Yang Perlu Diketahui Saat Ibu Hamil Kelebihan Air Ketuban

Selama menjalani kehamilan, sangat penting bagi ibu hamil untuk memperhatikan kesehatan tubuhnya, termasuk memperhatikan kondisi air ketuban. Selain itu, kelebihan air ketuban juga dapat membawa risiko bagi ibu hamil dan janin dalam kandungan.

Air ketuban dimiliki oleh setiap ibu hamil, merupakan cairan bening agak kekuningan yang mengelilingi janin selama berada di dalam kandungan. Pada kondisi tertentu, jumlah air ketuban di dalam kandungan bisa mengalami perubahan, air ketuban bisa menjadi lebih sedikit, bisa pula menjadi berlebihan.

Manfaat Air Ketuban

Air ketuban sangat penting untuk melindungi janin, dan akan terus bergerak di sekitar janin seiring janin menelan dan menghirupnya, kemudian dilepaskan kembali. Manfaat lain dari air ketuban untuk janin antara lain:

  • Membantu pergerakan janin di dalam rahim.
  • Mendukung pertumbuhan tulang yang tepat.
  • Membantu agar paru-paru janin dapat berkembang dengan baik.
  • Menjaga kondisi suhu di sekitar janin dan membuatnya tetap hangat dan nyaman selama dalam kandungan.
  • Melindungi janin agar tetap aman terhadap cedera dari luar atau guncangan.

Jumlah air ketuban pada usia kehamilan 34 minggu kira-kira sebanyak 800 mL. Sedangkan di usia kehamilan 40 minggu atau minggu terakhir sebelum ibu hamil menjalani persalinan umumnya memiliki air ketuban sekitar 600 mL untuk melingkupi janin dalam kandungan. Jika melebihi jumlah tersebut, berarti ibu hamil mengalami kelebihan air ketuban.

Gejala dan Risiko Kelebihan Air Ketuban

Kelebihan air ketuban atau biasa disebut polihidramnion dapat terjadi pada paruh kedua kehamilan, karena adanya peningkatan air ketuban secara bertahap.

Gejala polihidramnion muncul pada saat terjadi penekanan dari dalam rahim pada organ di sekitarnya. Gejala yang ditimbulkan memang tidak terlalu jelas, namun diketahui dapat menyebabkan kesulitan bernapas atau sesak napas yang membaik pada posisi tegak, bengkak pada kedua tungkai, vulva/bagian luar vagina dan dinding perut, serta adanya penurunan produksi urine.

Selain itu, penyebab lain dari polihidramnion di antaranya adalah kondisi seperti anemia janin atau kurangnya sel darah merah pada janin, darah antara ibu dan janin yang tidak cocok, diabetes gestasional, serta cacat lahir yang memengaruhi saluran pencernaan atau sistem saraf pusat janin.

Kebanyakan ibu hamil yang mengalaminya, tidak akan memiliki gangguan berarti selama kehamilan. Tetapi, mungkin saja ada beberapa peningkatan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan, terutama risiko melahirkan secara prematur (kurang dari 37 minggu).

Selain itu polihidramnion juga diketahui sering berkaitan dengan terjadinya ketuban pecah dini, gangguan plasenta, perkembangan janin yang berlebihan, dan perdarahan pasca melahirkan. Selain itu, ibu hamil dengan polihidramnion juga kemungkinan mengalami masalah dengan posisi janin atau posisi tali pusar.

Pemeriksaan untuk Memastikan Kelebihan Air Ketuban

Ibu hamil tentu saja tidak dapat menghitung jumlah air ketuban sendiri, melainkan harus melalui pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga ahli. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan USG, untuk memberi gambaran kondisi kandungan dengan lebih jelas.

Jika dokter mendapatkan hasil pemeriksaan yang mengindikasikan adanya kelebihan air ketuban, maka kemungkinan dokter akan memberi rekomendasi pemeriksaan yang lebih rinci dan melakukan tes tambahan untuk menilai kondisi air ketuban dan janin, termasuk amniosentesis. Aminiosentesis adalah prosedur pengambilan sampel air ketuban yang mengandung sel janin dan bahan lainnya yang diproduksi oleh janin, dari dalam rahim untuk kemudian diperiksa. Selain itu pemeriksaan kadar gula darah dan pemeriksaan kariotipe untuk memeriksa kromosom janin mungkin dilakukan untuk menilai kondisi janin dalam kandungan.

Jika ibu hamil terbukti kelebihan air ketuban, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan USG secara intensif setiap minggu, guna memonitor kondisi kehamilan.

Untuk kasus kelebihan air ketuban yang tergolong ringan, umumnya tidak diperlukan pengobatan selain pemeriksaan intensif secara rutin. Namun jika sudah menyebabkan gejala yang mengganggu, dapat dilakukan tindakan untuk mengurangi jumlah air ketuban atau pemberian obat yang membantu mengurangi produksi air ketuban. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan untuk tetap melahirkan normal pada minggu 39-40.

Jika terdapat komplikasi yang menyebabkan janin terpaksa dilahirkan sebelum waktunya, maka dokter mungkin akan memberikan terapi tambahan untuk membantu perkembangan janin sehingga lebih cepat matang dan lebih siap untuk dilahirkan.

Jadi jika kamu didiagnosa memiliki air ketuban berlebih, jangan terlalu panik yah. Selalu konsultasi dengan dokter, pahami informasi yang diberikan, terutama jika timbul gejala-gejala yang mengganggu. Jangan ragu untuk meminta informasi yang lengkap, berikut dengan perencanaan penanganan selama kehamilan hingga persalinan. Kamu juga bisa meminta saran dokter mengenai perlu atau tidaknya melakukan persalinan lebih awal.

Referensi