Tubektomi adalah prosedur pemotongan atau penutupan tuba falopi, yaitu saluran yang menghubungkan indung telur (ovarium) dan rahim. Prosedur ini membuat sel-sel telur tidak bisa memasuki rahim sehingga tidak dapat dibuahi. Tubektomi juga dapat menghalangi sperma masuk ke dalam tuba falopi.

Sebagai salah satu metode KB yang bersifat permanen, tubektomi sangat efektif bila dibandingkan dengan KB jenis lain. Hal ini karena tubektomi tidak memerlukan wanita untuk menghitung masa subur saat siklus menstruasi, atau mengingat jadwal minum pil dan suntik KB.

Tubektomi, Ini yang Harus Anda Ketahui - Alodokter

Oleh karena itu, pasien dapat berhubungan seksual seperti biasa tanpa perlu ingat untuk memakai kondom. Selain itu, pasien juga mendapatkan siklus menstruasi normal dan menopause, karena tubektomi tidak memengaruhi hormon.

Tubektomi juga dapat dilakukan kapan saja, termasuk setelah menjalani persalinan normal maupun caesar.

Tujuan dan Indikasi Tubektomi

Tubektomi termasuk salah satu metode untuk mencegah kehamilan secara permanen. Oleh karena itu, prosedur ini hanya disarankan pada wanita dewasa yang benar-benar yakin bahwa mereka tidak ingin hamil.

Peringatan dan Kontraindikasi Tubektomi

Tubektomi tidak disarankan untuk dilakukan pada wanita yang hanya ingin menunda kehamilan dan menginginkan anak di kemudian hari. Hal ini karena tubektomi bersifat permanen.

Tubektomi juga tidak disarankan pada wanita dengan kondisi berikut:

  • Berusia kurang dari 30 tahun
  • Menderita kanker atau tumor di ovarium dan tuba falopi
  • Menderita obesitas morbid
  • Menderita penyakit jantung dan paru yang parah, karena dapat memperparah efek samping obat bius

Selain beberapa kondisi di atas, ada beberapa hal yang perlu dilakukan pasien sebelum menjalani tubektomi, yaitu:

  • Berdiskusi dengan dokter dan pasangan mengenai prosedur tubektomi, termasuk keuntungan dan risiko yang dapat terjadi
  • Memberi tahu dokter jika sedang hamil
  • Memberi tahu dokter apabila mengonsumsi obat-obatan tertentu, mengonsumsi minuman beralkohol, atau menggunakan NAPZA
  • Memberi tahu dokter jika memiliki alergi terhadap obat bius, baik lokal maupun umum
  • Memberi tahu dokter jika sedang menderita penyakit, seperti diabetes atau gangguan pembekuan darah

Sebelum Tubektomi

Sebelum melakukan tubektomi, dokter akan meminta pasien untuk menjalani tes kehamilan untuk memastikan bahwa pasien sedang tidak hamil. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan panggul.

Dokter akan meminta pasien untuk melakukan langkah-langkah berikut ini:

  • Menggunakan alat kontrasepsi 1 bulan sebelum menjalani tubektomi, untuk mencegah kehamilan
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat menghambat pembekuan darah, seperti ibuprofen, aspirin, atau warfarin
  • Tidak merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, atau menyalahgunakan NAPZA
  • Berpuasa setidaknya selama 8 jam sebelum operasi
  • Mengajak keluarga atau teman untuk menemani dan mengantar pulang setelah operasi

Tubektomi juga bisa dilakukan dengan prosedur selective tubal occlusive procedure (STOP) atau oklusi tuba. Pada prosedur ini, tuba falopi disumbat dengan logam kecil yang akan membentuk jaringan parut sehingga dapat menyumbat tuba falopi.

Pasien yang akan menjalani prosedur tersebut dianjurkan menggunakan obat hormon selama 2 minggu sebelumnya.

Prosedur Tubektomi

Tubektomi dapat dilakukan di klinik atau rumah sakit terdekat. Umumnya, prosedur ini dilakukan dengan menggunakan bius total, tetapi juga bisa dengan bius lokal. Jenis obat bius ini akan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien dan jenis operasi yang hendak dijalani.

