Donor darah saat puasa sering menimbulkan pertanyaan, terutama soal keamanannya ketika tubuh sedang menyesuaikan diri dengan perubahan jadwal makan dan minum. Sebagian orang khawatir akan merasa lemas, pusing, atau bahkan tidak kuat melanjutkan puasa setelah donor darah.

Saat puasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan selama lebih dari 12 jam. Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa donor darah saat puasa bisa membuat tubuh semakin lemah atau berisiko dehidrasi. Lalu, apakah donor darah saat puasa boleh dilakukan?

Donor Darah Saat Puasa, Amankah? - Alodokter

Donor Darah Saat Puasa dan Penjelasannya

Donor darah saat puasa pada dasarnya aman dilakukan oleh orang yang sehat. Tubuh akan mengganti volume darah yang diambil secara bertahap dalam beberapa hari. Selama kondisi fisik baik dan syarat medis terpenuhi, Anda tetap bisa berdonor tanpa mengganggu ibadah puasa.

Beberapa syarat umum yang perlu dipenuhi antara lain:

  • Berat badan minimal 50 kg
  • Kadar hemoglobin mencukupi, yaitu minimal 12,5 g/dL untuk wanita dan 13,0 g/dL untuk pria
  • Tekanan darah dan denyut nadi dalam batas normal
  • Tidak sedang sakit, kurang tidur, atau kelelahan berat

Bila Anda memiliki penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan darah, sebaiknya pertimbangkan kondisi Anda secara menyeluruh sebelum memutuskan donor darah saat puasa.

Perlu dipahami, saat berpuasa tubuh memang lebih rentan mengalami kekurangan cairan. Jika donor dilakukan dalam kondisi belum cukup minum atau tubuh sedang tidak fit, risiko pusing, lemas, atau penurunan tekanan darah bisa meningkat. Namun, dengan pemilihan waktu yang tepat dan persiapan yang baik, donor darah saat puasa tetap dapat dilakukan dengan aman dan nyaman.

Donor Darah Saat Puasa dan Tips Aman Melakukannya

Agar donor darah saat puasa berjalan lancar dan tubuh tetap bugar, Anda bisa mengikuti beberapa langkah berikut:

  • Pilih waktu donor setelah berbuka atau mendekati waktu berbuka, bukan di pagi atau siang hari saat tubuh belum mendapat asupan cairan.
  • Penuhi kebutuhan cairan saat sahur dan berbuka. Usahakan minum sekitar 8 gelas air putih dalam sehari, dibagi antara waktu berbuka hingga sahur.
  • Konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang mengandung zat besi, seperti daging tanpa lemak, telur, sayuran hijau, dan kacang-kacangan, supaya kadar hemoglobin tetap terjaga.
  • Istirahat yang cukup sebelum dan sesudah donor. Hindari aktivitas berat agar tubuh punya waktu untuk menyesuaikan diri.

Keluhan setelah donor darah umumnya ringan, misalnya pusing, lemas, atau memar kecil di area bekas suntikan. Selama syarat medis terpenuhi dan persiapan dilakukan dengan baik, komplikasi serius pada donor darah saat puasa sangat jarang terjadi.

Namun, bila Anda sedang tidak fit, baru pulih dari sakit, atau memiliki riwayat tekanan darah rendah, sebaiknya tunda dulu rencana donor. Tidak perlu memaksakan diri, ya, karena kondisi tubuh yang prima tetap menjadi prioritas.

Kapan Harus Waspada Setelah Donor Darah Saat Puasa?

Meskipun umumnya aman, Anda tetap perlu waspada setelah melakukan donor darah saat puasa. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul keluhan berikut:

  • Pingsan atau tidak sadarkan diri
  • Demam tinggi
  • Perdarahan yang tidak berhenti pada bekas suntikan

Selain itu, bila setelah donor darah saat puasa Anda merasa keluhan tidak membaik atau muncul gejala yang mengganggu, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk memastikan kondisi Anda baik-baik saja. 

Jika Anda berencana melakukan donor darah saat puasa tetapi masih ragu, Anda bisa mengonsultasikannya terlebih dahulu secara online melalui fitur chat di aplikasi ALODOKTER. Nantinya, dokter akan memberikan saran terbaik dan memastikan keamanannya bagi Anda.