Estimasi Biaya Kultur dan Transfer Blastosis Embrio

Kultur dan Transfer Blastosis Embrio

Berapa Biaya Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Biaya kultur dan transfer blastosis embrio bervariatif, tergantung pada rumah sakit tempat Anda menjalani program bayi tabung. Di Indonesia, biaya prosedur bayi tabung umumnya dimulai dari Rp 40.000.000 per siklus. Namun, untuk tahap kultur dan transfer blastosis embrio sendiri, biaya di rumah sakit swasta di Indonesia dimulai dari Rp 1.000.000 per tindakan. Dianjurkan untuk mempersiapkan dana lebih guna kebutuhan tambahan yang tidak terduga, yaitu sekitar 20-30% dari biaya yang diperkirakan.

Apa Itu Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Kultur dan transfer blastosis embrio adalah prosedur pematangan dan pemindahan embrio ke dalam rahim.

Siapa Saja yang Dapat Menjalani Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Kultur dan transfer blastosis embrio merupakan bagian dari proses bayi tabung yang dapat dilakukan terhadap wanita yang belum memiliki keturunan setelah menikah selama kurang lebih 2 tahun, atau telah menjalani terapi pengobatan untuk meningkatkan kesuburan namun tidak memberikan hasil. 

Pemeriksaan Apa Saja yang Perlu Saya Lalui sebelum Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, pemeriksaan tanda vital, dan pemeriksaan lanjutan yang meliputi tes hormon, pemeriksaan organ rahim, analisis semen, skrining infeksi menular seksual, dan percobaan pemindahan embrio tiruan.

Tahap Apa Saja yang Perlu Saya Jalani sebelum Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Ada tiga tahap yang perlu Anda jalani sebelum menjalani kultur dan transfer blastosis embrio, yaitu tahap stimulasi atau induksi ovulasi (pemberian obat untuk merangsang peningkatan jumlah sel telur), tahap pengambilan sel telur atau aspirasi folikular dengan menggunakan alat USG dan jarum berukuran kecil, serta tahap pembuahan (fertilisasi) dengan cara inseminasi atau ICSI (intracytoplasmic sperm injectioni).

Bagaimana Proses Kultur Blastosis Embrio?

Sel telur yang telah melalui proses pembuahan akan dipantau secara rutin oleh dokter, untuk memastikan bahwa sel telur berkembang secara normal dan membentuk embrio. Jika embrio telah matang, maka Anda akan dipersiapkan untuk menjalani transfer blastosis embrio.

Bagaimana Prosedur Transfer Blastosis Embrio?

Anda akan dibaringkan di atas meja pemeriksaan dengan posisi tungkai terbuka dan disangga. Kemudian, dokter akan menyuntikkan obat penenang sehingga Anda akan tetap rileks sepanjang prosedur transfer dilakukan. Dokter akan memasukkan kateter melalui vagina, diarahkan menuju serviks dan masuk ke dalam rahim. Kateter yang telah dihubungkan dengan suntikan berisi embrio akan disuntikkan secara perlahan ke dalam rahim. Setelah selesai, dokter akan menarik kateter dari vagina pasien.

Apakah Saya Harus Menjalani Rawat Inap setelah Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Anda akan diperbolehkan untuk pulang dan tidak menjalani rawat inap setelah dokter memastikan kondisi Anda stabil. Namun, dokter akan menganjurkan Anda untuk tetap berbaring selama 30-60 menit di ruang pemulihan sebelum kembali ke rumah.

Hal Apa Saja yang Perlu Saya Lakukan di Rumah setelah Menjalani Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Tidur cukup dan beristirahat ketika lelah, lakukan gerakan ringan secara rutin untuk meningkatkan aliran darah ke rahim, konsumsi makanan bergizi, konsumsi hormon dan suplemen yang dianjurkan, hindari merokok dan konsumsi alkohol, hindari stres yang berlebihan, serta lakukan pemeriksaan secara rutin ke dokter.

Faktor Apa Saja yang Dapat Memengaruhi Hasil Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi hasil kultur dan transfer blastosis embrio, yaitu usia, riwayat gangguan organ reproduksi, kondisi embrio, penyebab ketidaksuburan, dan gaya hidup yang dijalani.

Bagaimana Hasil Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Ada dua kemungkinan hasil kultur dan transfer blastosis embrio, yaitu positif hamil atau negatif. Anda dapat dikatakan positif hamil jika embrio menempel dengan sempurna di dinding rahim dan berkembang secara normal. Namun, jika embrio tidak berhasil menempel di dinding rahim dan Anda kembali mengalami siklus menstruasi, maka dapat dikatakan negatif hamil.

Apa Saja Efek Samping yang Mungkin Saya Alami setelah Menjalani Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Kultur dan transfer blastosis embrio merupakan prosedur yang aman untuk dilakukan. Efek samping yang dirasakan umumnya bersifat ringan dan jarang terjadi, seperti kram perut, konstipasi, keputihan, dan payudara terasa nyeri. Komplikasi yang terjadi juga cukup jarang, berupa kehamilan kembar, kehamilan di luar rahim, OHSS (ovarian hyperstimulation syndrome), cacat lahir, atau keguguran

Hal Apa Saja yang Perlu Diwaspadai setelah Menjalani Kultur dan Transfer Blastosis Embrio?

Demam, nyeri panggul, perdarahan hebat dari vagina, serta bercak darah dalam urine.