Yuk, Berkenalan dengan Mekonium dan Risiko Penyakit di Baliknya

Mekonium adalah istilah medis yang diartikan sebagai tinja pertama bayi. Normalnya, mekonium dikeluarkan setelah bayi lahir, namun ada juga bayi yang mengeluarkannya selagi masih di dalam kandungan. Kondisi tersebut bisa berdampak buruk bagi bayi.

Dibandingkan dengan tinja orang dewasa, mekonium memiliki tekstur yang berbeda. Yuk, telusuri lebih lanjut tentang seperti apa tinja pertama Si Kecil ini.

Yuk, Berkenalan dengan Mekonium dan Risiko Penyakit di Baliknya

Karakteristik Mekonium, Tinja Pertama Bayi

Berikut ini fakta-fakta menarik tentang mekonium.

  • Tinja identik dengan aroma yang tidak sedap, namun mekonium tidak berbau, lho. Hal ini dikarenakan mekonium masih steril alias belum terjamah oleh bakteri-bakteri di usus bayi. Bakteri mulai muncul ketika dia sudah mulai mendapat asupan makanan.
  • Komposisi mekonium terdiri dari zat-zat yang bayi konsumsi selama di rahim, seperti air, cairan ketuban, lendir, pembuangan dari empedu, dan sel-sel kulit yang lepas. Oia, jangan kaget ketika melihat ada rambut pada mekonium karena rambut-rambut halus yang menutupi tubuhnya bisa tertelan juga olehnya.
  • Mekonium berwarna hitam kehijau-hijauan serta memiliki tekstur yang kental dan lengket, menyerupai ter.
  • Kemungkinan besar, bayimu akan mengeluarkan mekonium pertama kali dalam waktu 24 jam sejak kelahirannya, meski tidak menutup kemungkinan proses ini bisa berlangsung lebih dari sehari. Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh gangguan usus, tinja tersumbat, atau anus bayi yang belum berkembang dengan baik.

Bahaya Menghirup Mekonium di Dalam Kandungan

Sebagian bayi ada yang tidak bisa menahan untuk mengeluarkan tinja pertamanya. Hasilnya, dia akan mengeluarkannya selagi di dalam kandungan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh janin yang stres.

Kabar buruknya, mekonium ini bisa bercampur dengan cairan ketuban yang mengelilingi janin selama berada di dalam kandungan dan terhirup, lalu masuk ke paru-parunya. Anomali ini disebut dengan sindrom aspirasi mekonium. Sindrom ini bisa menghalangi sebagian atau seluruh saluran pernapasannya. Hasilnya, mekonium bisa mengiritasi saluran tersebut dan membuat janin sulit bernapas.

Masuknya mekonium ke paru-paru bisa menyebabkan komplikasi kesehatan yang bersifat jangka pendek, seperti peradangan dan infeksi. Paru-parunya juga bisa mengembang secara berlebihan akibat tersumbat dan hal ini bisa membuat paru-parunya pecah. Kemudian disusul oleh terakumulasinya udara dari paru-paru pada rongga dada dan sekitar paru-paru, disebut dengan pneumothorax. Pneumothorax adalah suatu kondisi yang membuat paru-paru sulit mengembang kembali.

Pada kebanyakan kasus, sindrom ini tidak menyebabkan komplikasi jangka panjang pada bayi, namun jika kondisinya sangat parah dan tidak ditangani dengan benar, maka tetap bisa berakibat fatal.

Selain itu, risiko bayi mengalami tekanan darah tinggi di pembuluh darah paru-parunya juga meningkat. Hal ini bisa membuat aliran darah menjadi terhambat dan membuatnya sulit bernapas dengan benar. Tidak hanya itu, terjadinya menghirup mekonium yang sudah parah bisa membuat kerusakan otak permanen pada bayi.

Untuk mencegah bayi mengeluarkan tinja pertamanya di kandungan dan menghindari risiko buruk menimpa bayimu akibat sindrom aspirasi mekonium, jangan biarkan janinmu mengalami stres. Salah satunya adalah dengan rutin memeriksakan janin ke dokter ahli sehingga kondisi ini bisa terdeteksi sejak dini. Konsultasikan lebih lanjut kepada dokter untuk mengetahui hal apa saja yang harus kamu lakukan untuk menjauhkan janin dari stres.