Vasektomi, Ini yang Harus Anda Ketahui

Vasektomi adalah prosedur kontrasepsi pada pria dengan cara memutus penyaluran sperma pada air mani. Dengan demikian, kehamilan dapat dicegah karena sperma  tidak dapat membuahi sel telur wanita.

Dalam prosedur ini, saluran yang membawa sperma dari testis dipotong dan diikat guna mencegah sperma menjangkau air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi dalam hubungan seksual. Vasektomi bisa disebut juga sebagai sterilisasi atau kontrasepsi permanen pada pria. Operasi membuka kembali saluran sperma mungkin untuk dilakukan, namun tidak selalu berhasil.

vasektomi

Prosedur vasektomi dilaksanakan melalui operasi bedah minor dengan pemberian anestesi lokal, sehingga pasien dalam keadaan tetap terjaga. Pembiusan hanya  dilakukan pada area skrotum dan testis. Waktu pelaksanaan vasektomi sendiri hanya memakan waktu 10 hingga 30 menit. Selain itu, risiko vasektomi juga sangat kecil dan pasien dapat pulang pasca prosedur vasektomi dilakukan.

Indikasi Vasektomi

Vasektomi dapat dilakukan setelah pasien menyadari sepenuhnya bahwa dirinya tidak berkeinginan memiliki anak lagi dan memilih kontrasepsi dengan cara vasektomi. Cara kontrasepsi ini diminati pria yang menginginkan prosedur kontrasepsi secara cepat dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. Kendati demikian, sebaiknya keputusan untuk melakukan vasektomi merupakan kesepakatan bersama dengan pasangan.

Peringatan Vasektomi

Vasektomi dapat dilakukan pada usia berapa pun. Meski demikian, dokter biasanya tidak menganjurkan metode ini untuk pria dengan usia di bawah 30 tahun dan belum memiliki anak. Pertimbangan khusus juga perlu diberikan pada pria dengan kondisi medis tertentu, seperti:
  • Sedang mengonsumsi obat antikoagulan dan antiplatelet.
  • Menderita infeksi kulit akut pasca trauma atau memiliki luka parut pada skrotum.
  • Memiliki kelainan anatomi, seperti varikokel atau hidrokel yang besar.
  • Memiliki riwayat gangguan darah atau perdarahan yang berlebihan.
  • Memiliki alergi atau sensitif terhadap anastesi lokal atau antibiotik.
  • Memiliki riwayat operasi pada alat kelamin sebelumnya.
  • Mengalami infeksi saluran kemih atau infeksi kelamin yang berulang.

Sebelum Vasektomi

Sebelum melaksanakan vasektomi, dokter akan meminta Anda untuk berhenti mengonsumsi aspirin atau obat pengencer darah lainnya selama 7 hari. Obat-obatan tersebut dapat memperbesar risiko perdarahan saat operasi vasektomi. Sedangkan untuk mencegah infeksi, Anda akan diminta membersihkan alat kelamin dan mencukur bulu kelamin di seluruh skrotum dengan menggunakan pisau cukur sehari sebelum vasektomi dilakukan.

Pada hari pelaksanaan vasektomi, bawalah pakaian dalam ketat untuk dipakai setelah operasi guna menopang skrotum dan mengurangi pembengkakan. Selain itu, ajak seseorang yang dapat mengantar Anda pulang pasca pelaksanaan vasektomi.

Beberapa jam sebelum vasektomi, konsumsi obat-obatan pra operasi yang dianjurkan dokter. Lebih jauh lagi, hindari mengonsumsi makanan berat dan ganti dengan kudapan ringan.

Prosedur Vasektomi

Prosedur vasektomi dapat dilakukan oleh dokter bedah umum atau dokter spesialis urologi di rumah sakit atau klinik. Beberapa persiapan yang dilakukan sebelum vasektomi antara lain adalah:
  • Membersihkan testis dan skrotum dengan cairan antiseptik.
  • Jika diperlukan, dokter dapat memberi obat penenang secara oral atau melalui intravena. Pemberian obat ini akan membuat pasien mengantuk.
  • Penyuntikan anastesi lokal pada kulit skrotum. Anastesi yang dapat diberikan adalah lidocaine 1 persen dengan atau tanpa epinephrine.
Untuk menjalankan vasektomi, terdapat dua teknik bedah yang bisa dilakukan, yaitu teknik konvensional dan teknik tanpa pisau bedah. Dalam teknik konvesional, dokter membuat sayatan sepanjang 1 sentimeter di setiap sisi skrotum sehingga dokter dapat menjangkau saluran sperma (vas deferens). Setelah itu, kedua saluran sperma dipotong dan ujung masing-masing saluran dijahit atau ditutup menggunakan diathermy (alat perekat dengan pemanasan suhu tinggi). Masing-masing sayatan kemudian dijahit dengan benang yang dapat diserap kulit sehingga tidak diperlukan pengangkatan benang pasca operasi.

