Grey divorce adalah istilah untuk perceraian yang terjadi pada pasangan berusia 50 tahun ke atas. Fenomena ini semakin banyak terjadi di masyarakat, sejalan dengan perubahan cara pandang individu terhadap pernikahan dan kebahagiaan di usia lanjut. 

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan dan tujuan hidup seseorang ikut berubah. Tak jarang, karena keinginan untuk menjalani hidup yang lebih sesuai dengan kebutuhan pribadi, banyak pasangan yang telah lama menikah dan melewati banyak fase kehidupan bersama memilih untuk bercerai sebagai langkah untuk memulai kehidupan baru. Nah, fenomena ini kerap disebut sebagai grey divorce.

Grey Divorce, Perceraian pada Pasangan di Usia Senja - Alodokter

Fenomena ini memiliki dinamika yang berbeda dari perceraian yang terjadi pada pasangan di usia muda, baik dari sisi penyebab, dampak, maupun cara beradaptasinya.

Penyebab Grey Divorce 

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu pasangan paruh baya memilih untuk bercerai, berikut beberapa di antaranya:

1. Perubahan prioritas hidup

Memasuki masa pensiun atau setelah anak-anak dewasa dan hidup mandiri, pasangan sering kali menyadari bahwa cita-cita, minat, atau tujuan hidup mereka sudah tidak sejalan. Situasi ini biasanya menyebabkan kedua pihak merasa kurang terpenuhi secara emosional dalam hubungan, sehingga memicu keinginan untuk mencari kebahagiaan dengan arah hidup yang berbeda. 

Nah, masa transisi ini menjadi momen refleksi besar tentang sisa hidup yang ingin dijalani sehingga keputusan untuk berpisah seringkali menjadi pilihan yang dipertimbangkan oleh para pasangan grey divorce.

2. Masalah kesehatan dan ketergantungan

Seiring pertambahan usia, masalah kesehatan, seperti penyakit kronis, penurunan kemampuan fisik, atau kebutuhan perawatan khusus mulai muncul. 

Dalam beberapa kasus, salah satu pasangan mungkin merasa terbebani atau kelelahan karena harus menjadi caregiver. Ketegangan emosional akibat perubahan dinamika peran dalam pernikahan ini kemudian dapat memicu konflik berkepanjangan, rasa frustrasi, dan akhirnya menjadi penyebab berakhirnya hubungan.

3. Kurangnya komunikasi 

Rutinitas harian selama bertahun-tahun sering membuat pasangan kehilangan momen untuk berbagi perasaan, harapan, dan keintiman. Lambat laun, komunikasi antar keduanya pun menjadi semakin jarang, sehingga muncul perasaan “tinggal serumah tapi seperti asing.” 

Nah, kurangnya keterbukaan dan saling pengertian ini membuat hubungan mudah renggang dan menumpuk masalah yang tidak pernah terselesaikan.

4. Perselingkuhan 

Di era digital, peluang untuk terhubung dengan orang baru semakin terbuka, bahkan di usia lanjut. Beberapa pasangan usia 50 tahun ke atas bisa saja terlibat dalam hubungan di luar pernikahan, baik secara fisik maupun emosional, yang memperparah masalah dalam rumah tangga. 

Ketidaksetiaan ini sering kali menjadi “puncak” dari masalah lama yang tidak terselesaikan, dan memicu keputusan untuk berpisah.

5. Tekanan ekonomi atau finansial

Memasuki usia pensiun atau menghadapi biaya hidup yang meningkat, pasangan bisa merasa terbebani oleh masalah keuangan. Selain itu, perbedaan cara mengelola uang atau juga dapat memicu konflik serius dan menjadi penyebab pasangan grey divorce memilih untuk berpisah.

6. Menopause

Menopause juga bisa menjadi salah satu alasan seorang wanita diceraikan oleh pasangannya. Hal ini karena masih adanya stigma bahwa wanita yang sudah menopause tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan seksual pasangan, padahal anggapan ini tidak benar. 

Meski perubahan hormon saat menopause dapat memengaruhi libido dan menyebabkan vagina kering, wanita yang mengalami menopause tetap memiliki hasrat seksual dan bisa berhubungan intim dengan melakukan foreplay yang cukup dan bantuan pelumas.

Dampak Grey Divorce terhadap Kesehatan dan Kehidupan

Perceraian di usia lanjut membawa tantangan tersendiri, baik bagi kesehatan maupun kehidupan. Berikut ini adalah beberapa dampak yang bisa terjadi setelah grey divorce:

1. Stres dan depresi

Perceraian adalah peristiwa besar yang dapat sangat menguras emosi, apalagi setelah puluhan tahun bersama. Rasa kehilangan, kesepian, penyesalan, atau kekhawatiran akan masa depan bahkan bisa memunculkan stres berkepanjangan. Pada beberapa orang, kesedihan mendalam ini berpotensi berkembang menjadi depresi, terutama jika tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai.

