Istilah diabetes tipe 3 sering menimbulkan kebingungan karena banyak dibahas di media sosial. Sekilas, istilah ini terdengar seperti jenis diabetes yang baru. Padahal, hingga saat ini diabetes tipe 3 bukanlah diagnosis resmi dalam dunia medis.

Istilah diabetes tipe 3 sebenarnya digunakan untuk menggambarkan penyakit Alzheimer yang diduga berkaitan dengan diabetes yang tidak terkontrol, khususnya diabetes tipe 2.

Diabetes Tipe 3 dan Fakta Medisnya yang Penting Dipahami - Alodokter

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat memengaruhi kerja insulin di otak. Gangguan inilah yang diduga berperan dalam penurunan fungsi kognitif dan meningkatkan risiko demensia Alzheimer.

Jadi, ketika orang menyebut “diabetes tipe 3”, yang dimaksud bukanlah jenis diabetes baru, melainkan kondisi demensia Alzheimer yang berkaitan dengan gangguan metabolisme akibat diabetes.

Mengenal Diabetes Tipe 3 dan Asal Muasal Istilahnya

Secara medis, jenis diabetes yang diakui saat ini meliputi diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes gestasional, serta beberapa jenis diabetes spesifik lain yang lebih jarang terjadi, misalnya akibat kelainan genetik atau penyakit tertentu.

Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa “diabetes tipe 3” hanyalah istilah populer dan bukan klasifikasi resmi dalam dunia kedokteran. Fokus utama tetap pada pengendalian diabetes, terutama diabetes tipe 2, guna membantu menurunkan risiko berbagai komplikasi, termasuk gangguan fungsi otak di kemudian hari.

Istilah “diabetes tipe 3” digunakan dalam beberapa penelitian untuk menggambarkan kondisi resistensi insulin di otak. Insulin tidak hanya berperan dalam mengatur kadar gula darah, tetapi juga membantu fungsi sel-sel otak, termasuk proses belajar dan mengingat. Ketika sel otak menjadi kurang sensitif terhadap insulin, fungsi kognitif dapat terganggu.

Karena itulah, sejumlah ilmuwan mengaitkan gangguan metabolisme insulin di otak dengan perkembangan penyakit Alzheimer.

Pada penderita diabetes tipe 2, risiko mengalami penurunan fungsi kognitif dan demensia memang diketahui lebih tinggi dibandingkan orang tanpa diabetes. Hubungan inilah yang kemudian memunculkan istilah diabetes tipe 3 di kalangan peneliti.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa hingga saat ini diabetes tipe 3 bukanlah diagnosis medis yang berdiri sendiri. Dalam praktik klinis, kondisi yang dibahas tetap dikategorikan sebagai penyakit Alzheimer, bukan sebagai jenis diabetes baru.

Dengan memahami konteks sebenarnya, setiap orang diharapkan tidak mudah panik ketika mendengar istilah diabetes tipe 3. Fokus utama tetap pada pencegahan dan pengelolaan diabetes secara menyeluruh, sekaligus menjaga kesehatan otak melalui gaya hidup sehat sejak dini.

Alasan Mengapa Diabetes Bisa Berkaitan dengan Kesehatan Otak

Hubungan antara diabetes dan gangguan otak tidak muncul begitu saja. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah kecil di otak. Kerusakan ini berpotensi mengganggu suplai oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan sel-sel otak untuk berfungsi optimal.

Selain itu, resistensi insulin diduga juga dapat terjadi di jaringan otak. Padahal, insulin berperan penting dalam membantu komunikasi antar sel saraf serta proses pembentukan memori. Ketika respons otak terhadap insulin menurun, fungsi kognitif pun bisa ikut terdampak.

Inilah yang membuat sejumlah peneliti mengaitkan gangguan metabolisme gula dengan peningkatan risiko demensia, termasuk penyakit Alzheimer.

Beberapa kelompok diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kognitif, antara lain:

  • Penderita diabetes tipe 2 yang tidak terkontrol
  • Orang dengan obesitas
  • Orang dengan tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi
  • Lansia dengan riwayat gangguan metabolik

Namun, memiliki diabetes bukan berarti pasti akan mengalami penyakit Alzheimer. Risiko ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk gaya hidup, faktor genetik, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Langkah untuk Menyikapi Penyakit “Diabetes Tipe 3”

Penting untuk ditegaskan bahwa diabetes tipe 3 bukanlah nama lain dari demensia atau penyakit Alzheimer. Istilah ini hanya digunakan dalam konteks penelitian untuk menjelaskan kemungkinan mekanisme biologis yang menghubungkan diabetes dengan gangguan kognitif.

Dalam praktik medis sehari-hari, dokter tetap mendiagnosis pasien berdasarkan kondisi yang jelas, seperti diabetes tipe 1, tipe 2, atau penyakit Alzheimer. Tidak ada pemeriksaan khusus atau kriteria diagnosis resmi untuk “diabetes tipe 3”.

Karena hingga saat ini belum ada diagnosis resmi untuk diabetes tipe 3, langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah mengendalikan berbagai faktor risiko yang sudah terbukti berpengaruh terhadap kesehatan metabolik dan fungsi otak.

Caranya meliputi menjaga kadar gula darah tetap stabil, menerapkan pola makan seimbang yang kaya nutrisi, serta rutin berolahraga agar sensitivitas insulin tetap terjaga. Berbagai upaya tersebut tidak hanya bermanfaat dalam mengelola diabetes, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada gangguan memori atau perubahan fungsi otak, jangan ragu konsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai. Anda bisa menggunakan fitur Chat Bersama Dokter di ALODOKTER untuk mendapatkan jawaban yang akurat.