Waspadai Tanda-tanda kepada 7 Penyakit Reproduksi Pria Ini

Selama ini orang sering hanya mengenal impotensi sebagai penyakit reproduksi pria, padahal masih banyak penyakit lain yang belum diketahui. Mengenalinya dapat membantu Anda untuk mengantisipasi. 

Jangan remehkan gejala-gejala kecil, seperti testis yang terasa sakit saat berhubungan seksual atau saat buang air kecil. Kondisi-kondisi ini dapat menjadi tanda-tanda kepada kemungkinan adanya penyakit pada sistem reproduksi pria. Kenali beberapa penyakit tersebut di bawah ini.

sistem reproduksi-alodokter

Kanker prostat

Prostat adalah kelenjar di bawah kantong kemih pria yang berperan menghasilkan cairan mani. Kanker prostat umumnya terjadi pada pria di atas 40 tahun, terutama pada mereka yang memiliki keluarga dengan riwayat gangguan kesehatan serupa. Penyakit ini ditandai dengan rasa nyeri saat buang air kecil dan saat ejakulasi, serta rasa sakit di punggung bawah. Dokter akan memastikan diagnosis dengan pemeriksaan melalui anus, tes darah, hingga MRI, biopsi, dan ultrasonography (USG). Penanganan dapat berupa terapi hormon, terapi radiasi, kemoterapi, dan operasi, tergantung kepada tingkat keparahan kanker.

Disfungsi ereksi

Impotensi atau disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan pria untuk melakukan atau mempertahankan ereksi saat berhubungan seksual. Kondisi ini dapat menyebabkan stres dan mengganggu kestabilan hubungan suami istri. Meski umumnya tidak berbahaya, tetapi disfungsi ereksi ternyata bisa menjadi gejala kepada gangguan kesehatan serius, bahkan meningkatnya risiko penyakit jantung.

Varikokel

Varikokel dapat disebabkan akibat ketidaknormalan pembuluh pada skrotum berupa pelebaran pada pembuluh darah yang disebut pleksus pampiniformis. Kondisi ini lebih sering terjadi pada skrotum bagian kiri pada masa pubertas. Selain memperkecil testis, penyakit reproduksi pria ini dapat menyebabkan infertilitas akibat berkurangnya produksi dan kualitas sperma. Waspadai jika terjadi gejala yang biasanya mendahului varikokel seperti pembengkakan pada skrotum, benjolan pada salah satu testis, skrotum terasa sakit, serta pembuluh testis yang terlihat membesar dan membengkak.

Hipospadia

Uretra adalah saluran tempat keluarnya air seni pada penis pria. Penyakit reproduksi pria ini terjadi saat uretra tidak terbuka pada ujung penis, melainkan pada bagian bawahnya. Kondisi yang biasanya merupakan kelainan bawaan sejak lahir ini dapat dipulihkan dengan operasi. Jika operasi berjalan lancar, pria dapat melakukan aktivitas seksual seperti biasa.

Hidrokel

Penyakit ini berupa penumpukan cairan di sekitar testis yang menyebabkan pembengkakan pada area skrotum. Meski umum terjadi pada bayi baru lahir dan biasanya tidak berbahaya, tapi kondisi ini bisa terasa tidak nyaman dan dapat terjadi pada usia dewasa akibat cedera atau efek operasi. Penyakit ini dapat didahului dengan gejala seperti bengkak, rasa sakit, dan skrotum berwarna merah. Pada kasus yang jarang, hidrokel dapat terjadi bersamaan dengan kanker testis.

Kriptorkismus

Kriptorkismus adalah kondisi saat salah satu atau kedua testis tidak terlihat akibat tidak terjadi penurunan testis ke tempat seharusnya.  Meski merupakan kelainan bawaan sejak lahir, tapi kondisi ini dapat terjadi pasca persalinan atau bahkan setelah remaja.

Hiperplasia prostat jinak / benign prostatic hyperplasia (BPH)

BPH adalah pembesaran kelenjar prostat di sekeliling saluran urine yang akhirnya dapat menekan uretra. Kondisi yang bisa jadi merupakan bagian alami dari proses penuaan ini umumnya disebabkan perubahan pada sel pertumbuhan dan keseimbangan hormon. Cermati gejala-gejala yang dapat menjadi tanda BPH, yaitu: aliran urine lemah, sering ingin buang air kecil dan kandung kemih terasa belum kosong bahkan setelah Anda buang air kecil. Kabar baiknya, kondisi ini tidak mengganggu kemampuan ereksi.

Dengan mengenali berbagai penyakit pada sistem reproduksi pria, Anda diharapkan bisa mengenali gejala-gejala kepada gangguan kesehatan tertentu. Jika gejala-gejala tersebut terasa makin mengganggu, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Di samping itu, terdeteksinya risiko serangan suatu penyakit secara lebih dini pada akhirnya akan mempermudah proses penanganan dengan probabilitas kesembuhan yang lebih tinggi juga.