Sedangkan dalam vasektomi tanpa pisau bedah, dokter menjepit saluran sperma di bawah kulit skrotum dengan klem. Setelah itu, dibuat lubang kecil pada kulit di atas saluran sperma. Lubang tersebut dibuka dengan menggunakan sepasang forsep, sehingga dokter dapat menjangkau saluran sperma, untuk kemudian melakukan pemotongan dan pengikatan. Dalam prosedur ini, darah tidak banyak keluar dan tidak terasa sakit dibanding teknik konvensional.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah pemasangan vasclip untuk menutup atau menjepit saluran sperma, sehingga tidak dilakukan pemotongan dan pengikatan. Namun metode ini kurang efektif dibandingkan dengan metode lainnya.

Sesudah Vasektomi

Selama satu hingga dua jam pasca vasektomi, pasien masih dapat merasakan efek pembiusan pada skrotum. Setelah itu, pasien mulai merasa sedikit nyeri dan bengkak yang umumnya akan menghilang dalam waktu beberapa hari. Guna meredakannya, kompres skrotum dengan kantong es setidaknya selama 36 jam, beristirahat selama 24 jam, dan gunakan perban atau pakaian dalam yang ketat untuk menyangga skrotum setidaknya selama 48 jam pasca vasektomi. Jika diperlukan, obat pereda nyeri seperti paracetamol, juga dapat dikonsumsi.

Selain itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan pasca vasektomi meliputi:

  • Menjaga kebersihan diri dengan mandi setelah operasi dan mengeringkan daerah bekas operasi secara perlahan.
  • Hindari kegiatan berat selama 3 hari pasca vasektomi, seperti berolahraga atau mengangkat beban karena dapat menyebabkan nyeri atau perdarahan di dalam skrotum. Umumnya, pasien dapat beraktivitas normal lagi setelah 8 hingga 9 hari seusai prosedur vasektomi.
  • Hubungan seks dapat kembali dilakukan beberapa hari pasca vasektomi atau sesudah pasien merasa nyaman untuk melakukannya. Meski demikian, sperma biasanya masih tersisa dalam saluran vas deferens hingga 20 atau 30 ejakulasi. Selama masa ini, pasien diminta untuk menggunakan konstrasepsi lain guna mencegah terjadinya kehamilan. Tes untuk memastikan air mani bersih dari sperma dapat dilakukan setidaknya 8 minggu pasca vasektomi.
  • Vasektomi tidak membuat seseorang terbebas dari penularan infeksi penyakit seksual, seperti HIV. Cara perlindungan yang paling efektif terhadap penyakit ini adalah dengan menggunakan kondom.

Komplikasi Vasektomi

Meski langka terjadi, vasektomi dapat menimbulkan beberapa masalah serius seperti berikut ini:
  • Infeksi. Hal ini disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam luka potong pada skrotum.
  • Hematoma. Kondisi ini terjadi bila terdapat perdarahan dan rembasan darah ke dalam skrotum sehingga mengakibatkan skrotum terasa nyeri dan bengkak.
  • Granuloma sperma. Dalam kasus ini, terdapat benjolan keras berisi sperma pada jaringan sekitar testis. Benjolan ini biasanya terasa sangat nyeri.
  • Testis terasa penuh. Hal ini biasanya terjadi akibat epididimis di dalam skrotum dipenuhi sperma yang tersisa, Kondisi ini dapat mereda dalam waktu beberapa minggu.
  • Nyeri pada testis. Nyeri ini dapat muncul beberapa lama atau beberapa tahun setelah vasektomi dilakukan. Penyebabnya adalah luka atau saraf yang terjepit saat operasi. Pasien vasektomi yang mengalami nyeri seperti ini dianjurkan menjalani operasi, guna memperbaiki kondisi dan meminimalkan rasa nyeri.