah, kondisi ini dapat menyebabkan diabetes tipe 2. Bila kadar glukosa lebih dari normal namun belum masuk pada kriteria diabetes tipe 2, kondisi ini disebut prediabetes.

Mengenali dan Mengelola Resistensi Insulin

Penyebab resistensi insulin belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa hal yang memiliki keterkaitan ataupun menjadi faktor seseorang lebih berisiko mengalami kondisi semacam ini.

  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Sering duduk sepanjang hari (sedentary life).
  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap diabetes.
  • Memiliki kadar trigliserida tinggi.
  • Memiliki penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi.
  • Seorang ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari empat kg.
  • Mengalami diabetes gestasional.
  • Kehamilan.
  • Stres.
  • Sedang menggunakan steroid.
  • Seorang pria dengan lingkar pinggang lebih dari 90 cm dan wanita dengan lingkar pinggang lebih dari 80 cm.
  • Berusia lebih dari 40 tahun.
  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap tekanan darah tinggi, arteriosklerosis, atau diabetes tipe 2.
  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi, kolesterol HDL rendah, arteriosklerosis, ataupun kadar trigliserida tinggi.
  • Mengidap sindrom ovarian polisistik.
  • Selain lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2, seorang pengidap resistensi insulin dapat memiliki ataupun lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan sebagai berikut.
  • Perlemakan hati. Penumpukan lemak di dalam organ hati dapat diakibatkan oleh lemak yang tidak terkontrol akibat resistensi insulin.
  • Arteriosklerosis (aterosklerosis). Kondisi penebalan dan pengerasan dinding arteri besar atau sedang. Arteriosklerosis berisiko menyebabkan stroke, penyakit arteri koroner, dan penyakit pembuluh darah tepi.
  • Luka pada kulit. Akantosis nigrikan dan skin tag. Sebagian pengidap resistensi insulin dapat mengalami kondisi yang disebut akantosis nigrikan dengan ciri-ciri bercak hitam pada leher, ketiak, atau pangkal paha. Sementara itu, skin tag adalah permukaan kulit yang menonjol atau menggantung.
  • Sindrom ovarium polisistik/ polycystic ovary syndrome (PCOS). Gangguan hormonal yang berdampak kepada siklus menstruasi wanita.
  • Gangguan pertumbuhan. Insulin dalam kadar tinggi dapat berdampak kepada pertumbuhan badan karena insulin sendiri adalah hormon yang mendukung pertumbuhan.
Namun kabar baiknya ada cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko resistensi insulin.
  • Olahraga selama setidaknya setengah jam per hari dengan jenis aktivitas moderat, seperti jalan cepat. Lakukan aktifitas ini minimal 5 kali dalam seminggu.
  • Biasakan untuk mengonsumsi makanan sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, kacang-kacangan, protein tanpa lemak, dan biji-bijian utuh (seperti gandum utuh).
  • Jaga berat badan agar tetap normal. Jika Anda kelebihan berat badan, konsultasikan kepada dokter untuk menjalani program penurunan berat badan secara sehat.
  • Batasi konsumsi karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi yang dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat, seperti roti putih, gula mentah, dan jagung mentah. Sudahi pula kebiasaan mengonsumsi produk olahan dari kentang seperti donat, keripik kentang, dan kentang goreng.
  • Konsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah, seperti makanan kaya serat (nasi merah dan roti gandum utuh) dan sayuran bebas tepung (asparagus, wortel, brokoli).
Oleh karena resistensi insulin dapat tidak menimbulkan gejala khusus, maka cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan melakukan tes darah demi mengetahui kadar gula darah dan tes A1C. Sebagai langkah pencegahan, sebaiknya periksakan kadar gula darah tiap tiga tahun sekali, meski kadar gula darah Anda tergolong normal.