Vaksin Hib untuk Mencegah Berbagai Penyakit Serius pada Anak

Vaksin Hib melindungi balita Anda dari infeksi bakteri penyebab meningitis, pneumonia, dan epiglotitis. Jika tidak mendapatkan vaksin, penyakit-penyakit ini berpotensi menimbulkan kecacatan bahkan kematian.

Haemophilus influenzae type b (Hib) merupakan bakteri penyebab penyakit serius yang merupakan golongan bakteri Haemophilus influenzae. Infeksi bakteri ini biasanya menjangkiti anak-anak di bawah usia 5 tahun. Meski demikian, orang dewasa yang menderita kondisi medis tertentu juga bisa terserang penyakit akibat infeksi bakteri Hib.

Vaksin Hib untuk Mencegah Berbagai Penyakit Serius pada Anak - alodokter

Mengapa perlu vaksin Hib?

Lebih dari 90 persen infeksi bakteri Hib terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun. Angka kejadian tertinggi terdapat pada bayi berusia 6-12 bulan.

Bakteri Hib bisa hidup di hidung dan tenggorokan orang yang sehat, dan biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun. Penyebarannya melalui lendir atau ingus dari tenggorokan dan hidung penderita, misalnya ketika dia batuk atau bersin. Apabila sudah mengalami kontak dengan bakteri Hib, anak-anak bisa mengalami berbagai penyakit berat seperti:

  • Meningitis, infeksi pada selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang. Ini merupakan penyakit yang paling parah yang disebabkan oleh Hib. Satu dari 20 anak bisa meninggal bahkan jika sudah mendapatkan pengobatan. Sedangkan yang bertahan hidup kemungkinan akan memiliki masalah jangka panjang, seperti kerusakan otak permanen, gangguan pendengaran (tuli), hambatan tumbuh kembang, dan kejang-kejang.
  • Septikemia, infeksi berat yang ditandai dengan masuknya kuman ke peredarah darah. Keadaan ini dapat memicu Gejalanya dapat berupa lemas, tidak mau makan atau minum, sesak napas, tubuh teraba dingin atau demam, muncul ruam di sekujur tubuh, dan kejang.
  • Epiglotitis, infeksi pada epiglotis, yaitu katup yang menutupi pintu masuk ke tenggorokan. Gejalanya dapat berupa nyeri tenggorokan, nyeri atau kesulitan menelan, demam, rewel, suara serak, bunyi napas abnormal, dan keluar air liur.
  • Osteomielitis, infeksi pada tulang. Gejalanya bisa berupa nyeri berat pada tulang yang meradang karena infeksi, bengkak dan kemerahan pada daerah infeksi, dan demam.
  • Perikarditis, infeksi pada lapisan yang mengelilingi jantung. Gejalanya berupa nyeri berat dan mendadak pada dada yang terasa seperti tertusuk atau tertekan pada dada. Nyeri tersebut dirasakan semakin berat pada saat berbaring atau menarik napas dalam dan membaik saat duduk tegak.
  • Pneumonia, infeksi paru-paru. Gejalanya berupa sesak napas, nyeri dada, demam, sulit atau tidak mau minum pada bayi atau anak, dan batuk.
  • Septic arthritis, infeksi sendi. Gejalanya berupa nyeri berat pada sendi yang terkena infeksi, nyeri saat menggerakkan sendi, terdapat bengkak atau kemerahan pada sendi, dan demam.
  • Selulitis, infeksi pada kulit dan jaringan di bawahnya. Gejalanya bisa berupa kulit yang terkena infeksi tampak bengkak, merah, nyeri, dan terasa panas serta nyeri jika ditekan. Kondisi ini sering terjadi pada tungkai bawah namun bisa juga mengenai daerah tubuh lain. Jika infeksi semakin berat akan terjadi demam, mual muntah, dan gangguan kesadaran.

Jika terdapat gejala-gejala dari penyakit tersebut, segeralah ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Apabila tidak segera diobati, penyakit tersebut dapat menyebabkan kecacatan bahkan kematian.

Setelah ditemukannya vaksin Hib, angka kejadian infeksi Hib yang sebelumnya tinggi, kini jauh berkurang. Karena keberhasilan vaksin Hib dalam menekan angka kejadian penyakit ini, maka vaksinasi Hib penting dilakukan sebagai salah satu tindakan pencegahan penyakit.

Cakupan vaksinasi Hib di wilayah Asia Tenggara telah meningkat pada dari 56 persen pada tahun 2015 menjadi 80% pada tahun 2016. Di Indonesia cakupan pemberian vaksin Hib mencapai 95%, angka ini sudah mencapai target namun cakupan terendah masih terjadi yaitu di Papua. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia dan WHO tetap mendukung pemberian vaksin Hib untuk menekan angka kejadian penyakit akibat infeksi Hib.

Siapa saja yang memerlukan vaskin Hib?

Semua anak berusia di bawah lima tahun disarankan agar mendapatkan vaksin Hib. Ini karena bayi dan anak-anak sangat rentan terhadap penyakit akibat infeksi kuman Hib. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2017, pemberian vaksin Hib pada anak dilakukan secara bertahap, yaitu dimulai dari Si Kecil berusia:

  • 2 bulan
  • 3 bulan
  • 4 bulan
  • Booster diberikan antara usia 15 bulan hingga 18 bulan

Orang dewasa dan anak-anak yang usianya lebih dari lima tahun biasanya tidak memerlukan vaksin Hib. Tapi jika mereka menderita kondisi tertentu seperti HIV, asplenia (riwayat operasi pengangkatan limpa), atau anemia sel sabit, dokter kemungkinan akan merekomendasikan pemberian vaksin Hib.

Namun vaksin Hib ini tidak disarankan untuk diberikan pada anak-anak yang:

  • Usianya kurang dari 6 minggu.
  • Menderita alergi setelah diberikan suntik Hib sebelumnya.
  • Sedang sakit berat.

Jika Anda ingin mendapatkan vaksin tetapi masih dalam kondisi kurang sehat atau memiliki pertanyaan seputar vaksinasi, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Efek samping vaksin Hib

Vaksin Hib dan vaksin jenis lain pasti ada kemungkinan memiliki efek samping, seperti demam, bengkak atau kemerahan di tempat suntikan vaksin diberikan. Namun, efek samping tersebut biasanya jarang terjadi. Jika terjadi pun hanya akan berlangsung selama dua atau tiga hari setelah pemberian vaksin. Reaksi alergi berat akibat vaksin sangat jarang terjadi.

Jika ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang vaksin Hib, jangan ragu atau malu untuk banyak bertanya kepada dokter atau dokter anak kepercayaan Anda.