Bayi yang lahir sebelum waktunya atau prematur banyak mengalami tantangan pada awal kehidupannya. Tak hanya itu, ada pula risiko gangguan tumbuh kembang bayi prematur yang harus diwaspadai.

Kelahiran prematur merupakan kelahiran yang terjadi sebelum waktunya. Dengan kata lain, bayi prematur lahir sebelum minggu ke-37 usia kehamilan. Bayi prematur, terutama yang lahir sangat dini, sangat berisiko mengalami masalah kesehatan. Namun ternyata, kini diketahui hampir seluruh bayi prematur termasuk yang lahir pada minggu ke-34 hingga ke-36 sama-sama berisiko.

Gangguan Tumbuh Kembang Bayi Prematur yang Sering Terjadi - Alodokter

Menghitung Usia Bayi Prematur

Laju tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, baik pada bayi yang lahir normal ataupun prematur. Hanya saja, ada  tolak ukur tumbuh kembang normal yang sebaiknya diketahui orang tua. Untuk tumbuh kembang bayi prematur, sebagian besar dokter anak memberikan saran untuk melakukan tolak ukur dengan penyesuaian usia.

Penyesuaian usia dilakukan dengan menghitung jarak antara usia kelahiran dengan  hari perkiraan lahir (HPL) yang sebenarnya, kemudian kurangi umur bayi dengan angka yang didapat. Misalnya, bayi usia empat bulan yang lahir 8 minggu lebih awal, maka tumbuh kembangnya harus disesuaikan dengan usia 4 bulan dikurangi 8 minggu. Maka akan diketahui umur bayi yang sebenarnya adalah 2 bulan. Sehingga tolak ukur perkembangan bayi yang kita ikuti adalah bayi usia 2 bulan. Jika bayi prematur itu berusia 12 bulan, maka tumbuh kembangnya disesuaikan dengan usia 12 bulan dikurangi 8 minggu.

Gangguan Tumbuh Kembang pada Bayi Prematur

Ada beberapa risiko gangguan tumbuh kembang bayi prematur jangka panjang yang harus diwaspadai, antara lain:

  • Pendengaran dan penglihatan
    Diketahui, sebagian bayi prematur yang lahir dengan berat kurang dari 1,5 kg memiliki gangguan pendengaran akibat masalah di telinga atau otak. Ada pula risiko gangguan tumbuh kembang bayi prematur yang lebih tinggi, yaitu hilangnya daya dengar.
    Bayi prematur juga memiliki risiko retinopati prematuritas, yaitu kondisi yang menyebabkan pembuluh darah membengkak dan menimbulkan kelainan pada lapisan saraf di retina mata. Hal ini dapat menyebabkan lepasnya retina dari posisi normal yang jika tidak ditangani dengan tepat, dapat menyebabkan kebutaan.
  • Kemampuan bahasa
    Banyak studi yang menemukan adanya gangguan perkembangan bahasa pada bayi prematur dengan atau tanpa berat badan lahir rendah dibandingkan dengan bayi yang terlahir normal. Sebagian besar bayi prematur mengalami masalah bahasa selama beberapa tahun awal sejak kelahiran, termasuk pemahaman kalimat, mengekspresikan diri melalui bahasa, mengolah kata, artikulasi (pengucapan), dan lain-lain.
    Meski demikian, bukan berarti semua bayi prematur pasti akan mengalami gangguan tumbuh kembang dalam kemampuan berbahasa dan berbicara. Langkah penting yang dapat diantisipasi adalah memonitor kemajuan tumbuh kembangnya dan berkonsultasi ke dokter anak untuk penanganan lebih lanjut.
  • Psikomotorik dan perilaku
    Penelitian di sekolah membandingkan anak usia 7-8 tahun yang lahir sebelum usia kandungan 32 minggu dengan anak seusia yang lahir normal. Hasilnya menunjukkan anak-anak yang terlahir prematur lebih banyak mengalami gangguan motorik, meski tingkat intelegensia mereka normal.
    Selain itu, bayi yang lahir prematur memiliki kecenderungan berperilaku hiperaktif, lebih impulsif, perhatiannya mudah teralihkan, kurang terorganisir, dan kurang tekun. Demikian juga, risiko anak prematur mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) lebih tinggi dibanding anak yang lahir normal.
  • Kemampuan kognitif
    Studi mengindikasikan bahwa anak yang lahir prematur, memiliki risiko mengalami gangguan belajar saat usia sekolah dasar. Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain gangguan menggunakan bahasa sebagai cara berekspresi, kesulitan memusatkan perhatian, dan juga kelemahan pada kecerdasan visual motorik serta visual spasial.
  • Perkembangan emosional
    Berdasarkan sebuah penelitian, remaja yang lahir pada usia kandungan sebelum 29 minggu memiliki lebih banyak masalah emosional dengan orang tua, guru, maupun teman-teman sebayanya. Anak yang terlahir prematur juga berisiko lebih tinggi untuk menjadi sulit beradaptasi dengan lingkungan, dan menghadapi stres.

Untuk meminimalisir risiko gangguan tumbuh kembang bayi prematur dan memaksimalkan tumbuh kembangnya, lakukan pemeriksaan secara teratur ke dokter spesialis anak.