2. Penurunan kondisi fisik

Jika tidak ditangani, stres yang muncul akibat perceraian juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh pasangan grey divorce. Pasalnya, stres dapat menyebabkan sistem imun menurun sehingga membuat tubuh pasangan grey divorce lebih rentan terhadap penyakit. 

Stres juga dapat menyebabkan pasangan grey divorce kerap mengalami masalah tidur, seperti insomnia atau sulit tidur nyenyak, serta memperburuk penyakit kronis yang sudah ada, misalnya tekanan darah tinggi, diabetes, atau penyakit jantung sehingga perlu diwaspadai dengan pemantauan rutin.

3. Isolasi sosial

Setelah sekian lama hidup sebagai pasangan, kembali hidup sendiri bisa menimbulkan rasa sepi dan hampa. Tak jarang, individu yang mengalami grey divorce juga menarik diri dari lingkungan sosial, seperti keluarga besar, teman, atau komunitas. 

Isolasi sosial ini bisa memperparah perasaan kesepian, bahkan memengaruhi kepercayaan diri dan motivasi individu yang mengalami grey divorce untuk bersosialisasi.

4. Perubahan kondisi keuangan

Perceraian di usia lanjut sering kali berarti harus membagi harta bersama, mengatur ulang dana pensiun, dan menyesuaikan gaya hidup dengan penghasilan yang mungkin berkurang. 

Nah, karena itu, banyak individu yang mengalami grey divorce merasa cemas tentang kemampuan mencukupi kebutuhan pokok dan mempertahankan standar hidup yang selama ini dijalani. Penyesuaian keuangan ini tidak jarang menjadi sumber beban pikiran yang signifikan.

5. Hubungan dengan anak retak

Meski anak-anak sudah dewasa, perceraian orang tua di usia lanjut tetap bisa berdampak secara emosional. Anak mungkin merasa terjebak di antara kedua orang tuanya, kesulitan membagi waktu, atau merasa bersalah atas perpisahan tersebut. Suasana keluarga yang canggung, perubahan rutinitas, dan dinamika baru tersebut kemudian dapat memengaruhi keharmonisan hubungan antara orang tua dan anak.

Cara Menyesuaikan Diri Setelah Grey Divorce

Beradaptasi usai grey divorce bukan proses instan. Butuh waktu, dukungan, dan langkah proaktif agar Anda tetap bisa menjalani hidup yang bermakna. Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan:

1. Bercerita ke orang terdekat

Jangan memendam masalah sendiri. Cobalah bagikan perasaan dan pengalaman Anda kepada keluarga, teman, atau kerabat yang dapat dipercaya. 

Dukungan emosional dari orang-orang terdekat sangat penting untuk mengurangi rasa kesepian, memperkuat rasa aman, dan membantu Anda merasa tidak sendirian dalam menghadapi perubahan besar setelah grey divorce.

2. Cari bantuan profesional

Tidak semua orang mampu menanggung beban emosional akibat perceraian sendiri. Bila Anda merasa kesulitan, jangan ragu mencari bantuan dari psikolog, konselor, atau terapis. Pasalnya, pendampingan profesional dapat membantu Anda memproses emosi, menemukan cara mengelola stres, dan memberi perspektif baru untuk menjalani hidup.

3. Tetap aktif secara sosial

Cobalah untuk tetap terlibat dalam kegiatan komunitas, misalnya komunitas yang memiliki hobi sama dengan Anda, atau menjadi sukarelawan di organisasi sosial. Aktivitas sosial dapat memperluas jaringan pertemanan, memberikan semangat baru, sekaligus mengisi waktu luang agar tidak terjebak dalam perasaan sepi atau kehilangan.

4. Bangun rutinitas baru

Manfaatkan waktu dan ruang yang kini Anda miliki untuk memulai kegiatan baru. Anda bisa mencoba olahraga rutin, belajar keterampilan atau pengetahuan baru, ataupun menekuni hobi yang selama ini belum sempat dijalani. 

Rutinitas baru bisa membantu mengalihkan energi negatif, meningkatkan rasa percaya diri, dan memberikan tujuan hidup yang positif.

5. Jaga kesehatan fisik

Jangan abaikan kesehatan tubuh di tengah perubahan emosi. Pastikan Anda tetap makan sehat, tidur cukup, minum air yang cukup, dan berolahraga ringan secara rutin. Jika memiliki penyakit kronis, lakukan pemeriksaan medis teratur dan tetap ikuti anjuran dokter agar kondisi tubuh tetap stabil.

Setiap orang memiliki waktu dan cara yang berbeda dalam beradaptasi. Yang terpenting, jangan memaksakan diri dan tetap berikan ruang bagi diri sendiri untuk pulih secara perlahan.

Namun, jika Anda merasa kesulitan dalam mengendalikan stres, mengalami gejala depresi berat, atau muncul pikiran untuk melukai diri sendiri setelah grey divorce, segera cari bantuan tenaga ahli. 

Anda dapat memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan saran medis dan psikologis secara langsung dari tenaga profesional.