Tubektomi, Ini yang Harus Anda Ketahui

Tubektomi adalah prosedur pemotongan atau penutupan tuba falopi atau saluran indung telur yang menghubungkan ovarium ke rahim. Setelah tubektomi, sel-sel telur tidak akan bisa memasuki rahim sehingga tidak dapat dibuahi. Prosedur ini juga akan menghalangi sperma ke tuba falopi.

Sebagai salah satu metode KB yang bersifat permanen, tubektomi terbukti sangat efektif, namun tidak memengaruhi siklus menstruasi. Proses ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk setelah menjalani proses persalinan normal maupun caesar.

Tubektomi

Indikasi Tubektomi

Tubektomi termasuk salah satu metode permanen untuk mencegah kehamilan. Karena itu, prosedur ini hanya direkomendasikan pada wanita dewasa yang benar-benar yakin bahwa mereka tidak ingin hamil.

Proses ini juga dapat menurunkan risiko munculnya kanker ovarium, terutama pada wanita berusia di atas 40 tahun, atau yang memiliki riwayat kanker ovarium di dalam keluarga.

Peringatan Tubektomi

Terdapat sejumlah faktor yang sebaiknya dipertimbangkan sebelum seorang wanita menjalani tubektomi. Beberapa di antaranya adalah:
  • Keuntungan dan risiko. Diskusikan keuntungan sekaligus risiko dari prosedur ini dengan dokter bersama pasangan atau keluarga terdekat agar tidak ada penyesalan.
  • Kondisi tertentu. Informasikan pada dokter apabila ada kondisi-kondisi tertentu yang perlu dipertimbangkan, misalnya apakah pasien sedang hamil atau tidak, obat-obatan atau suplemen yang sedang digunakan, penyakit yang diderita, penggunaan obat-obatan terlarang, maupun konsumsi minuman keras.
  • Penggunaan kontrasepsi. Jika tubektomi dilakukan di luar proses persalinan, gunakan alat kontrasepsi setidaknya 1 bulan sebelum tubektomi. Langkah ini dilakukan untuk mencegah kehamilan.

Pra Tubektomi

Sebelum menjalani tubektomi, dokter akan meminta pasien untuk melakukan langkah-langkah tertentu agar operasi bisa berjalan lancar sekaligus meminimalkan risiko komplikasi.

Beberapa hari sebelum operasi

  • Berhenti mengonsumsi obat-obatan yang berpotensi menghambat pembekuan darah. Misalnya ibuprofen, aspirin, atau warfarin.
  • Berhenti merokok, mengonsumsi minuman keras, atau menggunakan obat-obatan terlarang.
  • Pasien yang akan menjalani prosedur penyumbatan tuba falopi, atau selective tubal occlusive procedure (STOP), dianjurkan menggunakan obat hormon selama setidaknya 2 minggu.

Pada hari operasi

  • Berpuasa setidaknya selama 8 jam sebelum operasi.
  • Menjalani tes kehamilan untuk memastikan pasien tidak sedang hamil.

Prosedur Tubektomi

Tubektomi bisa dilakukan dengan anestesi lokal atau umum (total). Jenis anestesi ini akan ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi pasien serta jenis operasi yang dijalani.

Tubektomi bisa dijalani bersamaan dengan operasi Caesar. Namun jika dijalani di luar operasi Caesar, terdapat 2 jenis prosedur tubektomi yang bisa dipilih, yaitu laparoskopi dan minilaparotomi.

Laparoskopi

Metode ini paling umum dipilih karena prosedur dan masa pemulihannya yang tergolong cepat. Prosedurnya meliputi:

  • Membuat 1 atau 2 sayatan kecil di dekat pusar.
  • Memompa gas ke dalam perut agar tuba falopi dan rahim terlihat jelas.
  • Memasukkan laparoskop (tabung kamera mini) ke dalam perut untuk melihat tuba falopi.
  • Memasukkan alat untuk menutup atau memotong tuba falopi melalui laparoskop atau sayatan kecil lain.
  • Membakar atau menyumbat tuba falopi.
  • Mengeluarkan laparoskop dan alat lainnya, lalu menjahit sayatan.

Minilaparotomi

Metode ini dilakukan melalui sayatan kecil di bawah pusar dan dianjurkan bagi pasien yang mengalami obesitas, baru menjalani operasi perut atau panggul, serta pernah mengalami infeksi panggul yang berdampak pada rahim maupun tuba falopi.

Di samping operasi, tubektomi bisa dilakukan dengan prosedur histeroskopi. Metode ini dilakukan lewat leher rahim sehingga tidak membutuhkan operasi dan jarang memerlukan anestesi.

Pasca Tubektomi

Setelah menjalani tubektomi, pasien dengan anestesi umum dianjurkan menginap semalam di rumah sakit. Sementara pasien yang menjalani anestesi lokal bisa pulang pada hari yang sama setelah 1 hingga 4 jam pasca operasi.

Sama seperti semua operasi, tubektomi juga berpotensi memicu efek samping. Beberapa di antaranya meliputi rasa nyeri pada luka operasi, merasa lelah, pusing, sakit atau kram perut, nyeri bahu, serta perut kembung. Dokter akan memberikan obat pereda sakit untuk mengatasinya.

Ada juga sejumlah hal yang perlu diingat selama pasien dalam masa pemulihan pasca operasi. Beberapa di antaranya adalah:

  • Menjaga bekas luka agar tidak terkena air selama 2 hari, serta tidak menggosok luka operasi selama setidaknya 7 hari pasca operasi.
  • Mengeringkan bekas luka operasi secara hati-hati.
  • Menghindari mengangkat beban berat selama 3 minggu, misalnya menggendong anak.
  • Tidak melakukan aktivitas berat atau hubungan seks selama setidaknya 1-2 minggu, dan melakukan aktivitas secara bertahap.
  • Bagi pasien yang menjalani prosedur penyumbatan tuba falopi (tubal occlusive procedure), disarankan untuk tetap menggunakan alat kontrasepsi selama 3 bulan setelah tindakan.
Apabila efek samping tidak kunjung berkurang atau ada indikasi-indikasi yang mengkhawatirkan, pasien sebaiknya segera menemui dokter. Terutama apabila mengalami:
  • Pingsan secara berulang.
  • Demam.
  • Sakit perut yang parah atau perdarahan pada luka operasi yang tidak kunjung berkurang pada 12 jam setelah operasi.
  • Keluarnya cairan secara terus-menerus dari luka operasi.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi Setelah Tubektomi

Sebagian besar wanita yang menjalani tubektomi dapat kembali menjalani kegiatan sehari-hari tanpa mengalami komplikasi. Contoh-contoh komplikasi yang mungkin saja bisa terjadi akibat operasi ini adalah:
  • Gangguan atau cedera pada usus, kantung kemih, dan pembuluh darah utama.
  • Nyeri pada panggul atau perut yang berkelanjutan.
  • Infeksi pada luka operasi.
Tubektomi juga tidak mampu melindungi seseorang wanita dari penyakit menular seksual. Karena itu, tetap gunakan kondom apabila Anda meragukan kesehatan pasangan atau Anda memiliki lebih dari 1 pasangan.

Kemungkinan hamil setelah operasi ini sangatlah kecil. Apabila terjadi pun, tinggi kemungkinan bahwa itu adalah kehamilan ektopik. Karena itu, segera lakukan tes kehamilan jika menstruasi Anda terlambat.