Membedong bayi dianggap dapat membantunya merasa nyaman dan tidur lebih nyenyak. Namun, hati-hati! Jika cara membedongnya salah, justru bisa berisiko membahayakan bayi, lho.

Bedong bayi adalah teknik membalut tubuh bayi, terutama bayi baru lahir, dengan menggunakan selimut atau kain bedong (lampin). Konon, teknik seperti ini dapat membuat bayi merasa nyaman, hangat, dan terlindungi seperti saat berada di dalam rahim ibu atau sedang dipeluk erat. Dengan demikian, Si Kecil menjadi lebih tenang dan tidurnya lebih nyenyak.

Bedong Bayi yang Salah Bisa Berbahaya bagi Si Kecil - Alodokter

Banyak orang tua memilih untuk membedong bayi karena dianggap dapat memberikan beberapa manfaat, seperti:

  • Menenangkan bayi ketika mereka rewel dan sulit tidur.
  • Menjaga agar bayi tidak mudah terbangun dari tidurnya.
  • Membuat bayi tidur lebih nyaman tanpa gangguan dan orang tua juga memiliki waktu untuk istirahat.

Risiko Bedong Bayi yang Perlu Diwaspadai

Di samping manfaat, tradisi bedong bayi juga memiliki sejumlah risiko, terutama jika cara bedongnya salah. Bedong yang salah dapat mengganggu pergerakan dan pertumbuhan tubuh Si Kecil di kemudian hari.

Berikut ini adalah beberapa bahaya akibat teknik bedong bayi yang salah:

Kelainan bentuk panggul

Perlu diketahui, membedong agar kaki bayi tidak bengkok adalah cara yang keliru dan justru bayi berisiko mengalami masalah panggul. Jika bedong terlalu ketat dengan posisi kaki dirapatkan dan diluruskan, ada kemungkinan bayi berisiko lebih tinggi untuk mengalami displasia panggul.

Displasia panggul adalah kondisi ketika posisi panggul bergeser dan tidak sejajar satu sama lain. Kondisi ini membuat posisi kedua kaki bayi berbeda satu sama lain, sehingga bisa menyebabkan pincang saat berjalan nanti.

Ketika di dalam rahim, kaki bayi berada dalam posisi bengkok dan menyilang satu sama lain. Bila Bunda memaksa kaki bayi untuk lurus, maka sendi-sendinya dapat mengalami pergeseran dan merusak tulang rawannya.

Oleh sebab itu, saat membedong buah hati, pastikan Bunda memberikan ruang gerak pada kakinya agar panggul bayi bisa bergerak bebas, seperti menggerakkan kaki naik dan turun.

Sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS)

Sudden infant death syndrome (SIDS) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi yang berusia di bawah satu tahun dan terlihat sehat, tiba-tiba meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya. SIDS sering terjadi saat bayi sedang tidur.

Bayi berisiko mengalami SIDS apabila saat dibedong dia mengubah posisi menjadi menyamping atau telungkup. SIDS juga bisa terjadi bila bedong bayi terlalu longgar, sehingga kain berisiko bergeser dan menutupi mulut dan hidung bayi. Hal ini bisa membuat bayi sulit bernapas. Selain itu, bedong bayi yang terlalu ketat dapat membuat Si Kecil kepanasan dan meningkatkan risiko SIDS.

Kapan Sebaiknya Bedong Bayi Dilepas?

Sebagian bayi tidak menikmati sensasi tubuh terbungkus. Si Kecil biasanya akan memberi isyarat saat dia merasa tidak ingin dibedong, seperti rewel atau memberontak saat dibedong.

Bunda juga dapat mengetahui bayi mulai merasa tidak nyaman dibedong saat muncul tanda-tanda kepanasan, seperti berkeringat, rambutnya basah, ruam kemerahan di pipi, dan napasnya tampak lebih cepat atau terengah-engah.

Bunda juga dianjurkan untuk tidak membedong bayi saat menyusui agar tangan bayi bisa bergerak bebas untuk menyentuh dan mengeksplorasi. Selain itu, Bunda tidak disarankan untuk membedong bayi berusia 2-3 bulan. Hal ini karena pada usia tersebut, bayi mulai aktif bergerak, baik menyamping, berguling, atau bahkan telungkup saat tidur.

Tips Membedong yang Aman

Untuk menghindari efek berbahaya dari bedong bayi, cobalah untuk mengikuti cara aman membedong bayi berikut ini:

  • Bentangkan kain lampin, lalu lipat sedikit pada salah satu sudutnya. Letakkan bayi di atas kain lampin dengan posisi kepala di tepi sudut yang dilipat. Sambil memegang bayimu, bawalah salah satu sisi kain ke tubuhnya, boleh sisi kanan atau kiri terlebih dahulu, lalu selipkan di bawah tubuhnya.
  • Tutup bagian kaki bayi dengan melipat sisi bawah kain lampin ke atas. Berikan sedikit ruang agar kakinya bisa bergerak.
  • Bawalah sisi lain kain ke tubuh bayi, lalu selipkan hingga menyisakan leher dan kepalanya yang tidak terbungkus kain.
  • Setelah bayi dibedong, pastikan untuk meletakkan bayi dalam posisi telentang. Selain itu, hindari penggunaan bantal hingga usia bayi mencapai dua

Sebagian bayi ada yang lebih menyukai lengannya terbebas dari bedong. Jika bayimu lebih menyukai posisi seperti ini, cukup ikuti petunjuk bedong bayi di atas, tapi selipkan tiap sudut selimut di bawah ketiaknya, bukan di atas bahunya, agar tangannya terbebas dari lampin.

Guna mencegah risiko yang tidak diinginkan, pastikan bedong bayi dilakukan dengan cara yang benar ya, Bunda. Sebaiknya, lakukan latihan terlebih dahulu sampai Bunda dapat membedong buah hati dengan benar. Jika masih ragu dengan hasil bedongan, Bunda bisa berkonsultasi ke dokter atau bidan dan minta mereka untuk mengajari cara bedong bayi yang benar.