Tubektomi dapat dilakukan bersamaan dengan operasi caesar. Namun, jika dilakukan di luar operasi caesar, ada tiga jenis prosedur tubektomi yang dapat dilakukan, yaitu:

Laparoskopi

Laparoskopi merupakan metode yang paling umum dipilih karena prosedur dan masa pemulihannya yang tergolong cepat. Berikut ini adalah tahapan yang akan dilakukan dokter:

  • Membuat 1 atau 2 sayatan kecil di dekat pusar
  • Memompa gas ke dalam perut agar tuba falopi dan rahim terlihat jelas
  • Memasukkan laparoskop (selang kecil berkamera) ke dalam perut untuk melihat tuba falopi
  • Memasukkan alat untuk menutup dan memotong tuba falopi melalui laparoskop
  • Mengeluarkan laparoskop dan alat lainnya, lalu menjahit sayatan

Minilaparotomi

Minilaparotomi dilakukan melalui sayatan kecil sekitar 2–3 cm di bawah pusar. Prosedur ini biasanya dianjurkan pada pasien yang mengalami obesitas, baru menjalani operasi perut atau panggul, serta pernah mengalami infeksi panggul yang berdampak pada rahim maupun tuba falopi.

Histeroskopi

Selain kedua operasi di atas, tubektomi juga bisa dilakukan dengan prosedur histeroskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan alat yang disebut histeroskop melalui leher rahim atau vagina.

Histeroskopi umumnya dilakukan untuk metode tubal occlusive procedure. Prosedur ini tidak membutuhkan sayatan sehingga jarang memerlukan bius umum. Meski demikian, prosedur ini tidak disarankan pada wanita yang baru menjalani proses persalinan.

Setelah Tubektomi

Setelah menjalani tubektomi, pasien akan dibawa ke ruang pemulihan untuk dipantau kondisinya. Umumnya, pasien akan dianjurkan untuk menginap semalam di rumah sakit.

Sama seperti semua operasi, tubektomi juga berpotensi memicu efek samping. Beberapa efek sampingnya adalah nyeri pada luka operasi, lemas, pusing, sakit atau kram perut, nyeri bahu, dan perut kembung. Dokter akan memberikan obat pereda sakit untuk mengatasinya.

Ada juga sejumlah hal yang perlu diingat selama pasien dalam masa pemulihan pasca operasi, yaitu:

  • Menjaga bekas luka agar tidak terkena air selama 2 hari, serta tidak menggosok luka operasi selama setidaknya 7 hari pasca operasi
  • Mengeringkan bekas luka operasi secara hati-hati
  • Tidak mengangkat beban berat selama 3 minggu, seperti menggendong anak
  • Tidak melakukan aktivitas berat atau hubungan seks selama setidaknya 1–2 minggu, dan melakukan aktivitas secara bertahap

Bagi pasien yang menjalani prosedur penyumbatan tuba falopi (tubal occlusive procedure), disarankan untuk tetap menggunakan alat kontrasepsi selama 3 bulan setelah prosedur dilakukan.

Komplikasi atau Efek Samping Tubektomi

Sebagian besar wanita yang menjalani tubektomi dapat kembali menjalani kegiatan sehari-hari tanpa mengalami komplikasi. Meski demikian, ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat tubektomi, yaitu:

  • Gangguan atau cedera pada usus, kantung kemih, dan pembuluh darah utama
  • Nyeri di panggul atau perut yang berkelanjutan
  • Infeksi luka operasi

Segera ke dokter apabila efek samping tidak kunjung berkurang, terutama jika mengalami gejala berikut:

  • Pingsan secara berulang
  • Demam
  • Sakit perut yang parah atau perdarahan pada luka operasi yang tidak kunjung berkurang hingga 12 jam setelah operasi
  • Keluarnya cairan atau darah secara terus-menerus dari luka operasi

Perlu diketahui bahwa tubektomi tidak mampu melindungi pasien dari penyakit menular seksual. Oleh karena itu, pasien tetap harus menggunakan kondom jika sedang berhubungan seksual, terutama jika memiliki lebih dari 1 pasangan.

Kemungkinan hamil setelah tubektomi juga sangatlah kecil. Kalaupun terjadi, tinggi kemungkinan bahwa kehamilan itu adalah kehamilan ektopik. Kondisi ini bisa berbahaya bagi pasien.

Oleh karena itu, pasien perlu segera menjalani tes kehamilan jika terlambat menstruasi, lalu segera konsultasikan ke dokter jika hasilnya positif.