Daerah Berisiko Tinggi DBD

Demam berdarah dengue merupakan penyakit infeksi virus yang dibawa melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini paling banyak ditemukan di daerah beriklim tropis, termasuk Indonesia. Kasus demam berdarah dengue (DBD) paling banyak terjadi di daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi seperti Bali dan Kalimantan Timur.

Mengenali daerah-daerah rawan DBD dapat membuat Anda lebih berhati-hati jika sedang menempati suatu daerah, berniat menempati suatu daerah, atau bepergian ke daerah-daerah tersebut.

Daerah Berisiko Tinggi DBD-Alodokter

Daerah Rawan DBD di Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara dengan Angka Kejadian/Incidence Rate (IR) DBD cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data IR DBD per propinsi milik Kementerian Kesehatan tahun 2016, berikut adalah tiga propinsi dengan angka kesakitan tertinggi: Bali, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta. Sementara propinsi dengan angka kejadian terendah tahun 2016 adalah: Papua Barat, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Jumlah kasus kematian akibat DBD di seluruh Indonesia pada tahun 2016 mencapai 1585 kasus dengan kasus kematian tertinggi terdapat pada propinsi Jawa Timur.

Jika Anda tinggal atau berniat bepergian ke area ini, dianjurkan lebih berhati-hati dalam melindungi diri dari gigitan nyamuk. Beberapa daerah, seperti Maluku memiliki angka kematian yang tinggi walau angka kesakitannya paling rendah di antara propinsi-propinsi lain. Dari seluruh kasus DBD yang terjadi di Maluku, sebanyak 6 persen berujung pada kematian.

Angka kematian akibat DBD pada tiap daerah tentunya berbeda-beda. Namun secara keseluruhan, tingkat kematian (Case Fatility Rate/CFR) akibat DBD di Indonesia telah jauh menurun sejak awal kasus DBD merebak di Indonesia. Sebagian dari hal ini disebabkan karena membaiknya penanganan medis, sarana kesehatan yang semakin memadai, dan meningkatnya kewaspadaan masyarakat.

Faktor Penyebab Endemi

Jumlah kasus penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini cenderung tinggi di tempat-tempat dengan kondisi yang didominasi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

Faktor lingkungan

Populasi nyamuk umumnya meningkat pada musim hujan. Curah hujan tinggi merupakan habitat terbaik nyamuk pembawa DBD untuk berkembang biak. Namun di Indonesia, perkembangbiakan nyamuk terjadi hampir sepanjang tahun. Hal ini dikarenakan perilaku warga yang cenderung kurang menjaga kebersihan tempat tinggalnya, seperti membiarkan tumpukan barang bekas, sehingga menjadi sarang nyamuk untuk berkembang biak. Selain itu, di seluruh Indonesia telah berkembang empat tipe virus dengue yang terus bersirkulasi sepanjang tahun.

Faktor sosial

Data Kementerian Kesehatan mengungkap bahwa kasus DBD paling banyak terjadi di kota-kota dengan kepadatan penduduk tinggi seperti di Pulau Jawa. Kepadatan ini diperburuk dengan infrastruktur yang kurang memadai seperti sarana penampungan dan pembuangan sampah, serta penampungan air bersih.

Di samping itu, perilaku warga menampung air dalam bak-bak penampungan tanpa menjaga kebersihannya menjadikan wadah-wadah ini menjadi lokasi ideal bagi jentik-jentik untuk berkembang biak. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan nyamuk dapat berkembang biak sepanjang tahun.

Faktor sarana kesehatan

Keberadaan alat fogging atau pengasapan tidak disertai dengan biaya pemeliharaan dan perbaikan sehingga penggunaannya tidak maksimal. Selain itu, dikhawatirkan juga berkembangnya resistensi terhadap insektisida yang digunakan untuk pengasapan.

Mengenali faktor-faktor penyebab meningkatnya kasus DBD sekaligus area-area yang berisiko tinggi dapat membuat Anda menjadi lebih waspada terhadap penyakit ini. Kini untuk mempermudah pemantauan jentik nyamuk guna menunjang pengendalian penyakit DBD, terdapat aplikasi yang dapat Anda gunakan yaitu Pokentik. Aplikasi ini dapat membantu memberantas jentik nyamuk.

Melakukan tindakan pencegahan, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari diri dari gigitan nyamuk, sangat bermanfaat dalam mengurangi risiko terjangkit DBD.