Karena beriklim tropis dan memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, daerah rawan DBD cukup banyak tersebar di seluruh Indonesia. Agar Anda bisa lebih waspada terhadap infeksi virus yang dibawa melalui gigitan nyamuk ini, yuk, kenali daerah-daerah yang rawan DBD.

Menghindari DBD sangat penting bagi Anda dan keluarga, karena penyakit ini bisa berbahaya dan berakibat fatal. Mengenali daerah rawan DBD dapat membuat Anda lebih berhati-hati jika sedang atau berniat menempati daerah tersebut, atau akan bepergian ke sana.

Waspadai Daerah Rawan DBD Ini - Alodokter

Daerah Rawan DBD di Indonesia

Indonesia termasuk ke dalam negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Pasifik. Berdasarkan data yang dipublikasi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2017, berikut adalah tiga provinsi dengan angka kesakitan DBD tertinggi:

  • Bali
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Barat

Sementara itu, tiga provinsi dengan angka kesakitan terendah adalah:

  • Maluku Utara
  • Nusa Tenggara Timur
  • Maluku

Jumlah kasus kematian akibat DBD di seluruh Indonesia pada tahun 2017 mencapai 493 orang, dengan angka kematian tertinggi di Gorontalo dan Sulawesi Utara. Namun, secara keseluruhan, angka kesakitan dan angka kematian akibat DBD di Indonesia telah jauh menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

Sebagian dari hal ini tak terlepas dari meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan yang baik, sarana kesehatan yang semakin memadai, dan meningkatnya kewaspadaan masyarakat.

Faktor Penyebab Daerah Rawan DBD

Rawan atau tidaknya DBD dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ada faktor yang bisa dikendalikan dan ada yang tidak. Berikut adalah penjelasannya:

Faktor lingkungan

Populasi nyamuk Aedes aegypti umumnya meningkat pada musim hujan. Curah hujan tinggi merupakan kondisi terbaik bagi nyamuk pembawa virus Dengue untuk berkembang biak. Meski begitu, di Indonesia perkembangbiakan nyamuk terjadi hampir di sepanjang tahun.

Salah satu faktor utamanya adalah karena lingkungan yang mendukung nyamuk untuk berkembang biak, seperti banyaknya saluran air tergenang, tumpukan barang bekas, dan ketidakrutinan warga untuk menguras bak mandi atau tempat-tempat penampungan air.

Faktor sosial

Kemenkes mengungkap bahwa kasus DBD paling banyak terjadi di kota-kota dengan kepadatan penduduk tinggi, seperti di Pulau Jawa. Kepadatan ini diperburuk dengan infrastruktur yang kurang memadai, seperti sarana penampungan dan pembuangan sampah, serta penampungan air bersih.

Di samping itu, perilaku warga menampung air dalam bak-bak penampungan tanpa menjaga kebersihannya menjadikan wadah-wadah ini lokasi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Pemahaman masyarakat yang masih terbatas mengenai pentingnya pemberantasan sarang nyamuk juga turut menjadi faktor yang menyebabkan meningkatnya kasus di daerah-daerah rawan DBD.

Dengan mengenali daerah rawan DBD dan berbagai faktor penyebabnya diharapkan bisa membuat Anda menjadi lebih waspada terhadap penyakit ini. Anda juga bisa mencegah DBD dengan ikut melakukan program pemerintah, yaitu Gerakan 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik.

Jika Anda dan keluarga berada di daerah rawan DBD dan mengalami gejala DBD, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, segera periksakan diri ke dokter agar bisa ditangani sedini mungkin untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.