Cataplexy adalah kondisi langka yang menyebabkan otot-otot tubuh tiba-tiba menjadi lemas akibat emosi yang sangat kuat, seperti tertawa, marah, atau kaget. Meskipun tidak mengancam jiwa secara langsung, episode cataplexy bisa meningkatkan risiko terjadinya cedera dan menurunkan kualitas hidup.

Cataplexy masih sering disalahartikan sebagai kejang atau pingsan. Padahal, penderitanya tetap sadar penuh saat serangan terjadi. Hanya saja, cataplexy membuat kaki, tangan, atau wajah terasa lemas.

Cataplexy, Ketika Emosi Kuat Membuat Otot Melemah - Alodokter

Kondisi ini disebabkan oleh kelainan pada sistem saraf yang mengatur tidur, khususnya rendahnya kadar hormon hypocretin (oreksin). Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya cataplexy, seperti memiliki riwayat gangguan tidur, khususnya narkolepsi, cedera otak, atau mengalami kejadian traumatis.

Ciri-Ciri Cataplexy yang Perlu Dikenali

Episode cataplexy bisa berbeda-beda pada setiap orang. Episode ini bisa berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit, tergantung pada tingkat keparahan dan pemicu emosinya.

Pada sebagian orang, episode cataplexy hanya terjadi sekali-sekali dengan gejala ringan. Namun pada kasus yang berat, terutama jika emosi tidak stabil, episode ini bisa terjadi berkali-kali dalam sehari hingga mengganggu aktivitas harian.

Berikut ini adalah beberapa ciri khas cataplexy yang sering terjadi:

1. Otot mendadak lemas

Otot mendadak lemas pada cataplexy adalah kondisi ketika kekuatan otot tubuh tiba-tiba hilang atau menurun secara drastis. Keluhan iniĀ  biasanya terjadi setelah seseorang mengalami emosi yang sangat kuat, seperti tertawa, kaget, atau marah.

Kelemahan otot bisa terjadi di berbagai bagian tubuh, seperti wajah, leher, tangan, kaki, atau bahkan seluruh tubuh sekaligus. Akibatnya, penderita bisa terlihat seperti rahangnya turun, kepala terkulai, tangan tiba-tiba tidak kuat memegang benda, atau kaki mendadak lemas sehingga sulit berdiri atau berjalan.

2. Kesulitan bicara

Sulit bicara atau suara menjadi pelo saat mengalami cataplexy biasanya terjadi karena otot-otot di sekitar mulut, lidah, dan tenggorokan tiba-tiba menjadi lemas saat merasakan emosi yang kuat. Akibatnya, suara yang keluar bisa terdengar aneh, seperti cadel, pelan, atau tidak jelas.

Selain itu, sebagian orang juga bisa kesulitan mengendalikan gerakan lidah atau bibir, sehingga artikulasi kata menjadi terputus-putus dan bicara terasa berat. Kondisi ini sering kali membuat penderita merasa tidak percaya diri, terutama jika harus berbicara di depan orang lain.

3. Mata sulit dikendalikan

Selama episode cataplexy berlangsung, mata juga bisa sulit dikendalikan. Pada kondisi ini, kelopak mata bisa menutup tiba-tiba atau terasa sangat berat untuk dibuka, meskipun penderita masih sadar sepenuhnya.

Selain kelopak mata yang sulit dikendalikan, beberapa orang juga bisa mengalami gangguan gerakan bola mata atau pandangan menjadi kabur untuk sementara waktu.

4. Terjatuh atau tidak bisa berdiri tegak

Terjatuh atau tidak bisa berdiri tegak saat mengalami cataplexy terjadi karena otot-otot utama di tubuh, seperti kaki, pinggang, dan punggung, tiba-tiba kehilangan kekuatan setelah seseorang merasakan emosi yang sangat kuat.

Pada kondisi ini, penderita bisa mendadak kehilangan keseimbangan, tubuhnya membungkuk, atau bahkan langsung ambruk ke lantai tanpa bisa mengontrol gerakannya. Kejadian ini sering kali terjadi secara tiba-tiba, sehingga penderita berisiko mengalami cedera, misalnya terbentur atau terjatuh di tempat yang berbahaya.

5. Tetap memiliki kesadaran penuh

Tidak seperti epilepsi atau pingsan, penderita cataplexy umumnya tetap sadar. Artinya, penderita tetap mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitarnya dan bisa memahami pembicaraan orang lain, meskipun sulit untuk merespons secara verbal atau tidak mampu menggerakkan tubuh selama beberapa saat.

Cara Mengatasi Cataplexy

Meski ciri-ciri cataplexy kelihatannya menyeramkan, kondisi ini umumnya hanya berlangsung sementara dan akan membaik seiring redanya episode cataplexy.

Namun, cataplexy bisa mengganggu aktivitas harian dan menimbulkan rasa malu atau takut untuk beraktivitas di luar rumah. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting untuk membantu penderita merasa lebih nyaman saat menghadapi kondisi ini.

Mengelola cataplexy bertujuan untuk mengurangi frekuensi dan keparahan serangan. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  • Minum obat-obatan yang diresepkan oleh dokter, seperti antidepresan atau obat khusus untuk narkolepsi, sesuai kondisi setiap penderita.
  • Menjalani sesi terapi psikologis, seperti konseling, untuk membantu penderita mengelola stres atau emosi pemicu serangan.
  • Menjalani gaya hidup sehat, misalnya dengan mengurangi konsumsi kafein dan alkohol serta berolahraga ringan.

Cataplexy memang bisa sangat mengganggu, tetapi dengan penanganan yang tepat, penderita tetap bisa menjalani kehidupan yang produktif. Jika ada teman atau Anda sendiri yang mengalami gejala seperti di atas, jangan ragu untuk mencari bantuan.

Jika serangan cataplexy menjadi semakin sering, berat, atau berisiko menyebabkan cedera, konsultasikan ke dokter spesialis saraf. Anda juga bisa menggunakan fitur Chat Bersama Dokter di ALODOKTER untuk mendapatkan saran awal sebelum melakukan pemeriksaan langsung. Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting agar kondisi dan kualitas hidup tetap terjaga.